Hidup yang Matinya Manusia

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Barangkali sesuatu yang dilihat manusia belum tentu adalah yang nyata real terjadi dalam hidup ini. Agaknya saya mencoba untuk bijak dengan masih menggunakan “barangkali” dalam pernyataan itu. Saya masih ingat suatu pelajaran yang amat berharga bagiku, bahwa mata manusia sesungguhnya terlampau tidak dapat melihat sesuatu secara pure. Seorang ilmuan Islam Timur Tengah mengatakan, materi itu sebetulnya hanya klise yang nampak saja, yang betul-betul “ada” adalah di baliknya. Dalam khazanah filsafat, dapat kita temukan terma metafisik yang identik penyebutannya untuk hal ini.

Kemudian, lahir orang-orang dengan pemahaman baru, membawa semangat baru, sesuatu yang mereka katakan real, realistis, namun sebetulnya pragmatis. Pada banyak hal, jikalau anda, contohnya, sedang melihat anak-anak muda mahasiwa tengah sibuk mondar mandir oleh hilir mudiknya aktivitas ilmiah kampus, anda akan menemukan sebuah jawaban motivasi mereka yang salah satunya akan dijawab; ya begini ini adanya. Mahasiswa kan mestinya juga belajar bagaimana berorganisasi dan bersosialisasi, sebagai bekal untuk masa depan di masyarakat. Ya kita harus realistislah dengan demikian adanya. Nah, kita sejenak dapat melihat dan menimbangnya. Justru bukankah realistis itu adalah sikap yang dimunculkan setelah adanya sikap idealis yang meniscayakan gambaran/konsep yang dipandang benar/ideal menurut dirinya? Konsep/gambaran itu bisa mencakup banyak hal, dari hal yang sepele seperti cara memegang suthil yang tepat dalam proses memasak, sampai hal besar seperti konsep politik kenegaraan dan kebangsaan atau peradaban yang jungkir balik.

Pragmatisme sendiri adalah aliran filsafat yang memandang “sesuatu yang benar adalah yang berfungsi”. Maka, ia hanya menganut pada akibat-akibat saja. Tidak penting sesuatu telah melewati proses objektivikasi dalam hal keilmuan. Karena pragmatisme hanya berlaku pada tugas fungsionalnya saja. Demikian barangkali apa yang didefinisikan oleh Pak William James di abad ke-19. Lagi-lagi “barangkali”? Apa mau dikata, sesuatu itu relatif tidak mutlak benar adanya.

Lalu, mereka-mereka dikatakan sebetulnya pragmatis karena tidak mengalami suatu sikap yang menurut mereka ideal yang berbeda dengan kenyataan terlebih dahulu, lalu “mengalah” untuk ikut melakukan yang ada, yang fungsional, sistemik, lalu mereka menamakan dengan realistis. Bukankah yang begitu itu tumpang tindih pendefinisian pada logika paling mendasar sebagai aktivis? Ah lagian tidak perlu repot-repot memikirkan yang demikian. Kan kuliyah hanya persoalan ijazah dan status sosial saja di depan tetangga dan calon mertua. Ngapain repot-repot….

Hidup manusia mengalami proses kematian berkali-kali sebetulnya. Pada arti yang lebih esoterik. Mestinya kematian dalam arti berpisah dari dunia ya hanya satu kali, walaupun ada banyak kasus mati suri, tapi kan tetap ia kembali lagi dari terpisahnya dengan dunia.

Kematian-kematian manusia dapat kita definisikan dalam makna esoterik itu menjadi kematian-kematian secara juz’iyat. Terjadi pada hal-hal yang ada pada manusia. Manusia dengan kekompleks-an kontruksi penciptaannya dari jism yang begitu bentuknya sampai hukum metabolisme tubuhnya sampai perkembangan naluriyah jiwanya. Kematian terjadi pada item-item itu. Dalam medis, kita temukan stroke, matinya sebagian tubuh (fungsional/fisik). Namun, yang berabe dan sarat bahaya adalah kematian jiwa (moral/spiritual). Lebih-lebih kematian jiwa untuk tidak menerima Tuhan di kesadaran terdalamnya.

Terus untungnya Tuhan Maha Bijaksana yang sanggup mutlak dapat menghidupkan yang mati. Kematian-kematian itu juga dapat diterap-contohkan pada persoalan-persoalan sosial masyarakat dewasa ini. Persoalan harganya BBM yang melunjak membuat rakyat kesusahan luar biasa, mengakibatkan barang-barang keperluan rumah tangga naik. Membuat susah pokoknya. Atas terjadinya hal ini, pemerintah keblinger tidak memiliki fondasi nasionalisme yang memadai untuk selalu berkesadaran bahwa yang utama dalam akal dan hatinya adalah rakyat, tidak peduli bagaimana cara mewujudkannya. Nasionalisme yang ambruk, moral bejat, integritas buruk, kapabilitas-kapabilitasan atau spiritualitas yang kabur disematkan kepada mereka boleh jadi hanya bermacam-macam bahasa yang sebetulnya maknanya kembali pada kata “mati” yang juz’i itu saja. Wah kan bahaya kalau “mati” itu menjadi tanda sesuatu yang tidak fungsional, adanya mereka adalah tidak adanya mereka. Hantu dong?!

Tebuireng Kairo, 7 Oktober 2016

One thought on “Hidup yang Matinya Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *