[Resensi] Lentera Negeri dari Pesantren

Oleh: Miftahul Khotimah

KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Tokoh dengan segudang pemikiran tentang agama, negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan NU, dan pesantren, telah menjadi lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun.

Beliau putra seorang maha Kiai Nusantara, Hadlaratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri organisasi Nahdlatul Ulama serta Pahlawan Nasional RI. Beliau juga ayahanda dari seorang tokoh besar, Sang Guru Bangsa, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam novel “Sang Mujtahid Islam Nusantara” berkisah tentang biografi seorang tokoh bernama KH. Wahid Hasyim, Aguk Irawan menggambarkan perjalanan Kiai Wahid dari lahir hingga wafatnya beliau dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna.

Di halaman awal kita akan disuguhi bagaimana kejadian naas yang menimpa Kiai Wahid dalam perjalanan menuju Sumedang, kejadian yang meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan tetapi juga bagi jutaan umat Islam dan rakyat Indonesia. Seorang ulama muda yang memiliki ilmu pengetahuan yang amat luas dan keikhlasan tanpa batas memperjuangkan nasib umat Islam dan rakyat Indonesia telah wafat pada usia muda. Menjadi duka bersama seluruh rakyat Indonesia. Kejadian tak terperi, ketika usia republik masih balita, namun sudah kehilangan salah satu putera terbaiknya.

Kemudian dilanjutkan dengan cerita –flashback– tentang kelahiran beliau melalui penuturan cerita paman beliau yang bernama Ikhsan, yang merupakan santri kepercayaan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, ayahanda dari menteri agama pertama Indonesia ini. Dipaparkan bahwa semasa kanak-kanak Kiai Wahid adalah sosok yang begitu mencintai ilmu, tampak dari beliau yang begitu senang apabila diajak ikut serta sang ayahanda mengajar para santri. Begitupun ketika para santri sibuk belajar di kamar-kamar atau serambi masjid, maka Wahid kecil akan segera menghampiri mereka kemudian duduk khusyuk mendengarkan dan memperhatikan apa yang sedang mereka pelajari. Dan juga diceritakan bagaimana Wahid kecil membuat Ibundanya, Nyai Nafiqoh dan juga santri-santri di Tebuireng terkejut dengan kecerdasan yang dimiliki oleh beliau, di mana beliau tampak seperti seakan-akan bisa membaca setiap kitab kuning yang ada di hadapan beliau.

Novel ini juga menggambarkan betapa besar andil KH. Wahid Hasyim dalam memperjuangkan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Hal ini tampak pada keikutsertaan beliau dalam keanggotaan BPUPKI, PPKI, dan juga Panitia Sembilan yang bertugas menandatangani Piagam Djakarta, sebuah kesepakatan yang membidangi lahirnya proklamasi dan konstitusi negara. Hingga akhirnya beliau menjadi Menteri Agama pertama Indonesia, dan menjabat sebagai Menteri Agama selama tiga periode berturut-turut.

Karya Aguk Irawan ini memberikan penceritaan yang luwes dalam mengisahkan biografi tokoh penting KH. Wahid Hasyim. Cerita yang dikemas dalam bentuk novel, membuat kita bisa merasakan emosi yang hendak disampaikan oleh Aguk yang pernah dialami oleh Kiai Wahid. Semisal ketika membaca halaman yang menceritakan sang ibunda tercinta Nyai Nafiqoh wafat, atau ketika sang Abah Kiai Hasyim Asy’ari ditangkap oleh tentara Jepang, peristiwa yang secara tidak langsung membawa kita seakan-akan bisa merasakan kengerian yang terjadi di pesantren Tebuireng kala itu. Ketika tentara-tentara Nippon memberondong pesantren dengan peluru, bahkan tidak cukup dengan itu, mereka bahkan membakar beberapa bangunan pesantren, memaksa seluruh keluarga ndalem dan seluruh santri meninggalkan pesantren saat itu juga. Suatu peristiwa yang sangat mendebarkan dan menakutkan yang disaksikan langsung oleh Kiai Wahid. Suatu pengalaman besar nan heroik dari orang-orang tercintanya, yang membentuk karakter tegas memperjuangkan bangsa di masa-masa setelahnya.

Selesai dengan masa kecil Kiai Wahid yang erat kaitannya dengan dunia pesantren, di bagian lain novel kita akan menemukan fakta menarik bahwa sosok Kiai Wahid Hasyim adalah sosok yang gemar sekali membaca, kegemaran yang kelak akan dimiliki oleh anak beliau, KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dipanggil Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia. Dalam usia yang bisa dikatakan dini, Kiai Wahid telah mengkhatamkan banyak kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren, di samping itu beliau juga belajar bahasa Arab, bahasa Belanda, dan juga bahasa Inggris. Bahkan kitab-kitab, buku-buku, dan majalah-majalah yang terdapat di perpustakaan pribadi KH. Hasyim Asy’ari menjadi lahapan sehari-hari beliau.

Diriwayatkan bahwa Kiai Wahid adalah seorang yang tidak pernah lepas dari tadarrus al-Qur’an bil ghaib dan dzikir yang tanpa henti.

Dari novel ini kita juga akan tahu KH. Wahid memiliki perhatian yang sangat besar pada pendidikan, tampak dari kegigihan beliau dalam memperjuangkan pembaruan sistem pendidikan dalam dunia pesantren, dimulai dari pesantren Tebuireng, hingga ke beberapa pesantren di Jawa, bahkan pada tahun 1950 beliau mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang menjadi cikal bakal IAIN atau UIN.

Hal lain yang membuat novel ini menarik adalah banyak hal yang tak terungkap tentang Kiai Wahid, yaitu tentang peran-peran penting beliau, khususnya terkait pada masa mudanya, bagaimana cara beliau belajar, mengajar dan hal ihwal yang terkait kecintaannya pada ilmu dan seterusnya.

Sedikit menceritakan perubahan metode pendidikan di pesantren Tebuireng, ketika pesantren lazimnya hanya memiliki sistem pendidikan yang berbasis murni agama dengan kitab-kitab turats dan menggunakan sistem bandongan dan sorogan yang akhirnya juga mata pelajarannya hanya berkutat pada pelajaran-pelajaran agama. Kiai Wahid oleh restu sang ayahanda, Kiai Hasyim Asy’ari menerapkan metode baru yaitu pendidikan berbasis keilmuan umum, berupa pengajaran Bahasa Latin, Bahasa Inggris, Astronomi modern yang ditautkan dengan Ilmu Falak, al Jabar (Matematika), dan lain-lain. Tidak berhenti di situ, sarana pendidikan juga diperbarui dengan adanya bangku dan meja seperti pendidikan barat yang dibawa kolonial Belanda.

Memang sejak awal mula, Kiai Hasyim menetapkan umat Islam Indonesia dilarang meniru apa-apa yang dilakukan oleh penjajah Belanda dalam upaya perang urat saraf. Oleh karenanya, Kiai Hasyim memfatwakan haram bagi siapapun yang menyerupai penjajah Belanda dalam bentuk apapun, termasuk berpakaian. Namun, seiring dengan berjalannya waktu munculnya Kiai Wahid, sang putera tercintanya, membawa kesadaran dan strategi baru di dalam usaha berperang dengan penjajah Belanda dengan membedakan wilayah teologis (modernisme) dan kebudayaan (westernisme). Kiai Wahid memandang dengan pembedaan itu justru umat Islam Indonesia mampu menusuk jantung kolonialisme dengan efektif, terlebih dengan ikutserta mempelajari keilmuan-keilmuan penjajah dalam upaya melawan mereka. Maka tidak heran apabila Kiai Wahid seringkali tampil dengan busana barat, memakai setelan jas dan dasi.

Oleh karenanya, tidak heran Aguk Irawan memberikan judul bagi novelnya ini, seraya menggambarkan sosok Kiai Wahid Hasyim sebagai mujtahid.

Membaca novel Sang Mujtahid Islam Nusantara: Novel Biografi KH. Abdul Wahid Hasyim secara tidak langsung memberi kita wawasan sejarah, tentang kondisi dunia Islam di tingkat internasional yang surut berkat kemunduran Turki Ustmani, dilanjut dengan dampaknya terhadap keberagamaan dan ke-Islaman di Nusantara, serta lika-liku perjuangan sang tokoh muda KH. Abdul Wahid Hasyim dalam memperjuangkan mimpi besarnya, sesuai semangat zaman.[]

***

*Disarikan dari novel “Sang Mujtahid Islam Nusantara: Novel Biografi KH. Abdul Wahid Hasyim”, karya Aguk Irawan, M.N.
*Mohon maaf penerbit dan tanggal penerbitan tidak dilampirkan karena di bukunya sendiri juga tidak dilampirkan, namun kami lampirkan cover bukunya. InsyaAllah cukup mewakili.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *