Biografi KH. Siradjuddin Abbas Minangkabau

Oleh: Muhammad Iskandar Zulkarnain

Di kalangan ulama Indonesia, nama KH. Siradjuddin Abbas sudah bukan nama asing lagi. Ulama ini telah menulis beberapa buku yang membahas masalah keagamaan dengan berbagai macam cabang ilmunya. Beliau juga aktif menulis permasalahan aktual yang terjadi pada zamannya, bahkan permasalahan-permasalahan tersebut masih relevan saat ini. Umumnya, orang akan lebih mengenal sosoknya lebih melalui karya-karyanya daripada bertemu secara langsung.

Pikiran-pikiran keagamaan KH. Siradjuddin Abbas banyak diikuti orang, baik yang menyangkut segi-segi akidah maupun syariah. Kitab-kitab karya ulama ini bukan saja dibaca oleh kelompok kecil di kalangan masyarakat Minangkabau di mana ia dilahirkan, bukan pula hanya oleh warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang pernah dipimpinnya, tetapi juga tersebar luas di kalangan umat Islam. Bisa dikatakan, orang Islam Indonesia, khususnya kelompok tradisional, menyatakan Kiai Siradjuddin sebagai pembela mazhab Syafi’i di Indonesia yang argumentatif dan menguasai bidangnya lewat kitab-kitab yang disusunnya. Kalangan tradisional di Indonesia, termasuk di dalamnya Nahdlatul Ulama, mengakui kealiman ulama ini. Ini terbukti dari banyaknya warga NU yang membaca karya-karya KH. Siradjuddin Abbas, terutama warga NU dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kelebihan lain KH. Siradjuddin Abbas, selain seorang muallif, adalah sangat gigih mempertahankan mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syafi’i dalam bidang ilmu fikih. Pembelaan ini relevan sekali dengan kondisi Indonesia dan Asia Tenggara yang mayoritas penganut mazhab Syafi’i dalam ibadahnya. Dengan pembelaannya yang gigih dan argumentatif, banyak kalangan modernis yang menyebutnya terlalu kaku dan apriori terhadap paham lain, khususnya paham-paham baru.

KH. Siradjuddin Abbas lahir di kampung Bengkawas, Kabupaten Agam, Bukit Tinggi, Sumatra Barat, pada tanggal 20 Mei 1905. Sebagai anak laki-laki sulung Syaikh Abbas bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim Ladang lawas, seorang qâdhî, ibu beliau bernama Ramalat binti Jai, Bengkawas. Beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang taat. Pada mulanya beliau belajar al-Qur’an kepada ibunya hingga berusia 13 tahun. Setelah itu, beliau belajar kitab-kitab Arab pada ayah beliau selama tiga tahun.

Selama enam tahun berikutnya, beliau belajar kepada para ulama di Bukit Tinggi dan sekitarnya. Seperti Syaikh Husen Pekan Senayan Kabupaten Agam, Tuanku Imran Limbukan Payakumbuh Limapuluh kota, Syaikh H. Qasem Simabur Batu Sangkar Tanah Datar, Syaikh Muhammad Zein di Simabua, Batu Sangkar, Syaikh H.Abdul Malik di Gobah, ladang Laweh.

Tahun 1927 beliau belajar di tanah suci. Di sana beliau berguru kepada beberapa ulama di Masjid Al-Haram seperti:

  1. Syaikh Muhammad Said Yamani (Mufti Madzhab Syafii) mempelajari ilmu fiqh dalam Madzhab Syafii dari kitab Al-Mahallî.
  2. Syaikh Husen Al-Hanafi (Mufti Madzhab Hanafi) mempelajari ilmu hadis dari kitab Shahih Bukhari.
  3. Syaikh Muhammad Said Yamani (Mufti Madzhab Syafii) mempelajari ilmu fiqh dalam Madzhab Syafii dari kitab Al-Mahallî.
  4. Syaikh Ali Al-Maliki (Mufti Madzhab Maliki) mempelajari ilmu Ushul Fiqh dari kitab Al-Furûq.
  5. Syaikh Umar Hamdan, darinya beliau mempelajari kitab Al-Muwattha` karangan Imam Malik.

Beliau tinggal di sana sampai tahun 1933. Tahun 1930, beliau diangkat menjadi staf sekretariat pada konsultan Nedherland di Arab Saudi. Pengetahuan agamanya yang sangat luas dan penguasaannya terhadap bahasa Arab yang fasih mengantarkannya ke jenjang nasional dan internasional di ranah politik perjuangan bangsa Indonesia.

Sekembali dari Makkah tahun 1933, beliau mengambil dan menerima macam-macam ilmu pengetahuan agama dari Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Cadung Bukit Tinggi.

Selain itu beliau juga belajar bahasa inggris kepada seorang guru yang berasal dari Tapanuli, yaitu Ali Basya. Tiga tahun pertama di kampung, ia dikenal sebagai mubalig muda yang potensial sehingga menarik minat para ulama senior yang bergabung dalam persatuan Tarbiyah Indonesia, organisasi keagamaan satu-satunya yang ada di Bukit Tinggi. Ketika berlangsung kongres ketiga, organisasi tersebut di Bukit Tinggi tahun 1936, beliau pun terpilih sebagai Ketua Umum Tarbiyah. Ternyata pilihan itu tidak salah, di tangan beliau Tarbiyah kian berkembang. Dan yang lebih penting mulai merambah bidang politik.

Tahun 1940 Tarbiyah mulai mengajukan usul kepada pemerintah kolonial agar Indonesia bisa berparlemen. Usul tersebut diajukan melalui komisi Visman yang dibuka pemerintah kolonial untuk menjaring suara-suara kalangan bawah. Sepak terjang beliau mulai didengar oleh Bung Karno, pada saat ia ditahan oleh pemerintah Kolonial di Bengkulu dan dipersiapkan untuk dibuang ke Australia (1942). Namun entah mengapa, kapal yang digunakan untuk membawa Bung Karno terbakar. Bung Karno memanfaatkan situasi tersebut untuk melarikan diri hingga sampai ke Muko-muko. Dari Muko-muko, ia melarikan diri ke Bukit Tinggi dengan menggunakan sepeda motor yang diberikan seorang penduduk yang simpati padanya. Di Bukit Tinggi, ia segera menemui KH. Siradjuddin Abbas. Tentu saja KH. Siradjuddin kaget, tidak menduga akan kedatangan tokoh yang namanya sedang meroket di tengah masyarakat kala itu. Bung Karno berpesan pada KH. Siradjuddin Abbas agar Tarbiyah lebih berhati-hati karena Jepang akan menjajah Indonesia.” Jepang lebih berbahaya daripada Belanda.”

12.000 personel Lasmi (Laskar Muslimin dan Muslimat Indonesia)

Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 yang dibacakan Bung Karno segera sampai ke telinga KH.Siradjuddin lewat radio bawah tanah. Segera saja ia menyebarkan berita tersebut lewat selebaran setensilan hingga ke Pekanbaru. “Indonesia sudah merdeka, kita sudah berdaulat. Mari kita berjuang mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan.” Tulisnya dalam selebaran itu.

Pada saat Wakil Presiden Moh. Hatta mengeluarkan Maklumat No.X/1945 pada bulan November, yang isinya mendorong agar rakyat bergabung dalam partai politik dan dianjurkan membentuk partai politik demi tegaknya demokrasi. Hal ini mendorong KH. Siradjuddin untuk membuat partai yang berbasis Tarbiyah. Maka ia sebagai Ketua Tarbiyah segera meminta izin kepada para pendiri dan sesepuh untuk mewujudkan niat beliau tersebut.

Gayung bersambut, mereka setuju. Dengan catatan jangan meninggalkan tugas pokok yaitu pendidikan, dakwah, kegiatan sosial keagamaan dan keumatan. Maka pada bulan Desember tahun 1945 ketika berlangsung kongres Tarbiyah keempat di Bungkit Tinggi, diputuskan bahwa Persatuan Tarbiyah Islamiyah membuat satu partai dengan nama Partai Islam Tarbiyah Islamiyah disingkat PI Perti dan mengangkat KH. Siradjuddin sebagai ketua umumnya.

Sejak itulah kiprah beliau dibidang politik kian terbuka lebar. Badan Legislatif pun memberinya tempat. Mulai dari DPRD,DPR RIS, DPRS, dan DPR GR. Hal ini memaksa beliau hijrah ke Jakarta pada tahun 1950. Di Bukit Tinggi beliau meninggalkan Laskar Muslimin dan Muslimat Indonesia (Lasmi) yang digagasnya pada tahun 1948, guna memobilisir kekuatan rakyat Sumatra Barat untuk mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia. Bahkan peresmiannya dilakukan oleh Moh. Nasir, seorang tokoh nasional yang berasal dari Sumatra barat yang kala itu menjabat sebagai Mentri Penerangan.

Maka, ketika Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk oleh Syafruddin Prawiranegara di Padang lantaran presiden dan wakil presiden telah ditangkap, Perti pun ikut mendukung dengan mengerahkan kekuatan Lasmi yang beranggotakan 12.000 personil, untuk mengamankan dan melindungi kegiatan PDRI yang harus bergerak karena kejaran Belanda. Ketika Komite Nasional Indonesia Pusat dibentuk, maka beliau pun tercatat sebagai salah satu anggotanya.

Isu Palestina

Tahun 1951 tersebar isu bahwa kaum Zionis Yahudi mengusir rakyat Palestina dari negerinya. KH. Siradjuddin Abbas sebagai anggota, mengangkat isu tersebut ke permukaan, karena sejauh itu pemerintah tidak mengeluarkan statemen atau komentar apapun. “Partai Islam Perti mendukung perjuangan rakyat Palestina”. Orasinya di depan sidang parlemen. “rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia sebaiknya juga mendukung perjuangan rakyat Palestina”.

Esoknya, hal itu menjadi berita utama di koran-koran ibukota. Seminggu kemudian para ulama mendatangi beliau dan menyatakan simpatinya kepada Partai Islam Perti, sehingga partai yang belum lama hijrah ke ibukota ini menjadi dikenal oleh masyarakat luas.

Sekian lama hidup di tanah Arab memberi wawasan tentang Palestina dan perjuangan rakyatnya dari ancaman kaum Yahudi. Maka, begitu terbetik berita pengusiran penduduk Palestina oleh kaum Yahudi, beliau memanfaatkan moment tersebut untuk membuka mata bangsa Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sejak pidato itu, ia mendapat simpati dari kalangan para ulama dan media, hingga selalu menyediakan halamannya untuk menampung berita tentang Palestina.

Berkahnya, PI Perti berkembang pesat di pulau Jawa. Sehingga pada pemilu tahun 1955 PI Perti menduduki tempat kedelapan dari seluruh partai yang ikut pemilu. Sebelumnya, pada tahun 1954 KH. Siradjuddin diangkat menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat Kabinet Ali Sastroamijojo I.

Beliaulah yang menyampaikan gagasan kepada Presiden Soekarno untuk menggelar Organisasi Setia Kawan Rakyat Asia Afrika (OSRAA). Bung Karno yang ketika itu sedang bersemangat dengan ide-ide menjungkalkan imperialisme dan kolonialisme menyambut baik ide tersebut dan memberikan fasilitas.

Sebagai pemrakarsa, beliau ditugasi untuk menghubungi dan mencari dukungan negara-negara di Afrika. Pada kesempatan inilah, beliau berkenalan dengan Anwar Sadat yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Organisasi Buruh Mesir. Maka, pada bulan September tahun 1954 diadakanlah Konferensi OSRAA di Bandung dan terpilih sebagai Ketua Umum Utusan untuk Mesir.

Pada tahun 1958, beliau kembali meraih peluang emas. Kala itu, karena kehadiran Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dideklarasikan oleh Ahmad Husen di Padang. Menyadari bahwa PRRI menempatkan dirinya bersebran

gan dengan pemerintah, maka beliaupun menegaskan kepada presiden bahwa PI Perti tidak setuju dengan PRRI.

Ketika Ahmad Yani ditunjuk untuk menumpas PRRI, ia meminta nasehat KH. Siradjuddin agar sesampainya di Padang supaya menemui Buya Sulaiman Ar-Rasuli, ulama yang sangat dihormati masyarakat Sumatra Barat. Berbekal saran dari ulama senior tersebut, Ahmad Yani berhasil melaksanakan tugasnya.

Tahun 1959 tersiar berita bahwa belanda mengirim kapal induk karel Doorman ke Indonesia untuk membantu mempertahankan Irian Barat. Untuk bisa mencapai Indonesia dalam waktu singkat, kapal itu harus melewati Terusan Suez di Mesir. Untuk mengantisipasi hal itu, Presiden Soekarno mengutus KH. Siradjuddin Abbas ke Mesir untuk membicarakan hal itu dengan Presiden Gamal Abdul Naser agar melarang Belanda melewati Terusan Suez.

Setibanya di Mesir, beliau langsung menemui kawan lamanya Anwar Sadat yang menjadi pemimpin organisasi buruh. Namun Anwar Sadat tidak dapat memberikan jalan. Ia mempersilahkan KH. Siradjuddin untuk membicarakannya dengan Presiden Gamal Abdul Naser, untuk menemui Sang Kepala Negara, Anwar dapat mengusahakannya.

Namun ternyata Presiden Gamal Abdul Naser juga tidak dapat memberikan solusi. Masalahnya, kata presiden, Terusan Suez berada dalam zona internasional. Yang bisa melarang kapal asing untuk melewati terusan tersebut hanyalah para buruh di Suez yang bermarkas di Port Said. Dengan nada pesimis, KH. Siradjuddin mengutarakan hal tersebut kepada Anwar Sadat.

Ternyata Anwar justru melihat celah yang sangat baik dengan ide presidennya itu. Ia mendukung saran tersebut dan ikut membantu merealisasikannya. Singkat cerita KH. Siradjuddin dapat bertemu dengan pemimpin organisasi buruh pelabuhan itu, kemudian ia dapat menyampaikan tugas yang beliau emban. Di hadapan buruh Terusan Suez, beliau berpidato meminta dukungan agar mereka melarang lewatnya kapal induk Kareel Doorman yang akan berlayar menuju Indonesia melalui terusan tersebut.

“Indonesia sedang berjuang mengembalikan Irian Barat dari tangan penjajah Belanda,” kata KH. Siradjuddin dengan bahasa Arab yang fasih. “..apalagi Karel Doorman bisa sampai ke Indonesia dalam waktu singkat, perjuangan bangsa Indonesia menjadi berat.” Beliau melanjutkan, “Sebagai Negara yang bersahabat, apalagi Mesir merupakan negara yang pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, bantuan yang diharapakan kali ini akan bermakna positif bagi perjuangan bangsa Indonesia.” Demikian orasi kiai asal Bukit Tinggi itu dengan semangat tinggi.

Ternyata sambutan mereka sangat positif, maka Karel Doorman pun dilarang melewati terusan tersebut. Dengan adanya sikap kaum buruh Terusan Suez itu, Presiden Gamal Abdul Naser tanpa berpikir panjang lagi segera memberikan dukungan.

Tahun Penuh Fitnah

Semakin tinggi satu pohon semakin kencang angin yang menerpanya. Ibarat itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi KH. Siradjuddin Abbas pada sekitar tahun 1965.

Ketika dewan revolusi yang memotori kudeta G30 S, memperkenalkan diri melalui corong RRI, nama KH. Siradjuddin tercantum sebagai anggota. Padahal kala itu beliau sedang berobat di rumah sakit Suci, di tepi Laut Hitam yang masuk dalam wilayah Uni Soviet. Kehadiran beliau di negeri tersebut adalah atas bantuan Anwar Sadat. Kala itu persahabatan Mesir dengan Uni Soviet sedang erat-eratnya, begitu pula dengan Indonesia. Alhasil beliaupun dicap sebagai PKI.

Bantahan yang dikeluarkan oleh Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Germahi) yang merupakan organisasi sayap mahasiswa PERTI, bahwa KH. Siradjuddin Abbas tidak tahu menahu tentang hal tersebut nyaris tidak berfaedah, karena tertelan oleh hiruk piruk Nasakom yang sedang dikibarkan oleh Bung Karno.

Fitnah berikutnya adalah adanya “Dokumen Cianjur” yang menyebutkan bahwa bila terjadi clash antara ABRI dengan PKI, maka seluruh jajaran PERTI harus membantu PKI. Akibatnya KH. Siradjuddin diciduk dan ditahan di markas Kodam V Jaya selama 40 hari.

Tidak hanya itu juga ditemukan seribu setel pakaian loreng dan uang sekian puluh juta rupiah di rumah Sofyan Siraj (anak sulung KH. Siradjuddin) di Jln. Dempo, Matraman. Sama seperti yang ditemukan di rumah D.N Aidit, ketua umum PKI. Penemuan ini dianggap sebagai petunjuk adanya kerjasama antara KH. Siradjuddin dengan Aidit.

Meski kemudian dapat dibuktikan bahwa dokumen Cianjur itu palsu dan nama baik KH. Siradjuddin direhabilitasi oleh pemerintah yang ditandatangani oleh Amir Mahmud (Laksusda Jaya), kurang begitu berpengaruh, karena koran-koran tidak ada yang bersedia memuatnya. Tudingan miring itu melekat pada beliau hingga ketika buku beliau yang berjudul I’tikad Ahli Sunnah wal Jama`ah terbit muncul komentar “ini orang PKI kok menulis buku agama”.

Dalam kasus Dokumen Cianjur, dua orang pengurus PERTI cabang Cianjur Zainuddin dan Yaqub juga kena getahnya. Kepada interogator Laksusda setempat kedua bersikukuh bahwa dokumen itu palsu dan bersedia ditembak untuk mempertahankan pendiriannya. Mereka minta agar sebelum dieksekusi mereka diizinkan mengumandangkan azan dan tembakan itu tepat dilepaskan ketika sampai pada kalimat hayya `alâ al-falâh. Namun ketika azan selesai mereka berdua merasakan suasana yang hening dan sunyi. Beberapa detik kemudian ketika mereka memberanikan diri mereka membuka penutup mata, ternyata para penembak itu telah pingsan. Subhânallâh.

Mereka kemudian melarikan diri kearah Cianjur dan ketika sampai di kantor PERTI, hal itu mereka utarakan kepada KH. Siradjuddin. “MasyaAllah, semoga Allah memberkahi kalian berdua,” komentar KH. Siradjuddin.

Tahun 1965 merupakan batas kiprah beliau memimpin PERTI. Atas saran anak-anak muda PERTI, Buya Siraj, begitu beliau akrab dipanggil, lebih mencurahkan perhatian beliau dalam penulisan-penulisan buku agama. Anak-anak muda PERTI yang merasa kurang memahami soal Ahli Sunnah wal Jama’ah meminta beliau untuk menulis sebuah buku yang bisa menjadi pegangan bagi mereka. KH. Siradjuddin Abbas yang kala itu sudah berumur 60 tahun memenuhi permintaan itu. Dua tahun kemudian terbitlah buku I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama`ah dan sejarah Keagungan Madzhab Imam Syafi’i. Untuk modal menerbitkan buku tersebut, beliau rela menjual rumahnya di Jln. Dempo, dan pindah ke Jln. Tebet Barat kecil.

Ternyata buku tersebut laris manis. Departemen Agama pun memesan untuk keperluan IAIN. Walaupun demikian sebagian besar justru beliau bagikan secara gratis. NU menjadikan buku itu sebagai pedoman.

Beberapa tahun kemudian terbitlah buku 40 Masalah Agama sebanyak 4 jilid besar. Untuk kali ini beliau pun rela menjual rumahnya untuk modal penerbitan buku tersebut. Terakhir beliau menempati rumah di Jln. Melati Utara (kini Tebet Barat).

Buya Siraj wafat tanggal 23 Ramadan 1400 H atau 5 Agustus 1980, setelah beberapa hari dirawat di RS. Cipto Mangunkusumo lantaran serangan jantung. Saat pemakaman tampak perhatian warga Tarbiyah begitu besar. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan. Hadir pula wakil presiden Adam Malik. Beliau meninggalkan seorang istri dan dua anak Sofyan (almarhum) dan Fuadi.

Selain sebagi Ketua Umum Tarbiyah, beliau juga merupakan pendiri organisasi politik “Liga Muslim Indonesia” bersama sama KH. Wahid Hasyim (wakil dari NU), Abikusno Cokrosuyono (wakil dari PSII).

Beliau banyak meninggalkan buku, di antaranya:

  1. I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Sebuah buku yang berisi tentang faham Ahli Sunnah wal Jama’ah dan beberapa firqah-firqah lainnya.

  1. 40 Masalah Agama

Sebuah buku yang terdiri dari empat jilid menjelaskan 40 macam masalah agama yang sedang berkembang dewasa itu. Dalam buku ini, beliau juga menerangkan tentang gerakan modernisasi agama oleh orang-orang yang ingin memperbarui Islam dengan paham mereka. Beberapa tokoh yang beliau masukkan ke dalam golongan ini antara lain Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri wahabi), Mirza Ghulam Ahmad, Mustafa Kemal Turki dan juga Presiden RI pertama Soekarno.

  1. Kumpulan Soal-Jawab Keagamaan (sebuah buku berisi jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan seputar agama).
  2. Thabaqah Syafi’i (Ulama Syafi’iyah dan kitabnya dari abad ke abad).
  3. Kitab Fiqh Ringkas.
  4. Sorotan atas terjemahan Al Quran oleh HB. Jassin.
  5. Sirâju al-Munîr (Fiqh 2 jilid).
  6. Bidâyatu al-Balâghah (Bayan).
  7. Khulâshah Tarîkh al-Islâm.
  8. `Ilmu al-Insyâ` (1 jilid).
  9. Sirâju al-Bayân fî Fahrasati al-Âyât al-Qur’ân.
  10. `Ilmu an-Nafs (1 jilid).

Tulisan beliau no. 7-12 adalah karangan beliau dalam bahasa arab.
Semoga bermanfa’at.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *