Ihsan, sebagaimana Namanya

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Kata ihsan (ihsân) ialah derivasi dari kata yang bermakna baik (hasan). Kata ihsân bermakna baik, bersanding dengan kata-kata lain, seperti kata khair, shâlih, ma’rûf, al-birr, dan lain-lain. Semuanya bermakna baik. Tapi, kelemahan orang Indonesia selalu tidak bisa membedakan konteks kebaikan yang seperti apa dan titik koordinat penempatan masing-masing kata tersebut.

Para orang tua ketika mendambakan anak-anaknya mesti berdoa “semoga menjadi anak yang shaleh/shalehah”. Pada takaran fiqh dakwah, ada idiom amar ma’rûf nahî munkar, yang bermakna “memerintah kepada hal-hal baik (ma’rûf) dan mencegah hal-hal munkar”. Sebagaimana kata ihsân bermakna baik, oleh karenanya al-Qur’an di dalamnya memuat presisi “yad’ûna ilâ al-khair”. Dan sebagainya.

Pada konteks yang bagaimanakah kebaikan yang memiliki padanan kata-kata tersebut terletak? Bagaimana dengan kata ihsân?

Sebelum melanjutkan, izinkan penulis untuk menyampaikan ceritera tentang seorang bernama Muhammad Ihsan, yang dipanggil Kang Ihsan, atau Pak Ihsan. Seorang senior Masisir, yang bagi penulis, mampu memanifestasikan konteks makna kata ihsân dalam dirinya. Barangkali tulisan ini sebagai oleh-oleh bagi beliau atau sebagai ucapan terimakasih kepada beliau atas “ihsan-nya” selama ini. Sebagaimana beliau bernama Ihsan.

Orang bernama Muhammad itu niatnya ialah semampu mungkin untuk supaya ketemplekan barakahnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagai pemilik nama yang sesungguhnya. Seperti Gus Dur, nama masa kecilnya bernama Ad-Dakhil, yang bermakna Pendobrak. Harapan orang tua beliau ialah si anak menjadi seorang yang mendobrak. Nama Muhammad bagi Muhammad Ihsan (Kang Ihsan), juga mesti bermakna harapan orang tua beliau supaya ketemplekan barakah hingga mendapat syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Lalu, disandingkan dengan kata ihsân menjadi Muhammad Ihsan memantapkan harmoni dari dua kata agung dan keindahan. Bahwa kata ihsân ialah keindahan amal baik seorang hamba yang sudah sampai pada tingkatan takwa. Karena ihsan itu melewati hukum. Hukum sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam hidupnya. Ketika engkau sudah tidak lagi mempertimbangkan hukum, maka yang ada di sana adalah pertimbangan cinta dan ketakwaan. Sebagai contoh, ketika engkau duduk di bus yang penuh sesak dengan terik matahari musim panasnya, lalu engkau melihat seorang wanita tua tengah ikut menaiki bus tersebut dan ikut bergelantungan di antara peluh orang-orang, lalu engkau memberikan tempat duduknya kepada wanita tua tersebut. Di saat seperti itu, engkau telah melakukan kebaikan ihsân, karena jika engkau tidak memberikan tempat duduk itu, engkau juga tidak dianggap buruk oleh hukum. Karena engkau melakukan kebaikan ihsân tersebut, engkau mendapatkan kemuliaan.

Kebaikan ihsan melahirkan kemuliaan. Karena ia berlandaskan cinta. Pun demikian dengan Muhammad Ihsan. Seorang senior Masisir, seorang senior NU Mesir, seorang pegiat Sahah Indonesia yang kondur keprabon beberapa waktu lalu ke Indonesia. Beliau, seorang yang mampu mengejawantahkan ihsan di dalam laku hidupnya. Hingga sesuai namanya. Orang yang memiliki cinta dan ketulusan amat tinggi kepada adik-adik juniornya. Seorang yang juga sangat mencintai ulama-ulamanya. Seorang yang akan sangat mudah menangis dengan lantunan selawat kepada Nabi Saw. yang menggema. Sesuai namanya, Muhammad Ihsan.

Semua orang, tidak hanya penulis, pasti memiliki kesan amat baik tentang beliau. Beliau seringkali menjadi medium bagi kepentingan-kepentingan ruhani dari para mahasiswa-mahasiswi al-Azhar dengan para ulama-ulamanya. Beliau sering juga menjadi tempat bernaung bagi kegalauan spiritual junior-juniornya. Beliau orang istimewa, sesuai namanya, Muhammad Ihsan.

Dalam tulisan yang morat-marit ini, penulis ingin mengungkapkan kesan tentang beliau. Untuk menjadi memori bersama akan sosok yang baik ini, yang beberapa waktu lalu mengakhiri masa pengabdiannya di Mesir. Pengabdian ilmu dan ketawadhukannya yang disebar kepada semua orang yang pernah bergaul dengannya.

Pada tujuan kepulangannya, beliau beserta beberapa ulama al-Azhar akan membuka Sahah cabang Indonesia di kampung halamannya. Sahah Indonesia ialah komunitas orang-orang pecinta ulama al-Azhar yang memiliki aktifitas keilmuan dan spiritual. Kesuksesan beliau di Mesir di dalam menginisiasi dan mengembangkan komunitas Sahah ini, beliau kembangkan di Indonesia.

Bersama tulisan ini, penulis ingin menyampaikan tahniah kepada beliau atas kemuliaan yang disandangnya selama ini di Mesir. Dan semoga kemuliaan ini dibawanya ke Indonesia.

Selamat berpulang ke tanah air, Kang. Semoga langkah jenengan selalu mendapat keberkahan.[]

NU Mesir
05 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *