Rasyid Ridha dan KH. Hasyim Asy’ari: Kaji Corak Pemikiran Islam Modern

I

Dari awal tahun 2018, Lakpesdam NU Mesir rutin melakukan kajian reguler setiap dua minggu sekali dengan proyek kaji tokoh pemikir Islam modern. Kajian ini fokus terhadap berbagai watak pemikiran tokoh Islam di abad delapan belas-sembilan belas, yang memiliki intensitas terhadap laku keilmuan Islam, dengan dilatarbelakangi potret zaman kolonialisme menuju post-kolonialisme, namun bukan diskursus kolonialisme itu sendiri. Di samping mengkaji pemikiran para tokoh Islam modern, diselenggarakan juga rutinitas mingguan kajian kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun yang diampu oleh Mas Nova Burhanuddin Lc., sebagai metodologi pendekatan historis. Dan di pertengahan bulan Juli, selama dua hari berturut (12-13 Juli, 2018), Lakpesdam NU Mesir telah mengadakan diskusi reguler di dua tempat, di Rumah Budaya Akar (RBA) dan Sekretariat PCINU Mesir.

Pada pertemuan pertama (12/07/2018), saudara Syamsudin Asrofi mengangkat tokoh KH. Hasyim Asy’ari sebagai tema pembahasan. Rekan pemakalah yang merupakan mahasiswa al-Azhar Jurusan Tafsir tersebut, menggiring persoalan: bagaimana nalar epistemologi Islam saat itu, dalam hal ini tercermin dari pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang, mampu bertahan dalam kondisi paling kritis saat menghadapi kolonialisme di satu tempat, dan melindungi masyarakat dari ideologi menyimpang di tempat lainnya. Persoalan ini oleh pemakalah dibahas secara apik melalui pendekatan post-kolonial, dengan cakupan yang padat-berisi melingkupi pelacakan sejarah KH. Hasyim Asy’ari berupa: perjalanan hidup, pergulatan intelektual serta pengkajian metodologi.

Tak ingin muluk-muluk, bagi Mbah As (panggilan beken saudara Asrofi) setidaknya ada beberapa hal yang perlu di ketengahkan. Pertama, alasan mengapa KH. Hasyim Asy’ari penting untuk turut diangkat dalam diskusi kali ini, selain sebagai pemikir modern, belum adanya kajian konstruktif mengenai hal ini, melihat kajian-kajian atas KH. Hasyim Asy’ari di Indonesia notabene hanya terbatas pada kajian biografi, terjemahan karya, dan kajian hermeneutik, tanpa meyinggung sisi-sisi post-kolonialnya secara lugas.

Kedua, dengan latar belakang demikian, pemakalah mencoba menghadirkan pendekatan post-kolonial yang telah ia baca pada konteks kajian kala itu. Ia menjelaskan pada masa-masa tersebut, kehadiran Barat-Eropa telah menjelmakan dirinya sebagai yang-besar (the big other). Pada pihak yang lain, orang-orang pribumi disebutnya yang-kecil (the others). Kedua klaim tersebut yang kemudian membantu proses mereka dalam mempermainkan hukum pribumi secara bebas, seperti penggunaan hukum adat dan agama sebagai taktik politik kekuasaan. Sebagai bentuk reaksi, implikasi yang terjadi pada kaum pribumi, dalam istilah Homi Bhabha, adalah proses mimikri. Yaitu usaha untuk meniru budaya dan pola pikir penjajah tersebut. Namun rupanya, reaksi model lain telah terjadi pada kaum sarungan yang dipimpin oleh para kyai (termasuk KH. Hasyim Asy’ari), yaitu gerakan ‘menyerang balik’ atas taktik politis kolonial. Proses yang diistilahkan Bhabha sebagai hibriditas.

Terakhir, pemakalah mencoba menelisik otoritas kuasa pada masa tersebut yang erat kaitannya dengan epistemologi dari pemikiran tokoh. Proses yang juga banyak disinggung Arkoun, Abid Jabiri, dan Nasr Hamid pada term relasi antara kuasa dan ilmu pengetahuan. Dua hal yang pada masa kolonialisme memiliki ikatan erat dan bertitik kelindan. Dalam posisi ini, pemakalah menemukan bahwa KH. Hasyim Asy’ari telah berhasil mengambil kebijakan dengan mendahulukan terkait ‘apa yang ada’ sebelum ‘apa yang seharusnya ada’—kedua istilah yang bisa dipahami melalui arkeologi Michel Foucault. Pada yang pertama merepresentasikan pada tradisi Islam dan turats, sedang yang kedua terletak pada problem sosial yang dihadapi saat itu. Dengan demikian, KH. Hasyim Asy’ari telah mendahulukan dakwah terhadap ajaran Islam yang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Lalu pada saat belanda melakukan agresi Militer Kedua di Surabaya, barulah fatwa Resolusi jihad keluar dari KH.Hasyim Asy’ari demi menghalau kolonialisme dan menumbuhkan idealisme nasionalis dalam jiwa santri dan masyarakat saat itu.

Sekilas, pembahasan di atas terlihat sudah begitu sempurna bagi kajian post-kolonial. Pemakalah di satu sisi telah berhasil memenuhi syarat-syarat ketat kajian tokoh post-Kolonial. Di sisi lain, kesempurnaan tersebut hanya berupa ironi, dibuktikan dengan beberapa kritik yang disampaikan oleh rekan-rekan yang lain. Di antaranya, pembahasan yang diangkat terlalu luas. Sehigga banyak dari metodologi yang disampaikan masih belum utuh dan membuat pembaca belum benar-benar paham. Kemudian penulis belum berhasil menulis dengan alur yang runut, sistematis dan berhubungan antar satu bab dengan bab yang lain. Kesimpulan dari kritik serta saran rekan-rekan yang lain, pembahasan dari makalah saudara Asrofi perlu dipersempit ruang pembahasan secara lebih spesifik. Mengingat pembahasan yang terlalu luas akan memakan tulisan dan pencabangan ide yang cukup banyak dan melelahkan.

Kajian berlangsung cukup hangat pada sesi sharing ide. Menarik saat beberapa rekan silang pendapat saat menyatakan KH. Hasyim Asy’ari apakah termasuk katagori tokoh ‘pembaharu’ sebagaimana Abduh, Muhammad Ikbal dan lain-lain, atau tidak termasuk? Pemakalah sendiri yang cenderung netral, menyatakan bahwa KH. Hasyim Asy’ari termasuk katagori ulama klasik. Beliau begitu kuat menjaga tradisi-tradisi ulama sunni dengan prinsip yang terepresentasi pada prinsip Nahdhalatul Ulama’ dalam ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Pemakalah lebih berpendapat spirit yang bisa kita ambil dari ajaran KH. Hasyim Asy’ari adalah spirit humanis dalam menghalau kolonial. Akhirnya menjelang pukul 21;00 malam, kajian diakhiri dengan beberapa nasehat-nasehat inspiratif Mas Nova. Beliau memungkas pesannya bahwa hanya kaum santri yang bisa memahami spirit dan ajaran KH. Hasyim Asy’ari. Orang-orang Barat yang tak mengenal tradisi pesantren tidak akan bisa mengambil pesan reflektif dari sejarah perjuangan KH. Hasyim Asyari.

II

Pertemuan selanjutnya (13/07/2018), sebagai pemakalah saudari Asfarah Supratman mengangkat tokoh Rasyid Ridha, salah satu tokoh reformis Mesir. Meski acara dimulai pukul 14:00 clt, terlihat ketua Tanfidziyah, Mas Ilman M. Abdul Haq turut menghangatkan diskusi bersama rekan-rekan Lakpesdam siang itu.

Rasyid Ridha yang merupakan murid dari Muhammad Abduh sudah tidak asing lagi di telinga kami, mahasiswa Indo Mesir. Kedua tokoh tersebut sering disebut-sebut dalam berbagai kajian, baik menyebut dalam bentuk kritikan, maupun mengenai jasa-jasa pembaharuannya. Hal tersebut juga dirasakan oleh Bunda As (lagi-lagi ini nama beken saudari Asfaroh) dalam makalahnya kali ini. Lebih jauh pemakalah mencoba mengurai secara lebih tajam dalam konteks sosio-historis dari lahirnya tokoh Rasyid Ridha. Secara khusus, membidik bagaimana Timur sebagai objek kolonial dipandang oleh Barat. Dengan mengutip Edward Said, pemakalah mencoba mengurai hakikat orientalisme yang kemudian sangat berkaitan erat dengan invasi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 M.

Perjalanan Rasyid Ridha pun berhasil pemakalah hadirkan secara sistematis-historis. Kesimpulan yang pemakalah dapatkan adalah, perubahan Rasyid Ridha terlihat jelas dimulai sejak ia berkenalan dengan pandangan-pandangan Al-Afghani dan Abduh melalui majalah al-Urwah al-Wutsqo, majalah yang dikelola oleh mereka berdua selama pengasingan di Paris. Ridha melihat sudut pandang baru tentang keislaman setelah sebelumnya ia hanya melihat ajaran Islam hanya berorientasi pada spiritual saja. Setelah perkenalan tersebut, Ridha bertekad untuk hijrah ke Mesir demi menjumpai Syekh Muhammad Abduh dan berguru kepadanya. Setelah sebelumnya ia gagal untuk berjumpa dengan al-Afghani yang terlebih dahulu wafat. Menurut pemakalah, pertemuan dengan Abduh inilah yang menentukan proses penulisan tafsir al-Manar sebagai masterpeace dari seorang Rasyid Ridha.

Dengan mengambil analisa Abdullah Akrozam dalam bukunnya, al-Fikr al-Maqashidy fi Tafsir al-Manar, pemakalah mencoba menguraikan kondisi sosio-historis yang melatarbelakangi lahirnya Tafsir al-Manar. Menurut Akrozam, Secara umum pada masa akhir abad sembilan belas, ilmu pengetahuan di Barat sedang menggeliat dan sangat dikembangkan dalam dunia pendidikan. Namun sebaliknya, kondisi umat Islam sedang terjerumus pada tren jumud dan taklid yang begitu mengkhawatirkan. Keadaan tersebut semakin bertambah parah bersamaan dengan lahirnya gerakan-gerakan dekonsturtif akhir abad sembilan belas, seperti Qadiyaiyah, Babiyah dan Bahaiyah. Kondisi demikian yang memuat sosok Ridha berpikir tentang bagaimana solusi dari kemunduran umat Islam. Di sisi lain, benturan antara Barat dan Timur dari berbagai sisi pada waktu itu telah mendorong lahirnya sikap dari gerakan-gerakan pembaharuan Islam. kira-kira bisa dijelaskan dengan pertanyaan: “apakah umat Islam harus kukuh dengan tradisi Islam yang benar-benar murni, ataukah mengekor pada tradisi Barat?.”

Selanjutnya, pemakalah menarik suatu kesimpulan bahwa kehadiran al-Manar merupakan salah satu bukti dari perjuangan Rasyid Ridha dalam melawan imprealisme Barat. Melalui jalur sosial dan pendidikan, pemikiran dari Tafsir al-Manar diharapkan mampu untuk mengajak umat Islam bersatu padu menghalau Barat. Umat Islam perlu melakukan pembaharuan secara mendasar dalam memahami agama. Hal ini sesuai dengan mazhab salafi dari pemikiran Rasyid Ridha yang mengajak umat Islam untuk kembali kepada masa salaf as-Shalih. Dengan bahasa lain, Islam merupakan solusi satu-satunya atas problematika umat Islam saat itu. Dengan kembali pada ajaran yang benar, umat Islam akan bisa mengembalikan peradaban Islam yang pernah jaya di masa lalu.

Diskusi semakin hangat berlangsung pada saat sesi sharing ide. Menarik saat sebagian rekan Lakpesdam mencoba menelusuri ajaran orisinil dari sosok Rasyid Ridha. Ketika dalam pembahasan Muhammad Iqbal, untuk mencari orisinalitas pemikiran, rekan pembahas menghadirkan ajaran komparatif dengan Abdul Karim al-Jili, sebagai salah satu tokoh yang Iqbal banyak berhutang budi bagi penulisan tesisnya. Lalu jika demikian, apakah perlu menghadirkan Abduh untuk mencari orisinilitas Rasyid Ridha dalam al-Manar?. Sebagian rekan yang lain mencoba mengantarkan pada konteks sosio-historis dari kehidupan Rasyid Ridha dengan mengambil konteks sejarah majalah al-Manar. Sebuah koran bulanan, yang menjadi media Rasyid Ridha dan Abduh dalam menyebarkan ide pembaharuannya.

Sebelum selesai, rekan Ahmad Lukman Hakim, koordinator Lakpesdam memimpin rapat kesepakatan revisi dari seluruh makalah yang sudah didiskusikan sejak tahun 2017 lalu. Diskusi pada Jum’at malam tersebut diakhiri dengan makan bersama hidangan tumis kangkung dan sayap ayam. [ALH]

2 tanggapan untuk “Rasyid Ridha dan KH. Hasyim Asy’ari: Kaji Corak Pemikiran Islam Modern

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *