Refleksi Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari (2)

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Pengajian itu beda dengan kajian. Kalau pengajian, output kesadarannya pada tadabbur. Ia tidak terlalu mempersoalkan pada objektivitas dari suatu bahasan tema yang diusung. Yang penting adalah pengajian itu menghasilkan refleksi bahwa dirinya terdorong untuk menjadi lebih baik. Baik dalam makna universal; kebaikan yang meliputi kesadaran akan yadû’na ilâ al-khair, pada segala dimensi. Adapun kajian, outputnya adalah ilmiah-kognitif, tentang suatu bahasan. Ia seperti tafsir, harus memiliki dasar-dasar epistemologis hingga mampu mengurai tesa, antitesa, yang kemudian menghasilkan sintesa ilmiah.

Tema Ahli Sunnah wal Jama’ah melalui kitab Risalahnya Hadlratus Syeikh M. Hasyim Asy’ari terdapat simplifikasi yang penting. Bagi penulis, tema raksasa Ahli Sunnah wal Jama’ah yang merupakan tema peradaban ini oleh penganutnya perlu dikembangkan pada dimensi-dimensi lain. Khususnya adalah bagaimana Ahli Sunnah wal Jama’ah menjawab tantangan zaman; yang bersimpul pada wacana baru tentang hakikat hidup, yang juga memiliki konsuekensi pendekatan keilmuan yang berbeda-beda melalui bahan objektivitas yang berbeda-beda pula. Seperti contoh bagaimana jawaban Aswaja tentang buruh yang hidupnya menjadi organ vital industri, sebagai alat ekonomi zaman modern(?). Namun, posisi buruh dengan upahnya yang sedemikian kecil itu dianggap tidak sesuai dengan posisinya yang vital.

Simplifikasi tersebut terletak pada bagaimana Aswaja konsisten pada amanat agama yang menganjurkan pada akhlak yang mulia dan sikap waspada pada fitnah-fitnah yang akan terjadi di masyarakat dengan nama agama. Adalah kemurnian yang berusaha dijaga oleh Aswaja melalui ortodoksi ajaran. Misalnya, ketetapan bermadzhab berusaha dijaga oleh Aswaja seraya menjawab tudingan beberapa kelompok yang menyatakan bahwa tidak ada anjuran bermadzhab oleh nash al-Qur’an dan Hadits. Propaganda melepas madzhab berangkat dari kenyataan akan adanya perselisihan antar madzhab yang ada ini sebetulnya tidak menjadi alasan akan ketidakabsahan bermadzhab di dalam agama. Namun, sebetulnya konflik sesama seringkali disebabkan oleh kejumudan kaum-kaum penganut agama dan ideologi tertentu itu sendiri.

Pada isu yang lain, misalnya, bagaimana ilmu itu harus diperoleh dengan hati-hati dengan cara mengambil ilmu dari ahlinya langsung. Karena syaitan lebih pandai untuk melakukan tipudaya dengan memakai baju kecerdasan, namun hatinya adalah kebodohan dan kesombongan.

Hal lain lagi yang perlu diangkat adalah mengenai keutamaan ilmu yang oleh agama disebutkan sebagai sesuatu yang amat penting sekali. Ialah mengenai fokus Aswaja yang juga memiliki konsern pada hakikat ilmu itu sendiri. Dikatakan di dalam Hadits, yang dikutip di dalam kitab Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah; ilmu itu adalah agama itu sendiri. Kita bisa ambil contoh sederhana, adanya kewajiban agama bisa sah bila adanya ilmu tentang kewajiban itu sendiri. Dan orang terlepas dari kewajiban agama atas dasar tidak adanya ilmu atas kewajiban tersebut, dalam arti yang paling mendasar adalah ilmu dimaknai secara sederhana dengan mengetahui. Pada persoalan mendasar ini, Aswaja hadir di dalam perhatiannya yang serius.

Dan pada tema besar peradaban sekarang ini adalah apakah Aswaja sudah tidak relevan karena belum memiliki jawaban yang sesuai dengan tantangan zaman, sebagaimana dituduhkan oleh beberapa kalangan intelektual progresif, atau justru masih relevan, karena masih mempertahankan sesuatu yang bersifat pasti dan langgeng -walaupun dalam tema yang remeh- di dalam sejarah manusia, yaitu mengenai pemahaman mendasar seorang muslim tentang prinsip-prinsip agama.

Bagi penulis, suatu nilai yang baik dan tetap di dalam agama merupakan satu barometer yang tidak bisa dielakkan akan signifikansi Aswaja di dalam sejarah. Walaupun pada perkembangnya dirasa masih belum mampu menjawab tantangan-tantangan baru secara konkret. Itu menyoal waktu.

Oleh karenanya, melalui kitab Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah ini Hadlratus Syeik M. Hasyim Asy’ari memotret signifikansi Aswaja dalam frame yang simplikatif. Semoga bermanfa’at.

Kairo, 12 Juni 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *