Mengurai Efektivitas dan Potret Hijab

Oleh: Siti Shofiyah, Lc.

“Budaya adalah representasi suatu bangsa”. Maka tak ayal, jika budaya selalu diidentikan sebagai cerminan bahkan identitas suatu bangsa. Oleh karena itu, pada edisi kali ini teratai berkesempatan mengangkat sebuah tema yang bernuansa budaya, yakni hijab; antara Batasan, Tradisi, dan Kesalehan”. Sebagai salah satu produk budaya, ‘hijab’ akan kita dedah dari berbagai aspek dan sudut, termasuk menguak wajah hijab dan posisinya ‘yang katanya’ sebagai identitas perempuan Muslimah itu.

Pembahasan hijab selalu menjadi bahasan wajib yang berkutat pada nalar Islam dan non-Islam. Sebagian orang mengatakan bahwa hijab perempuan merupakan kewajiban agama-Islam, bahkan dikatakan fardlu áin, yang artinya setiap perempuan (balig) wajib mengenakan hijab. Maka sebaliknya, perempuan yang menanggalkan hijabnya telah menentang syariat dan melakukan kesesatan besar, yang berarti dia telah keluar dari agama dan harus disiksa atas penyimpangan tersebut. Benarkah seperti itu? Lantas apa sebenarnya hakikat hijab? Benarkah ia merupakan kewajiban agama, ataukah sebaliknya? Lalu sejak kapankah fenomena tradisi hijab ini mulai muncul ke permukaan? Pertanyaan diatas merupakan pemantik yang akan menyentil kita untuk segera mengurai potret hijab dan efektivitasnya.

Sejatinya kata ‘hijab’atau ‘jilbab’ memiliki arti yang senada, keduanya merupakan sesuatu yang digunakan untuk menutupi bagian tubuh perempuan. Konsep hijab yang cukup menarik disampaikan oleh Fatimah Marnissi-seorang tokoh feminis Islam kelahiran Maroko, baginya ada tiga dimensi yang saling berkaitan: Pertama, dimensi visual yaitu dimensi yang menyembunyikan sesuatu dari pandangan orang lain. Kedua, dimensi ruang yang memiliki pengertian untuk memisahkan, untuk membuat batas diantara dua hal. Ketiga, dimensi etika, yang berkaitan dengan sikap atau laku kesalehan. Dari tiga dimensi yang dihadirkan oleh hijab ini, maka kita bisa melihat bahwasannya hijab merupakan fenomena simbolik yang tentu saja sarat akan makna.

Dalam teks al-Qur’an ayat hijab dititahkan pada surat al-Azhab ayat 53, yang mana dalam ayat tersebut mengandung tiga hukum, salah satunya adalah meletakkan hijab—hijab secara etimologi adalah tirai/tabir (sâtir)-di antara istri-istri Nabi dengan orang mukmin. Hijab yang diartikan sebagai ‘penutup’ini sejatinya dikhususkan pada istri-istri Nabi Muhammad Saw. pemaknaan inipun tidak melebar kepada sanak kerabat beliau, termasuk anaknya, budak, dan para perempuan Muslimah lainya. Hadis Rasulullah Saw. mengenai hijab pun acap kali dikatakan temporal, karena hijab saat itu digunakan untuk membedakan perempuan mukmin dengan non-mukmin atau perempuan merdeka dengan hamba sahaya. Maka tak ayal jika Sa’id Asymawi dalam bukunya ‘Haqîqah al-Hijâb wa Hujjiyyah al-Hadîs’ pun semakin berani dan lantang menyatakan bahwa rambut perempuan dan laki-laki dalam pemahaman agama-agama (termasuk Islam) bukanlah aurat, karena rambut adalah simbol kebanggaan dan kekuatan dalam tradisi Arab. Dalam hal ini, penutup kepala tidak hanya digunakan oleh perempuan, melainkan laki-laki juga mengenakannya penutup kepala ini disebut dengan thâqiyah, tharbbûsy, atau imâmah. Penutup ini dikenakan ketika akan bertemu dengan seorang pemimpin, hakim, pejabat, dll., begitupun saat mengerjakan salat, penutup kepala digunakan untuk menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan seorang hamba di depan Tuhannya. Tentu saja tradisi ini senada dengan kaum perempuan, tradisi meletakkan penutup kepala hanyalah dikenakan tatkala mengerjakan salat saja, dalam artian bukan setiap waktu.

Sejatinya laku ber-hijab bagi perempuan telah diakui eksistensinya dalam wilayah Mesopotamia atau mediterania, bahkan telah dikenal jauh oleh masyarakat Arab pra-Islam. Asumsi bahwa hijab hanya dikenal dalam tradisi Islam dan hanya dikenakan oleh perempuan Muslimah tentu saja memiliki logika yang bisa dikatakan pincang. Sebelum masa Islam, hijab merupakan bagian dari tradisi yang kadang-kadang saja dikerjakan. Hijab tampaknya tidak dilembagakan sampai Islam mengadopsinya, bahwa hijab terbukti sangat cocok dengan Islam, karena hijab itu Islami. Dari sinilah mulai berkembang suatu wacana yang mengaitkan fenomena hijab sebagai salah satu identitas perempuan Islam. Hijab kemudian diseret dalam ranah ide kultural yang lebih sacral dan berkutat pada tataran dan kesucian privasi seorang perempuan. Bahwasannya perempuan Muslimah adalah perempuan yang mengenakan hijab, dan hijab lebih merupakan keharusan agama daripada keharusan budaya.

Muhammad Syahrur melalui karya konikalnya ‘al-Kitâb wa al-Qur’an’ juga menyatakan bahwa hijab bukanlah persoalan halal atau haram, melainkan persoalan harga diri. Begitupun Qasim Amin dalam magnum opusnya ‘Tahrîr al-mar’ah’ juga membahas masalah ini secara kritis. Namun perlu digarisbawahi-asumsi penulis, meskipun para pemikir tersebut membincang persoalan hijab sevara perseptif, tetapi mereka tetap mengidealkan penggunaan hijab bagi kaum perempuan. Poin penting dari wacana mereka adalah bagaimana hijab tidak membuntel segala bentuk kreativitas, produktivitas, dan inventifitas perempuan. Dalam artian bukan bermaksud untuk melarang atau menganjurkan untuk menanggalkan hijab. Karena sejatinya -saat ini- perempuan bukan lagi makhluk yang bersembunyi dibalik ketiak kaum laki-laki, melainkan sosok yang sudah menjamah setiap lini kehidupan, baik bidang pendidikan, kancah politik, sosial maupun budaya. Perempuan adalah pribadi yang sudah bisa menyuarakan pendapatnya, menuliskan setiap kreativitasnya, dan mendapatkan hak-haknya dengan baik.

Anggapan yang menyatakan bahwasannya hijab membatasi gerak perempuan perlu untuk ditinjau kembali. Faktanya, pada era globalisasi saat ini hijab bukan lagi dianggap sebagai momol menakutkan atau sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sebagai mode yang paling digandrungi oleh kaum perempuan. Perempuan berbondong-bondong mengenakan hijab atas kesadaran sebagai sebuah pilihan dan ekspresi budaya, tentunya tanpa ada unsur tekanan maupun paksaan. Karena sejatinya hijab diterapkan untuk memberikan kehormatan bagi perempuan, pun menjaganya dari segala bentuk ketidakadilan dan hal-hal yang mungkin tidak diinginkan. Hijab dalam gerakan Islam kontemporer saat ini selain sebagai tradisi dan laku kesalehan, juga dianggap sebagai simbol identitas, Batasan norma, dan sarana resistansi Islam, terutama bagi para perempuannya.

Sumber: Buletin Teratai Fatayat NU Mesir, rubrik Editorial, edisi III, April 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *