Refleksi Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari (1)

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Ahli Sunnah wal Jama’ah atau disingkat Aswaja selalu saja menjadi bahasan menarik yang tak habis diulas. Dari berbagai segi, Aswaja sebagai sebuah konsep keberagamaan (ideologi) memiliki hal yang unik daripada yang lainnya. Sebagai gagasan pemikiran, Aswaja pula menempati posisi istimewa di dalam khasanah keilmuan Islam. Ia, bersanding dengan kelompok lain, juga melahirkan banyak tokoh-tokoh penting di dalam sejarah peradaban Islam. Peradaban Islam yang dianggap sebagai zaman keemasan itu. Peradaban yang selalu saja -hingga sekarang- menjadi romantisme kita bersama.

Aswaja berada di posisi yang sangat istimewa di dalam sejarah Islam maupun di dalam geo-pemikiran Islam. Bagaimana tidak istimewa, Aswaja lahir dari sintesa pemikiran antara Jabariyah dan Muktazilah yang saling bertentangan. Secara ide, memang demikian yang ada pada banyak bahasan. Namun, dalam kaitannya dengan politik, Aswaja lahir sebagai antitesis dari hegemoni Muktazilah yang digandrungi oleh penguasa pada waktu itu.

Pada dinamika perdebatan antara fuqahâ dan kaum sufi, misalnya, Aswaja berhasil pula menempatkan diri pada posisi yang sangat baik dan strategis, di mana pada babak sejarah yang panjang nanti, Aswaja -dengan sikap populisnya- bakal menjadi manhaj yang banyak dipilih oleh orang Islam. Imam Abu Hamid Al-Ghazali menengahi perdebatan fuqahâ dan kaum sufi dengan mengatakan masing-masing kelompok membawa kebenaran. Para fuqahâ membawa kebenaran syari’at. Adapun kaum sufi membawa kebenaran hakikat. Islam memandang keduanya sebagai kebenaran yang perlu diterima. Bahkan lebih jauh daripada itu, Imam Al-Ghazali menggabungkan keduanya menjadi harmoni kebenaran yang nilainya lebih tinggi dari kebenaran masing-masing. Di mana syari’at adalah dimensi luar dari taklîf. Dan hakikat adalah nilai batin dari ibadah taklîf. Imam Al-Ghazali mampu mengharmonisasikan dua kecenderungan ini menjadi satu. Lebih jauh lagi menjadi penanda karakteristik manhaj Aswaja yang dianut oleh banyak orang Islam di dunia ini.

Kitab Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah yang ditulis oleh Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari merupakan kitab tipis yang hanya menjadi modul bagi pemahaman Aswaja warga NU. Karena hanya modul, maka pembahasan di dalamnya ditulis oleh Hadlratus Syeikh dengan sangat padat, tapi tetap renyah. Karena juga modul, kitab ini tidak bisa dikatakan sebagai referensi ilmiah Aswaja NU. Akan tetapi, menjadi pegangan wajib bagi pemula Aswaja warga NU.

Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari melalui kitabnya ini, menurut saya, memunculkan satu penanda unik dari manhaj pemikiran Islam bagi Nahdlatul Ulama. Yaitu Aswaja An-Nahdliyah atau Aswaja NU. Ini bukan aliran baru. Tapi, tipologi khas yang dimiliki oleh NU. Sebagaimana wacana Islam Nusantara. Ia bukan madzhab baru, tapi karakter keberislaman warga NU atau orang Indonesia. Aswaja NU lebih merupakan sikap standarisasi keagamaan warga NU secara umum, yang boleh jadi secara pemikiran dan dinamika intelektual bisa lebih luas dari itu. Kenapa hal ini penting? Bagi saya, perlu ada klasifikasi yang jelas di dalam strata keyakinan keberagamaan. Terlebih lagi keberagamaan yang diwakili oleh sebuah organisasi masyarakat. NU dalam hal ini mewakili masyarakat Islam mayoritas di Indonesia.

Kitab tipis namun padat ini memulai pembahasannya dengan penjelasan mengenai sunnah dan bid’ah. Suatu wacana klasik, namun masih juga tidak dianggap selesai oleh banyak orang. Selesai dalam arti pendefinisian dan pengklasifikasiannya. Tidak selesai ketika banyak orang masih latah dengan klaim sunnah bagi dirinya sendiri, dan bid’ah bagi orang lain; ketika amalan-amalan warga NU dibid’ah-bid’ahkan oleh sebagian kelompok Islam. Padahal sesungguhnya mereka tidaklah mengetahui hakikat dan esensi amalan-amalan yang mereka bid’ah-bid’ahkan. Terhadap kelompok-kelompok ini, Syeikh Muhammad Bakhit al-Hanafi menggambarkan kelompok mereka ini menjadi ujian bagi orang Islam seluruhnya, di mana mereka bagaikan anggota badan yang rusak, yang harus diamputasi. Karena jika tidak diamputasi, maka akan melukai yang lain.

Kemudian pembahasan-pembahasan selanjutnya adalah mengenai urgensi bermadzhab dan sebagainya. Mudah-mudahan tulisan ringan ini berlanjut.

Ngaji kitab Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah menjadi program ramadanan PCINU Mesir yang diadakan setiap hari Sabtu dan Selasa menjelang maghrib di sekretariat NU Mesir. Semoga istiqamah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *