Generasi Milenial Zaman Now

Oleh: Muhammad Fajrul Falah Affandi

Gadget, gadget, dan gadget. Jika zaman dulu yang ideal bagi para anak muda (pelajar) adalah dengan menggandeng buku. Dan bagi para orang-orang dewasa menenteng koran. Sekarang apa yang disebut ‘orang sekarang’ dengan generasi milenial ini ialah genggaman gadget. Jadi apa generasi milenial tanpa gadget? Ketika semua hal sudah tersedia, mencakup seluruh kebutuhan manusia terkait informasi dan study, menjadikan mereka merasa cukup dan hidup bahagia, namun ada fenomena yang sukar dijelaskan. Fenomena tersebut ialah sebagian besar dari mereka merasa kesepian, kebingungan bahkan sampai merasa kesulitan. Separah itukah? Terkesan berlebihan namun pada kenyataannya memang seperti itu. Dengan gadget semua menjadi mudah. Kegiatan A sampai Z bisa dilakukan, dengan catatan harus ada koneksi internet! Koneksi internet lah yang akan menghubungkan semuanya. Dan inilah yang menjadi root cause-nya.

Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang kreatif. Kreativitas generasi ini juga didukung oleh perkembangan teknologi yang maju sehingga tidak heran jika tiga tahun belakangan ini perkembangan segala hal di dunia didominasi oleh generasi milenial. Perkembangan yang meliputi semua hal berbasis digital, dari menyoal bisnis online sampai layanan foods delivery, dan lain-lain.

Di antara sekian masalah yang mendera generasi milenial, ada masalah yang paling utama bagi generasi milenial adalah persoalan membaca.

Ketika kita membaca berita atau menerima informasi, pemikiran kita akan otomatis menerima hal tersebut. Yang secara tidak langsung setuju dengan konten yang ada di dalamnya. Hal ini akan berbahaya jika apa yang kita terima adalah hal yang tidak benar. Akan ada banyak pihak yang dirugikan, terutama pihak yang terlibat di dalamnya. Apalagi dewasa ini, media banyak dijadikan senjata untuk menyudutkan suatu pihak baik individu, kelompok maupun golongan tertentu.

Dijelaskan, mengutip Q.S al-‘Alaq 1-5, menyatakan bahwa alasan ayat ini diwahyukan pertama kali adalah karena peran besar pena, yang berkenaan dengan membaca dan menulis (reading and writing) dalam membentuk peradaban. Jadi patut kita apresiasi dengan adanya program literasi LISAN, yang merupakan perwujudan dari Q.S. al-‘Alaq ini, yakni proses membaca dan menulis dalam bentuknya yang beragam.

Saat ini ladang dakwah tidak semata di majlis ta’lim dan mimbar saja, tetapi juga di media sosial (medsos). Karena di medsos terdapat generasi milenial yang layak mendapatkan perhatian.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Sebagai generasi muda yang dilabeli sebagai generasi milenial ‘zaman now’, sudah seharusnya kita mengerti tugas pokok dan fungsi generasi muda itu sendiri. Jangan karena terlalu banyak menggunakan gadget dan hidup di dalam dunia cyber membuat kita lupa tugas pokok dan fungsi kita. Dewasa ini kebanyakan dari kita menunduk bukan karena segan dan berperilaku sopan, namun karena fokus pada tautan di layar gadget pada genggaman. Komunikasi dengan rekan kini bukan lagi dengan lisan dan tatap muka, tetapi dengan sosial media. Sosial media dan anak muda memang dua komponen yang tak terpisahkan.

Era digital di mana kemajuan teknologi yang demikian pesat akan berdampak juga pada proses pencarian jati diri dan pilihan mengikuti organisasi. Mereka akan mencari organisasi yang dapat menuntun dan menemukan jati dirinya; organisasi yang menarik minat dan bakatnya; dan organisasi yang melek teknologi. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh banom IPNU khususnya pengurus dan kader IPNU. Tetapi, generasi milennial juga memiliki kecenderungan kreatif dan inovatif. Lebih kritis dan terbuka.

Semoga Generasi Milenial menjadi ladang dakwah baru yang harus digarap serius oleh Nahdlatul Ulama. Penetrasi melalui media sosial menjadi elemen penting yang harus dikuasai dan generasi muda NU dan santri harus lebih dan kreatif lagi dalam di media sosial, jika ingin berdakwah kepada generasi milenial, karena di tangan generasi inilah masa depan Islam dan Indonesia ditentukan, “Sekarang ini zaman milenial, bukan zaman nabi, maka berdakwalah dengan mengikuti zaman, agar islam tetep jaya sampai kiamat”. Dawuhipun Hadlratussyeikh KH. Maimun Zubair (Mustasyar PBNU).

Wallâhu a’lam.

Satu tanggapan untuk “Generasi Milenial Zaman Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *