Demografi Politik Mahasiswa Indonesia Mesir di Tahun Politik

Sistem Demokrasi

Oleh: Mahmud Abdullah

Ada yang menarik di pesta demokrasi pemilu raya PPMI Mesir tahun ini, yakni bertepatan dengan rentetan ajang akbar tahun politik di tanah air. PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) di Mesir merupakan miniatur bangsa Indonesia yang mengadopsi sistem demokrasi untuk menentukan pemimpin di ranah kemahasiswaan. Acuh tak acuh, peran mahasiswa di tahun politik ini dipaksa turut aktif dalam momentum demokrasi, meski secara universal mahasiswa di luar negeri tidak andil dalam pemilu pilkada, akan tetapi memiliki spasial dalam pilpres berdasar arahan PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

Tahun 2018 secara aklamasi memperoleh predikat sebagai tahun politik. Dengan adanya dukungan media yang masif, telah menggiring opini publik untuk menyetujui sebutan tersebut, praktis tanpa wacana tandingan. Predikat yang langsung disetujui publik, merupakan penanda, bahwa sebagian masyarakat sudah begitu terperosok dalam jebakan kekuasaan. Hingga seolah tidak ada isu lain yang lebih penting ketimbang politik dan kekuasaan.

Dalam bahasa pergaulan remaja metropolitan, kekuasaan ibarat “jebakan betmen” (dari nama superhero Batman), yang bila sudah masuk, akan sulit untuk membebaskan diri. Itu terjadi karena berdasar asumsi yang kurang tepat, bahwa kekuasaan digunakan sebagai kendaraan menggapai kesejahteraan, bukan melalui kerja keras.

Dibutuhkan kreativitas tingkat tinggi bagi komunitas-komunitas yang kurang tertarik pada politik, pasalnya, tahun ini (dan tahun depan) akan menjadi tahun yang membosankan, karena publik setengah dipaksa untuk ikut memikirkan politik kontemporer.

Seperti halnya pemilu di Indonesia, pemilu raya tingkat Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) tidak lepas dari pergulatan ‘kampanye’ politik praktis dalam pemenangan capres/cawapres (sebutan calon ketua kemahasiswaan), apalagi dianalogikan dengan tahun politik, tak ayal jika ada hipotesa-manuver dalam perhelatan tersebut.

Setiap menjelang pemilu raya, daya tawar masisir kian mengalir. Pasangan calon dan timsesnya akan berpacu demi memikat dan mengikat dukungan kuat. Optimalisasi strategi dan sosialisasi pendekatan menjadi kunci agar kampanye berbuah kursi di PPMI.

Suara sebagai ukuran kemenangan pemilu sifatnya kuantitatif. Suara mahasiswa baru “daur lughah” nilainya sama dengan mahasiswa S3 “kandidat doktor”. Melihat kenyataan ini, ditambah pemberlakuan sistem suara terbanyak, dapat diprediksi siapa yang mampu mendapat kursi  adalah mereka yang memahami karakter mahasiswa. Capres/cawapres mesti melek kondisi dan peta demografi politik masisir.

Demografi merupakan bagian studi kependudukan yang mempelajari penduduk terutama mengenai jumlah, struktur dan perkembangannya (IUSSP, 1982). Kenyataannya, faktor yang memengaruhi karakter dan perkembangan penduduk tidak hanya faktor demografi. Yaukey (1990) mengatakan, variabel demografi akan sering berhubungan timbal balik dengan variabel non-demografi. Salah satu hubungan tersebut melahirkan demografi politik yang mempelajari hubungan aspek penduduk dan politik.

Secara garis besar terdapat tiga variabel penting demografi politik. Pertama, jumlah penduduk. Dalam hal ini objeknya adalah mahasiswa. Jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir lumayan fantastis, dengan didominasi mereka yang kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ada 5.429 pemilih tetap pemilu raya tahun ini, artinya, PPR (Panitia Pemilu Raya) harus menyiapkan surat suara sebanyak itu.

Kedua, struktur atau komposisi mahasiswa. Komposisi mahasiswa bisa diamati dari tahun kedatangan, kekeluargaan, afiliasi, almamater dan komunitas. Kementerian Agama Republik Indonesia meloloskan mahasiswa baru tahun akademik 2017/2018 sebanyak 1.468 orang, jika dikalkulasikan dengan jumlah mahasiwa lama (5.429), maka 30,69 persennya mahasiswa baru. Artinya, maba (mahasiswa baru) adalah konsumen politik potensial. Dari segi kekeluargaan yang paling potensial adalah kekeluargaan yang jumlah anggotanya mendominasi. Ada 17 populasi kekeluargan yang tersebar dibeberapa distrik di kota Kairo, dengan rincian masing-masing jumlah anggotanya yang terdaftar sebagai pemilih tetap di pemilu raya 2018 sebagai berikut: KSW (810 anggota), PPM SUMUT (147 anggota), GAMAJATIM (496 anggota), IKMAL (74 anggota), KSMR (312 anggota), KMM (359 anggota), KMNTB (181 anggota), KPJ (335 anggota), KPMJB (873 anggota), KMKM (244 anggota), KMJ (98 anggota), KMB (324 anggota), KMA (358 anggota), KKS (293 anggota), KEMASS (228 anggota), HMM SU (119 anggota), dan FOSGAMA (181 anggota). Faktor lain yang mempunyai indikasi penting yang mempengaruhi konsumen politik potensial adalah pendekatan emosional kepada afiliasi, almamater dan komunitas, baik komunitas keilmuan, sosial, ekonomi dan budaya.

Ketiga, distribusi masisir. Distribusi masisir dapat dipahami dari sisi regional. Jumlah masisir yang tinggal di Kairo sebagian besar menghuni di dua distrik, yakni Darrasah dan Hayy ‘Asyir, meskipun ada juga mereka yang tinggal di luar dua distrik tersebut, bahkan di luar Kairo, seperti di kota Alexandria, Zagaziq, Tanta dan Mansurat. Distribusi melalui sosial media juga merupakan salah satu jurus ampuh dalam ‘berkampanye’, dan distribusi ini diiming-imingkan memilik potensial yang besar dalam pemenangan capres/cawapres PPMI Mesir.

Peta demografis di atas adalah objek politik masisir pada Pemilu Raya PPMI Mesir 2018. Paslon sejati akan senantiasa memaknai setiap kondisi sebagai peluang. Optimalisasi penangkapan peluang dari peta tersebut butuh strategi pemenangan. Capres/cawapres dan timsesnya mesti mempertimbangkan demografi masisir sebagai basis pemenangan.

Dinamika Pemenangan

Demografi politik ini adalah sebagai simulasi praktis bagi pemenangan capres/cawapres, baik mereka yang sudah mengumbar kampanye ataupun mereka yang nantinya akan beradu visi-misi di ajang pemilu raya tahun selanjutnya. Artinya, mereka secara proporsional harus betul-betul memahami peta demokrasi masisir dan dinamika pemenangannya dilihat dari berbagai segi.

Dari segi pendekatan emosional, pemenangan dapat dilakukan dengan memfokuskan diri menguasai hati masisir agar tertarik untuk mendukung dan memilihnya. Sosialisasi pada masa kampanye sangat perlu digalakkan ke setiap sudut elemen masisir secara intens. Kendati demikian, bisa saja strategi yang diaplikasikan dengan mengumbar-ngumbar janji tapi bukan hanya sekedar janji. Sudah barang tentu, karena yang dihadapkannya bukan orang awam melainkan mahasiswa yang sudah jelas mempunyai nilai akademik, apalagi dikaitkan dengan money politic dan isu identitas (isu sara), karena bagaimanapun mereka adalah mahasiwa yang memegang teguh nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Azharan. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya black campaign dalam pemenangan, seperti menyebarkan hoax untuk menjatuhkan lawan, gerakan manuver yang dikapitalisasi sebagai bahan propaganda dan agitasi untuk melemahkan pihak tertentu. Sangat tidak relevan dengan identitas Masisir, karena hal tersebut merupakan dekadensi moral, baik bagi dirinya maupun masa depan bangsa.

Dari segi struktur atau komposisi, polarisasi strategi ini sangat menarik dibidik. Pemberlakuan sistem afirmatif menjadikan koalisi antara capres dan cawapresnya memadukan kultur dan pengalamannya dalam berorganisasi. Semestinya, dukungan penuh datang dari mana dia berasal ­kekeluargaan, almamater­ dan afiliasi­, setelah itu melakukan ekspansi  lebih jauh ke ranah yang lain. Dari sisi kekeluargaan bisa dilihat dari berapa jumlah anggotanya, kekeluargaan yang anggotanya banyak ada kemungkinan besar mengantongi suara besar, ditambah lagi jika piawai menjalin relasi dan sukses berkoalisi dengan kekeluargaan yang lain, bisa dipastikan, ini adalah konsumen politik yang sangat potensial. Begitu juga jumlah anggota almamater, afiliasi atau komunitas lainnya pun secara komprehensif mempengaruhi potensi pemenangan pemilu raya PPMI Mesir. Meskipun tidak bisa dipungkiri, pendekatan mereka hanya ketika masa kampanye saja, bahkan mengaku-ngaku pernah berperan aktif dan berkecimpung di dalamnya. Sikap PCINU Mesir sendiri pada pemilu raya PPMI tahun ini, secara struktural netral dan tidak mengusung paslon tertentu. Bukan berarti apatis, akan tetapi dikembalikan kepada masing-masing individu anggota untuk memilih sesuai pilihan hatinya.

Dari segi efisiensi media sosial. Di era digital, frekuensi  manusia meningkat drastis dalam bersosial.  Matta (2013) menyebut  kampanye di media sosial sebagai “the new majority” dan pemilihnya sebagai “the native democracy“. Pemanfaatan media sosial oleh para timses dalam berkampanye, bisa kita lihat akhir-akhir ini dengan penuhnya notifikasi berupa pamflet dan video yang berserakan seperti ‘sampah’ di setiap grup whatsApp.

Dari segi distribusi, perlu pemetaan isu yang tepat serta pendekatan yang sesuai karakter objek pemilih. Animo berfikir masisir akhir-akhir ini disesuaikan menurut sisi regional, yaitu antara Darrasah dan Hayy ‘Asyir, klasifikasi ini sesuai dengan rutinitas masisir yang berorganisasi, mengaji (talaqqi) dan berbisnis. Distribusi sosial dapat dioptimalisasikan melalui pendekatan komunitas. Komunitas lebih homogen dan hampir sama kebutuhannya sehingga cukup efektif jika bisa mendekatinya.

Dari segi kondisi ekonomi dan edukasi, kampanye perlu meyakinkan mereka bagaimana nanti memperjuangkan kesejahteraan dan meningkatkan daya intelektual Masisir. Upaya-upaya kondisi ini bisa dituangkan dalam bentuk visi-misi dan program unggulan, karena kondisi tersebut mempunyai urgensi yang nyata dalam kebutuhan primer setiap harinya.

Jabaran di atas menunjukkan pasar politik potensial secara demografis. Capres/cawapres PPMI perlu memahami bahwa masisir bukanlah konsumen politik semata. Masisir tidak hanya sekedar menjadi ‘floating mass’ yang menjadi pendukung musiman, akan tetapi bersama-sama bersinergi dalam meningkatkan intelektualitas dan menjaga persatuan sebangsa-setanah air Indonesia. Potensi demografi politik ini semoga benar-benar dimanfaatkan calon presiden dan wakil presiden PPMI Mesir dengan semangat dan komitmen pendidikan politik, sekaligus menjunjung tinggi filosofi kedaulatan rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *