Dua Mercusuar Moderatisme Islam

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Agama itu perkenan Sang Tuhan berupa informasi dan tuntunan bagi makhluk-Nya untuk hidup bahagia di dunia maupun di akhirat. Hadirnya Islam ke muka bumi tidak lain untuk kepentingan itu. Keaslian ini sepanjang sejarah manusia dari mulai hadirnya Sang Kinasih-Nya, Muhammad Saw. mengalami pasang surut bagaikan bahtera di tengah gelombang laut ketika badai.

Sejarah manusia; sejarah Islam sendiri dengan berbagai perbedaan madzhab dan pandangan ushûlî dan furû’î di berbagai bidang membuat sedikit banyak perpecahan dan pertentangan. Alih-alih menjadi rahmat, malah justru menyebabkan peperangan antar golongan.

Ini dinamika sejarah umat manusia, yang sudah pula diramal oleh para malaikat ketika awal penciptaan dan pemandatan Adam a.s. oleh Allah Swt. Namun demikian, Allah Swt. menjawab dengan sangat diplomatis penuh misteri, “Aku lebih mengetahui daripada kalian (para malaikat).” Kita boleh saja bertanya dan mencari jawaban sebetulnya apa yang Allah Swt. kehendaki atas jawaban tersebut, melihat sejarah manusia terbukti pula akan banyaknya tragedi perusakan dan saling membunuh satu sama lain. Bukankah hal tersebut merupakan kebenaran para malaikat? Tapi, tolong jangan berhenti di sini, karena sejarah manusia dan dinamikanya tidak hanya menyoal kesombongan dan kerusakan.

Perbedaan pandangan pada manusia adalah hal maklum. Setiap manusia memiliki struktur otak dan pemahaman yang berbeda, yang berangkat dari pengalaman dan pendidikan yang berbeda pula. Akan tetapi, bahwa setiap perbedaan tersebut harus dimaknai sebagai rahmat, tidak justru menjadi penyebab perselisihan.

Kalau saja kita memahami hidup ini dengan benar, maka kita akan mengatakan bahwa perbedaan itu merupakan anugerah, karena perbedaan itu meniscayakan banyaknya pilihan yang bisa kita ambil. Perbedaan pandangan furû’î di dalam shalat, misalnya, yang kesemuanya benar, karena memiliki landasan dan dasarnya masing-masing akan membuat kita tersenyum oleh longgarnya Islam menampung interest penganutnya pada banyak hal.

Terkait perbedaan, saya pikir, Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama adalah jagonya. Yaitu jago dalam merespon perbedaan. Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama ialah bagaikan orang dewasa yang bijaksana yang mampu menampung perbedaan. Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama tegas menolak paham takfîrî yang menjangkiti beberapa golongan Islam. Sikap tersebut bukan berarti ketidaktegasan, namun kedalaman ilmu dan kebijaksanaan. Akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah yang diusung menegaskan ketidakabsahan orang di dalam memonopoli kebenaran. Kebenaran tetaplah wewenang Sang Maha Mutlak. Upaya manusia hanyalah pada bagaimana kita melahirkan suatu kebenaran yang otoritatif, dengan keluwesan dan mampu menerima kebenaran versi yang lain, dengan tidak pula menyalahkan, lebih-lebih mengkafirkan dan menyesatkan yang berbeda.

Al-Azhar di Mesir untuk dunia. Nahdlatul Ulama di Indonesia untuk dunia. Masing-masing memiliki pengalaman dan sejarah sendiri-sendiri. Namun, bila dirujuk lebih dalam, dua institusi Islam tersebut memiliki kesamaan. Selain pilihan akidah, madzhab fikih, dan kecenderungan tasawwuf, Al-Azhar dan NU juga memiliki manhaj dakwah yang sama. Yaitu manhaj tawassuth dan tasamuh. Saya tidak akan berbicara mengenai hal ini di sini.

Al-Azhar dengan tokoh sentralnya sekarang ini, Grand Syeikh Ahmad Ath-Thayyeb yang menyandang imam besar mampu membawa Al-Azhar kembali menjadi perhatian dunia atas kemandirian dan konsistensi atas dakwah Islam yang moderat, yang berbeda dengan Islam yang membawa citra buruk di mata dunia. Citra buruk Islam ini yang akhirnya membawa kecenderungan islamophobia di barat. Satu hal yang sebetulnya tak usah terjadi, jika melihat bahwa Islam adalah agama cinta kasih yang membawa perdamaian bagi semesta alam.

Moderatisme Islam yang digaungkan oleh Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama, sebagaimana dapat kita lihat dari hubungan dan dialog yang terjadi antara dua tokoh besar Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama, yakni Grand Syeikh Prof. Dr. Ahmed Ath-Thayyeb dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA., bahwa moderatisme Islam -sebagai nilai dari pilihan idea atas konsep teologi Asyáriyah-Maturudiyah, empat madzhab fiqh, dan tasawwuf akhlaqi- berdiri atas beberapa landasan.

Pertama, ilmu; kemampuan menangkap nash-nash agama secara tekstual dan kontekstual serta mengklasifikasikan kesadaran ilmu dan sufisme pada level-level yang gradual dan substantif merupakan satu keunggulan dan keistimewaan darinya. Sebagaimana kemampuan membaca fenomena sosial-politik-keagamaan yang dilakukan oleh Grand Syeikh Ahmad Ath-Thayyeb dengan persfektif filsafat Ibnu Sina yang tersarikan dari filsafat Aristotelian. Dan juga kemampuan memposisikan suatu institusi keagamaan secara independen dan berwibawa jauh dari kepentingan politik praktis yang kotor.

Kedua, transmisi; kita sama-sama tahu bahwa Al-azhar dan Nahdlatul Ulama adalah dua institusi keagamaan yang sangat menjaga riwayat keilmuan yang didapat dari guru tertentu yang sampai kepada Rasulullah Saw.

Ketiga, kesadaran budaya dan sejarah; Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama tidak bisa melepaskan unsur budaya dan sejarah dari substansi fenomena sosial-keagamaan. Terlebih dalam kasus-kasus aktual tentang pelanggaran hak asasi manusia, contohnya, unsur pendekatan budaya dan sejarah selalu saja menjadi unsur penting dalam menangani kasus-kasus yang terjadi. Oleh karenanya, moderatisme Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama dewasa ini adalah oase di tengah gurun pasir ideologi-ideologi Islam yang kering dan takfîrî. Alih-alih menegakkan agama, namun yang ada justru merobohkannya. Barangkali itu satu penggambaran dari fenomena beragama dewasa ini.

Ketika agama seharusnya membawa semangat perdamaian dan cinta kasih atas sesama, namun yang ada, agama menjadi penyebab konflik umat beragama. Ketika agama seharusnya menjadi peredam konflik, malah yang ada agama menjadi pengobar dendam konflik. Ini salah. Akan yang pasti bahwa agama tidaklah salah. Pemeluk dan penganut agama itu sendiri yang salah menafsirkan dan menangkap pesan-pesan cinta kasih menjadi pesan-pesan politik yang penuh syahwat.

Pertemuan Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Ath-Thayyeb dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan hadirnya beliau di dalam forum perdamaian dunia mudah-mudahan menjadi refleksi bagi kita semua untuk selalu terus berusaha mewujudkan kedamaian dan cinta kasih atas sesama. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. dan yang terkandung di dalam inti-inti agama Islam yang sesungguhnya dan sebenarnya.[]

Bawwabah Tâniyah
20 Mei 2018

*Pernah dimuat di buletin Informatika PPMI Mesir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *