[Reportase]Telaah Periodik Syair Arab; Propaganda Ideologi Jahiliah dan Islam

Sabtu (28/07/2018), kajian reguler Said Aqil Siradj Center (SASC) NU Mesir —dengan grand tema “Rasionalisasi Keilmuan Islam; Urgensi Sinergitas Akal dan Agama terhadap Arus Modernitas”— telah menghadirkan pemakalah pertama Saudara M Danial Fahmi, dengan judul makalah “Telaah Periodik Syair Arab; Propaganda Ideologi Jahiliah dan Islam”. Yang telah dilaksanakan pada hari Senin, 16 Juli 2018 di sekretariat NU Mesir.

Bangsa Arab dengan keindahan bahasanya, telah menjadi objek turunnya risalah ke-Tuhanan yang terakhir. Bertolak dari sini lah, M. Danial Fahmi —Mahasiswa jurusan Bahasa Arab, tingkat 3 Universitas Al-Azhar— mencoba menelaah Syair Arab Jahili, yang merupakan representasi dari keindahan bahasa itu, untuk bisa dijadikan pengetahuan tentang bagaimana proses pembumian nilai-nilai ajaran Islam. Sebuah nilai-nilai yang tidak bisa dipahami tanpa memahami objek dan titik tolaknya, yaitu syair.

Poin yang diangkat di antaranya adalah pola pikir Bangsa Arab. Pola pikir tersebut dapat dilihat melalui syair-syairnya, karena memang segala tingkah laku dan bagaimana keadaan mereka acap kali dituangkan melalui syair. Sebuah wadah yang bagi orang-orab sendiri sudah menjadi darah daging, tidak bisa dipisahkan dengan keseharian mereka. Baik keseharian yang berupa menciptakan syair atau hanya menikmati tetap saja bisa dikatakan mereka tidak bisa dipisahkan dengan syair.

Pola pikir seperti itu mencoba diurai oleh Danial Fahmi, guna mengetahui bagaimana proses pergeseran nalar Bangsa Arab dari Era Jahiliah menuju Islam. Dari sebelumnya yang tidak terikat dengan nilai-nilai agama, menuju pola pikir yang dihadapkan dengan validitas dalil-dalil Agama. Karena kalau kita lihat lagi saat Islam baru datang, nilai-nilai esensial Islam bisa diterima dengan senang hati oleh orang-orang Arab saat itu. Atau, kalaupun kita melihat banyak yang menentang, pasti yang ditentang bukan esensi ajaran Islamnya, tetapi lebih kepada melihat adanya ajaran baru tentang ke-Tuhanan yang terlihat jelas berbeda dengan ketuhanan yang mereka yakini selama ini, yang tentu menjadi hal berat bagi semua orang —mungkin saja— bila langsung menerimanya.

Salah satu Sahabat Nabi, Muawiyah r.a. pernah berkata, “Syair merupakan tingkatan sastra paling tinggi”. Hal tersebut menandakan bahwa bahkan setelah Islam datang, tak ubahnya syair masih dipandang memiliki derajat yang tinggi. Tidak serta-merta, karena Islam yang datang membawa nilai-nilai baru kemudian menjadikan syair bisa dipandang hina atau setidaknya mereka secara tiba-tiba bergeser pandangannya, syair tidak perlu lagi diagungkan. Tetap saja syair adalah syair, sebuah sastra yang memiliki nilai estetik tinggi, bisa terus digunakan—atau nikmati, dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi, tanpa berkurang nilai estetikanya sedikitpun. Dan setidaknya dari perkataan itu kita bisa memahami bahwa beliau yang hidup sebagai sahabat Nabi—setelah Islam datang, dan mengkuti ajarannya, masih mengakui bahwa syair adalah sebuah sastra yang memiliki kedudukan tinggi.

Kalau kita melihat sejarah pengkodifikasian keilmuan-keilmuan Islam –pada era yang disebutkan oleh sejarah-sejarah Islam dengan istilah ‘ashru at-tadwîn, tentu kita akan tahu bahwa Syair digunakan sebagai rujukan utama. Hal itu menandakan bahwa bahkan setelah Islam datang pun, Syair masih dijadikan sebagai bahan pertimbangan, bahkan rujukan utama dalam mengambil berbagai sikap. Apalagi ini sudah masuk dalam hal keilmuan, betapa orang-orang Arab menganggap syair sebagai hal yang berkedudukan tinggi, hingga mereka banyak merujuknya.

Dari fakta sejarah yang ada itu—baik Bangsa Arab era Jahiliah mapun Islam yang sama-sama mengagungkan syair, Danial Fahmi mencoba menelaah lebih kepada menemukan perbedaan nilai-nilai yang terkandung dalam syair Arab Jahili pada dua era itu—Jahiliah dan Islam. Bagaimana nilai-nilai syair yang belum dipengaruhi oleh Islam, dan sesudahnya? Untuk kemudian kita bisa ketahui bagaimana proses pembumian ajaran Islam ditengah-tengah Bangsa Arab saat itu.

Uraian penulis dalam makalahnya menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadikan Islam bisa diterima ditengah-tengah Bangsa Arab, di antaranya; Islam tidak menghapuskan budaya bersyairnya. Namun Islam tetap mempertahankan budaya itu, disertai dengan adanya filter terhadabnya, sehingga sesuai dengan nilai keislaman. Diantara nilai-nilai yang ada dalam syair Arab Jahili dan tetap dipertahankan oleh Islam adalah amanah, mengajak untuk senantiasa berbuat kebajikan dan memperingatkan manusia untuk senantiasa mengingat datangnya kematian.

Masukan rekan-rekan kajian secara umum, tulisan Danial Fahmi yang berjudul “Telaah Periodik Syair Arab; Propaganda Ideologi Jahiliah dan Islam” masih banyak kekurangan, baik secara diksi dan poin-poinnya. Ada beberapa diksi—dan bisa dianggap banyak, yang masih kurang tepat dalam pemakaian dan penyusunannya. Kajian ini masih dinilai kurang pengaktualisasian dengan fenomena masyarakat saat ini, sehingga mampu menjawab persoalan-pesoalan yang ada.

Adapun secara materi yang diangkat penulis masih kurang esensial, karena masih belum bisa meng-cover apa yang seharusnya ditulis dan dikaji sesuai grand tema yang telah disepakati.

Apapun itu, pemakalah tetap mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya karena telah memiliki inisiatif untuk mengkaji masalah ini dan berupaya menjernihakannya sebagai refleksi bagi kita semua. Semoga bisa menjadi motivasi bagi kita, khususnya kawan-kawan kajian SASC untuk terus berkembang dan tetap semangat. Sekian dan terima kasih.[MA]

sumber: https://www.facebook.com/sascenter.pcinumesir.9/posts/1756074241157747?notif_id=1532830327585000&notif_t=nf_status_story&ref=notif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *