Tawakalnya Orang Miskin

Oleh: Muhammad Nuhid

Damput!”

“Kualat sampean nanti, Mut. Kiai kok didamputi.”

Bodo amat.”

Mutawakil kesal setengah mati. Di puncak penderitaannya lantaran kemiskinan yang tak kunjung berujung. Ketika semua lapangan pekerjaan tidak satu pun mengindahkan harapan. Masih juga ia harus mati setengah karena kekesalan. Mutawakil sowan ke kiai berharap mendapat pencerahan, dia malah dipameri hasil tawakalnya.

“Dia kiai. Enak. Senganggur-nganggurnya dia, tidak akan kehabisan uang. Bayangkan, dari ribuan santrinya, lalu setiap wali santrinya ngasih salam templek lima puluh ribu saja, sudah berapa yang dia dapat? Kalau aku berada di posisinya, aku juga bisa dengan mudah beli mobil, bikin rumah, dan mengawini beberapa santriwati.”

“Terus yang kamu mau dari Pak Kiai itu apa sih, Mut?”

“Dinikahkan sama anaknya, mungkin. Kan, aku bisa mewarisi hartanya.”

Asu!”

“Maksudku, ya dikasih amalan apa, kek. Ritual apa, kek.”

“Mut, Pak Kiai itu kiai, bukan dukun.”

“Kalau begitu kita pergi ke dukun saja.”

“Jangan gila sampean, Mut!”

“Gila lebih mulia daripada terus menerus melarat. Orang gila tidak akan disiksa. Tetapi kemiskinan, sangat dekat dengan kekafiran.”

“Tapi gilamu, gilanya orang waras, Mut. Nerakamu akan sangat pedih.”

“Ayo. Ikut, ndak?”

“Ya, ikutlah. Tapi.. Bukankah mendatangi dukun, salat kita tidak diterima sampai empat puluh hari?”

“Yang penting secara syariat masih sah. Urusan diterima atau tidak, memangnya yang tidak pernah mendatangi dukun pasti diterima?”

*

Cuk. Cuk. Cuk. Cuk. Cuk. Kira-kira ada, nggak, orang goblok yang bakalan ngasih uang dua puluh juta ke dukun asu itu?”

“Beliau itu dukun profesional. Sering didatangi pejabat.”

“Profesional tai!. Kalau aku punya dua puluh juta, aku akan pakai buat modal. Bukan ngasih ke dia. Lagi pula, dari awal perasaanku sudah tidak enak. Rumahnya saja jelek. Dalamnya banyak sarang laba-laba. Kotor. Bisa-bisanya aku curhat soal kemiskinanku.”

“Berarti sampean yang goblok, Mut.”

“Kita sama-sama goblok. Tidak usah saling mengolok.”

Mutawakil dan teman sepemiskinannya duduk di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Semriwing angin membuat udara kian tercemar. Keringat kemiskinannya begitu busuk. Sampai beberapa wanita bercadar melintas di hadapan mereka.

“Mut, lihat kaki mereka!”

“Ya, aku pernah mendengar. Aliran sesat macam mereka mendapat banyak asupan dari Arap.”

Mutawakil dan kawannya saling pandang. Lalu mereka tersenyum atas kesepakatan yang tidak perlu diucapkan.

“Kamu yang ngomong, Mut!”

Mutawakil mengucap salam di antara kerumunan mereka. Sebelum kemudian ia bertanya, “Mbak, apakah ….”

“Pakai ‘ukhti’, Mut!”

“Maaf, maksud saya ….”

Ana!”

Asu!” umpat Mutawakil di wajah kawannya. “Maaf, Ukhti. Ana mau bertanya. Bagaimana caranya bergabung dengan aliran sesat seperti antunna?”

“Maaf, Ukhti,” potong kawan Mutawakil. “Maksud akhi ana ini, bagaimana untuk bergabung dengan aliran radikal seperti antunna?”

Antum jangan sembarangan, ya!” Salah satu di antara mereka angkat bicara. Baik Mutawakil maupun kawannya, tidak menemukan siapa yang berbicara karena mulut mereka semua tertutup cadar. Sampai ia melanjutkan dengan menyuding-nyuding. “Nahnu bukan aliran sesat. Nahnu juga bukan aliran radikal. Yang nahnu ikuti adalah manhaj yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah.”

“Ya. Itu maksudnya. Lalu, bagaimana kami bisa bergabung?”

*

Mutawakil dan kawannya disambut dengan penuh keramahan. Dijamu dengan makanan lezat yang sudah sekian lama tidak pernah mampir ke lidah mereka. Jika tidak ada kata-kata “ana“, “antum“, dan beberapa kosakata bahasa Arab yang biasa mereka pakai, pastilah makanan yang dihidangkan lebih nikmat dirasa.

Tiga hari saja, Mutawakil dan kawannya bisa mendapat uang yang tidak akan mereka dapatkan di luar sana kecuali setelah pencarian beberapa tahun. Mereka merasakan betapa kehidupan ternyata tidak seburuk yang setiap hari mereka sangkakan. Sampai suatu pagi saat mereka sarapan, kepala mereka tertempel ujung senapan yang siap ditarik pelatuknya.

“Mana yang akan kalian pilih, berjihad, atau mati dengan sekali tarikan pelatuk?”

Kawan Mutawakil gemetar setengah mati. Sementara Mutawakil masih melanjutkan kunyahan sarapannya. Sampai tertelan apa yang ada di dalam mulut, dan menutupnya dengan minum segelas air, Mutawakil angkat bicara. “Apakah yang kalian maksud dengan berjihad adalah melakukan bom bunuh diri?”

“Jangan pernah berkata itu bom bunuh diri. Tapi katakan, ini gerakan mati syahid. Yang bilang itu bom bunuh diri adalah orang-orang kapir. Islam menamainya gerakan mati syahid. Sahabat Nabi pun pernah melakukannya dalam perang Uhud. Ia melawan musuh yang banyak dan kuat. Dan melawannya, pasti akan mati. Ia tetap melawan dengan pedangnya. Ia membunuh, dan ia terbunuh. Itu, dalil diperintahkannya meraih syahid. Di zaman Nabi dengan pedang. Dan zaman sekarang, tentu dengan bom.”

“Mengapa tidak kau sendiri yang melakukannya, Bangsat!” Kawan Mutawakil berteriak kencang dengan bibir bergetar. Lalu beberapa pria berserban memukul kepalanya dengan popor bedil dan terus menghardiknya hingga mengucur darah di pelipis dan sobekan hidungnya.

“Pilih mati kafir karena menentang perintah, atau mati syahid dalam berjihad?”

Mutawakil tersenyum menatap kawannya yang menyedihkan. “Bro, maukah kamu berhenti dari kemiskinan dan mendapatkan surga?”

“Jangan gila, Mut. Tidak ada surga yang diraih dengan bunuh diri.”

“Bukan dengan bunuh diri. Tetapi dengan tawakal. Kau masih ingat kata Pak Kiai tempo hari?”

“Tentu saja. Al-Qur’an tiga puluh juz saja saya ingat, apalagi cuma sekalimat dawuh Pak Kiai itu.”

Pria berserban di kepala itu gedek dengan bacot mereka. “Saya kasih waktu lima detik untuk menjawab, memilih untuk mati ana tembak, atau mati syahid dalam berjihad?”

“Kami memilih atau,” jawab mereka serentak diikuti cekikikan tawa, sebelum setelahnya kepala mereka tertembus oleh peluru. Terbang, dan meninggalkan kemiskinannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *