Tantangan Dakwah Virtual

Oleh: Muhammad Iskandar Zulkarnain

Dakwah adalah seruan mengajak kebaikan, keindahan dan kebajikan. Namun, dakwah tidak bisa hanya diartikan sebagai sebuah himbauan yang bersifat lisan. Sebenarnya ada berbagai macam bentuk dakwah yang telah dicontohkan oleh sang pembawa rahmat bagi alam semesta, nabi Muhammad Saw. Seperti yang dapat dicermati setiap insan dari perjalanan hidup yang dapat ditemukan dari kitab-kitab sirrah nabawiyyah; “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang sempurna”. Setelah dicermati dan ditelaah mendalam segala perjalanan beliau, maka sang pembaca akan menemukan hikmah besar tak terelakkan, betapa dakwah dalam mengajak kepada kebaikan adalah paket lengkap, berupa sikap terpuji, tindakan luhur, pandangan cerdas, pikiran visioner, keikhlasan tertinggi, pengorbanan tanpa batas dan kesabaran tak tergerus. Inilah jalan dakwah yang telah dicapai oleh nabi Muhammad Saw.

Namun, perlu disadari dan tidak diambil sepotong saja bahwa untuk berdakwah haruslah menyempurnakan diri seperti sang nabi, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”, begitu kata nabi, sebagaimana dianjurkan kepada umatnya. Maka, mengajak kepada kebaikan perlu diusahakan oleh setiap individu sesuai dengan kemampuan yang bisa ia capai, sesuai sebagaimana yang bisa diusahakan.

Kewajiban mengajak kepada kebenaran dan kebaikan masih tetap berlaku seiring berjalannya waktu, zaman yang terus berganti menggiring manusia pada peradaban yang telah mereka buat. Teknologi yang dulu kala terasa asing dan langka, berubah menjadi alat yang menopang kebutuhan sehari-hari. Manusia telah terbawa zaman teknologi, hampir bisa dipastikan masyarakat modern teramat membutuhkan teknologi yang kadang kala tak hanya membawa dampak positif, tapi juga negatif.

Internet, media mainstream dan media sosial menjadi kebutuhan hampir seluruh lapisan masyarakat, Pada tulisan ini, penulis mencoba untuk lebih menghadirkan dampak-dampak negatif dari media mainstream dan media sosial. Derasnya penyebaran berita melalui media mainstream dan media sosial memecah masyarakat menjadi dua golongan. Golongan yang siap dan golongan yang tidak siap. Adapun golongan masyarakat yang siap adalah mereka yang terpelajar dan memiliki pengetahuan yang cukup disertai lingkungan yang kondusif, sehingga dampak penyebaran media dapat diatasi dengan tindakan yang inovatif ataupun preventif. Lain halnya dengan golongan masyarakat yang tidak siap, media mainstream dan media sosial telah mengambil andil yang cukup besar dalam mengolah pola pikir, cara bersikap, gaya berpakaian, etika moral dan bahkan pandangan politik.

Munculnya hoax (berita palsu) memperkeruh suasana. Dewasa ini hoax malah berperan menjadi sebuah dasar suatu tindakan brutal dan pikiran tak masuk akal. Hal tersebut terjadi karena minimnya daya nalar yang berawal dari ketidaksiapan masyarakat dan lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya baik dalam segi sosial, etika moral, pendidikan dan ekonomi. Maka, lingkungan yang ‘tidak sehat’ memudahkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menggiring opini masyarakat sehingga mengakibatkan chaos dan perpecahan.

Dampak yang sangat berbahaya dari hoax adalah pengiringan opini masyarakat, dengan menyebarnya hoax, dakwah yang sudah jelas mengarah kepada kebaikan dibuat seakan dakwah yang menyesatkan. Fakta solid dibuat ambigu tidak karuan. Candaan humoris diubah tabu dan perkara khilafiyah diarahkan menjadi permusuhan.

“Apabila datang seorang fasiq di antara kalian, maka cernalah berita dan kuaklah fakta”, penanganan paling sederhana agar hoax tidak menjajah nalar masyarakat adalah kesadaran masing-masing individu akan pentingnya menguatkan nalar logika, mencerna perkara dengan hati dan tidak terbawa emosi. Selain daripada itu, isu kesejahteraan dan keadilan bagi setiap individu masyarakat dan bagi setiap golongan harus tetap selalu diperjuangkan. Karena masyarakat yang cerdas berasal dari lingkungan yang mendukung lahirnya kecerdasan.

Dakwah menyeru kepada kebaikan (fí sabíliLlâh) adalah suatu paket yang berisi suka dan duka, susah dan mudah. Ada semacam istilah yang patut untuk direnungkan yakni the challenge makes the human stronger, tantangan akan menguatkan manusia. Kalau dahulu tantangan sahabat Nabi Saw. adalah berperang mengangkat senjata, demi menyebarkan risalah tauhid, dan berhasil. Maka perang (dakwah) zaman modern adalah dakwah yang memiliki daya kreatifitas dan daya inovasi yang didasari pemikiran yang visioner, insyaAllah juga akan berhasil.

ومن جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Barang siapa berjuang di jalan kami, maka benar-benar akan kami berikan mereka petunjuk menuju jalan-jalan (kemenangan) kami.”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *