Turâts dan Peradaban Indonesia Kontemporer

Oleh: M. Nova Burhanuddin, Lc.*

Sebagai umat Islam, kita patut sekali bersyukur. Bersyukur kita memiliki suatu peninggalan yang tak dimiliki peradaban lain, yaitu keaslian kitab suci Al-Quran dan ketersambungan sanad Sunnah. Semua agama dan peradaban lain tak memiliki pondasi sekokoh itu. Dari kekokohan inilah keilmuan Islam dibangun secara meyakinkan, karena apa saja yang tak punya pondasi meyakinkan, tak akan ada hal meyakinkan yang bisa dibangun di atasnya. Kemantapan dua pondasi ini memberi warna baru bagi kemantapan potensi akal. Jadilah dua kemantapan. Dua jenis kemantapan bertemu, kemantapan transmisional (naqliyyah) dengan kemantapan rasional (‘aqliyyah) menghasilkan kemantapan peradaban. Jadilah peradaban Islam yang gilang-gemilang. Sementara peradaban lain punya satu kemantapan rasional saja.

Krisis Kemanusiaan Kontemporer dan Revitalisasi Turâts

Peradaban cemerlang nan seimbang ini harus dilestarikan. Di antara yang paling penting adalah dengan menghidupkan keilmuan-keilmuan Islam matang yang dihasilkan darinya. Entah yang bersifat transmisional, entah yang rasional.

Sementara itu, sangat disayangkan, ternyata peradaban cemerlang ini mengalami kemunduran. Tidak dari sisi kekayaan warisannya, tetapi dari sisi daya hidup manusia-manusianya. Kemunduran itu, sangat disayangkan lagi, ternyata memicu goncangan pada neraca keseimbangan peradaban yang dicapai sebelumnya. Terjadilah keterputusan antara yang transmisional dengan yang rasional. Antara yang bersifat agama dengan yang bersifat dunia. Terjadilah krisis kemanusiaan-ketuhanan yang hebat, sebagaimana mudah kita jumpai di pentas dunia kini. Hal yang menunjukkan ketimpangan dalam neraca keseimbangan peradaban dunia mutakhir. Maka usaha menemukan kemanusiaan sejati pun kini penuh lika-liku di kanan kiri. Namun, harus tetap ditempuh, demi kemanusiaan sejati penuh hidayah Nabi. Caranya, di antara yang terpenting, adalah dengan menghidupkan kembali kejayaan keilmuan-keilmuan klasik Islam, sumber renaissance Barat modern itu sebenarnya bermula.

Pilar-Pilar Peradaban; Indonesia sebagai Contoh

Kerja membangun kembali peradaban itu membutuhkan semacam uji ‘laboratorium’. Sebagai orang Indonesia, kita mulai saja dengan Indonesia. Karena kita mengenalnya lebih baik daripada mengenal bangsa-bangsa lain. Menguasai masalah tentu saja tidak sama dengan setengah-setengah mengerti masalah. Mulailah dari yang paling kita pahami demi kebaikan negeri!

Ada begitu banyak pilar peradaban Indonesia. Semuanya merujuk pada Indonesia sebagai identitas dan fakta sejarah. Identitas menyiratkan esensi, visi, misi, dan jiwa keindonesiaan. Sementara fakta sejarah menyiratkan kenyataan dan realitas Indonesia sebagai bangsa, negara, geografi, sejarah, juga peradaban. Kalau begitu, identitas dan fakta sejarah Indonesia tidak bisa dipisah-pisahkan. Keduanya harus senantiasa ditemukan, dimaknai, digerakkan, dihidup-hidupi, dihayati.

Kita harus kerucutkan lagi! Akan penulis kerucutkan dan konkretkan pilar-pilar peradaban khas ini dalam beberapa titik. Yakni, jiwa membangun, rasionalitas kolektif, kemanusiaan usaha, kemesraan sosial, dan paradigma kemajuan teknologi.

Jiwa membangun adalah cinta. Tanpa cinta tak akan ada yang terbangun sama sekali. Cintalah yang menggerakkan pembangunan itu, pembangunan yang manusiawi dan terarah. Cinta mampu merekatkan, mengumpulkan, menghimpun, dan menyatukan. Cinta adalah daya bangun untuk Indonesia, baik sebagai identitas maupun sebagai fakta sejarah. Akan kita kembangkan pembahasan ini nanti dengan pendekatan konsep cinta dalam tasawuf.

Rasionalitas kolektif adalah daya analisa, daya mencari pola, membangun argumentasi, mengkritik, dlsb. Ia menyiratkan adanya suatu kearifan kolektif, juga kesepakatan kolektif. Kharakter-kharakter besar ini menguatkan peradaban, mengokohkannya, juga mengontrolnya dengan batas-batas kolektif yang bisa dimengerti dan diterima secara massif. Analisis lebih lanjut akan meminjam pendekatan kalam aswaja ketika membangun konsensus teologis ilmiahnya.

Kemanusiaan usaha, maksudnya adalah spirit kemanusiaan dalam semua usaha masyarakat, baik yang berkaitan dengan hukum, ekonomi, interaksi satu sama lain atau antar kelompok, dlsb. Hal semacam itu bisa dicapai dengan memahami maksud-maksud besar, tujuan-tujuan utama dalam semua kerangka usaha di atas; bahwasanya ada pola-pola besar yang menyatukan semua aktivitas tersebut, pola-pola besar yang menjadi pengertian, keharusan, juga kebutuhan masyarakat. Ke depan akan kita ulas mengggunakan pendekatan maqashid syariah.

Kemesraan sosial adalah penghangat suasana, pemecah kebuntuan, pencair ketegangan di masyarakat. Suasana-suasana hangat  semacam ini selalu dibutuhkan, mengingat Indonesia multikultural, multietnis, multikepercayaan, multiagama, fanatismenya juga kental. Sehingga sedikit perselisihan saja bisa jadi konflik horizontal yang luas. Maka dengan pendekatan sastra dan bahasa, ulasan hal-hal semacam itu akan diperluas nanti.

Paradigma kemajuan teknologi, menyiratkan sudut pandang strategis dalam pengembangan potensi alam, potensi manusia, demi kebutuhan masyarakat masa depan. Paradigma yang tepat akan memicu etos kerja yang inovatif, kreatif, juga yang beretika dan bertanggungjawab. Teori kasb asy’arîy akan dipakai dalam ulasan tersebut ke depan.

Manifestasi Lapangan

Tiba saatnya kita masuk pembahasan inti. Di sinilah pilar-pilar peradaban Indonesia di atas akan banyak diulas. Di sinilah teori-teori besar yang ada di kitab-kitab turâts akan diwarnai dan dibuktikan dalam bentuk nyata.

  1. Tasawuf dan Jiwa Pembangunan

Kalau kita menikmati kajian tasawuf, akan kita rasakan spirit-spirit positif yang mendorong kehidupan. Bahkan, dalam satu inti ajaran tasawuf, diuraikan dengan begitu romantis konsep cinta yang pro-kehidupan. Konsep ini berangkat dari ayat mulia Al-Quran وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون . Sebagaimana dikutipkan oleh Ismail ‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafâ` wa Muzîl al-Ilbâs ‘ammâ Isytahara min al-Ahâdîts ‘alâ Alsinati’n-nâs (mengutip dari Tesis Mas Yunus Masruhin, al-Wujûd wa az-Zamân fî al-Khithâb ash-Shûfîy ‘inda Ibn ‘Arabî) bahwa ayat tersebut diartikan dengan “supaya mereka mengenal-Ku” oleh al-Muqri dan Ibn Abbas ra. Lebih jelas lagi dalam suatu hadits qudsi:

كنت كنزا لا أعرف فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق وتعرفت إليهم فعرفوني

Inilah konsep al-hubb al-ilâhîy (cinta ilahi). Atas dasar cinta ilahi inilah, yang termanifestasikan paling privat dalam bentuk ritual ibadah, Allah menciptakan alam semesta.

Kini kita tahu bahwa sejak semula cinta mengandug energi membangun. Maka tak mengherankan, cinta, juga menikmati kehidupan, adalah dorongan paling hebat untuk maju. Dalam tataran praktis, dorongan luar biasa inilah alasan keberlangsungan pembangunan. Walapun ia sudah berubah dari kharakter awalnya sebagai cinta ilahi, tapi sisa-sisa energi cinta tersebut masih luar biasa.

Indonesia yang etos kerjanya terlihat buruk bisa jadi karena etos cintanya juga buruk. Etos cinta Indonesia pada kewajiban kerja masih buruk. Tak ada kerelaan dari dalam diri. Tugas-tugas pembangunan hanya berhenti sebagai tugas. Tak pernah beranjak untuk kembali dihayati bahwa itulah kewajiban dari Allah Swt. kepada manusia untuk memakmumarkan bumi, sebagai takdir yang tak terelakkan. Maka cinta membangun negeri merupakan sebentuk rasa syukur hamba kepada Sang Khaliknya.

  1. Kalam dan Rasionalitas Kolektif

Kajian kalam yang berporos pada pembuktian aqidah keimanan yang meyakinkan melalui dalil rasional, dan mengkritik syubhat-syubhat yang bertentangan. Penanda pertama definisi ilmu kalam di sini memang murni membahas al-ilâhiyyât, an-nubuwwât, al-sam’iyyât, juga al-khilâfah (dengan tujuan tertentu). Namun, jangan dilupakan bahwa dalam perkembangannya, wacana kalam diawali dengan pandangan secara ringkas atas konsep-konsep yang berkaitan dengan alam semesta dan aturan-aturannya sebagai wujud universal. Pandangan awal tersebut beroperasi seperti premis, dalil, atau manhaj untuk masuk pada pembuktian aqidah keimanan. Karena memang membuktikan adanya Tuhan Sang Pencipta seringkali melewati jalur-jalur rasional dalam aturan-aturan alam semesta. Artinya, membuktikan adanya Pencipta lewat bekas ciptaan-Nya. Ini mengharuskan untuk menemukan pola, keteraturan, dan rasionalitas kolektif yang terjadi pada alam semesta dan kehidupan sosial.

Pola, keteraturan, rasionalitas dalam kehidupan ini juga disebut sebagai sunnatullâh. Peradaban manusia, hukum-hukumnya, kembang-kempisnya, megah-hancurnya, mengetahui itu semua tentu bagian dari mengetahui sunnatullâh. Oleh Ibn Khaldun pengetahuan semacam ini disebut sebagai ‘ilm al-‘umrân.

Indonesia yang punya topografi kepulauan, pegunungan berapi, curah hujan tinggi, terik sinar matahari sepanjang tahun, 2/3 wilayahnya berupa laut … variasi-variasi ini tentu saja menumbuhkan kharakter bangsa yang bhineka. Tapi, syukurnya, dapat disatukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kharakter yang heterogen itu tentu lebih membutuhkan pemahaman sunnatullâh lebih kompleks. Menekuninya tentu saja langkah besar mengembalikan kejayaan Nusantara di dunia.

  1. Maqashid Syariah dan Humanisme Hukum, Ekonomi, dan Mu’amalah

Kajian maqashid syariah dewasa ini menjadi sangat penting mengingat kemampuannya untuk membawa pandangan universal atas syariah. Ia seolah ringkasan atas syariah dalam pengertian teknis. Ia juga menyediakan fleksibilitas hukum, karena melihat dari tujuan besarnya yang ia bawa. Ia dengan begitu mampu membawa hukum syariah kepada tujuan-tujuan hakikinya dengan proses  lebih cepat. Ini tentu saja menarik perhatian manusia modern.

Manusia modern membutuhkan pandangan besar yang lebih bisa menjamin kepastian legal, baik dalam bidang hukum, ekonomi, dan mu’amalah dalam interaksinya satu sama lain juga antar kelompok. Mereka membutuhkan maqashid syariah dalam bidang-bidang ini karena lebih bisa memberi sketsa besar yang meyakinkan, juga karena bisa menyediakan fleksibilitas kerja yang tinggi. Seperti dapat kita rasakan dari aturan maqashid syariah ala Asy-Syathibi dalam al-Muwâfaqât berikut:

“Bahwa maqashid dharûrîy (primer) merupakan asal dari maqashid hâjjîy (sekunder) dan takmîlîy (tersier); Kerusakan pada maqashid dharûrîy pasti menyebabkan kerusakan pada maqashid hâjjîy  dan takmîlîy; Kerusakan maqashid hâjjîy dan takmîlîy belum tentu membawa kerusakan pada maqashid dharûrîy; Kerusakan seluruh maqashid hâjjîy  dan takmîlîy pasti membawa kerusakan maqashid dharûrîy pada suatu sisi; Harus menjaga maqshid hâjjîy dan takmîlîy untuk menjaga maqashid dharûrîy.”

Kekacauan aktivitas hukum, ekonomi, mu’amalah, dan interaksi sosial di Indonesia bisa diminimalisir dengan mensosialisasikan aturan maqashid syariah di atas. Ia bahkan aturan rasional yang menembus formalitas ritual ibadah, sampai aktivitas sosial yang beragam itu.

  1. Sastra-Bahasa dan Kemesraan Sosial

Sudah tak bisa disangkal lagi bahwa sastra dapat menghaluskan perasaan, bahwa menguasai bahasa bisa meningkatkan kecerdasan sosial, juga ketertiban pikiran. Sastra membawa makna-makna halus hasil dari refleksi tentang sosial dan alam, sementara bahasa menyediakan latihan keteraturan, ketelitian dalam menyampaikan gagasan ke orang lain. Permainan sastra dan permainan bahasa di tingkat penafsiran bahkan mampu membuka sudut-sudut pandang yang tak terduga sebelumnya, yang mengkayakan pengalaman dan pemahaman. Di tingkat filosofis, pendekatan bahasa bahkan menggiring untuk melukiskan fenomena struktur-struktur kebahasaan sebagai cerminan fenomena sosial yang terkait dengan subjek dan objek. Sehingga, sebagai sebuah cermin, ia menyediakan jawaban atau miniatur atau kerangka dasar untuk menafsirkan fenomena sosial. Bahasa sebagai refleksi fenomena sosial. Itulah strukturalisme.

Aliran ini ternyata punya titik kemiripan yang kuat dengan teori nazhm milik Abdul Qahir al-Jurjani, penulis Dalâil al-I’jâz dan Asrâr al-Balâghah. Ia menyatakan adanya suatu kesatuan bahasa yang merupakan inti pemahaman dan inti keindahan. Kesatuan tersebut tidak terletak pada lafazh, sebagaimana klaim Muktazilah. Namun berada pada kesesuaian lafazh dan makna serta ketepatan susunan, nahwu, dengan maksud sang pembicara atau penulis. Kesatuan ini disebut sebagai an-nazhm. Kesatuan ini sangat cair, fluktuatif, begitu mudah disusun, dibongkar, dirakit kembali, tergantung pada pola permainan bahasa, nahwu, lafazh, dan kesesuaian yang tengah dilakukan. Tentu saja tiap perubahan nazhm membawa perubahan makna.

Permainan kebahasaan semacam itu tentu saja bisa menjadi referensi menarik untuk pengembangan bahasa Indonesia yang belum mencapai kematangan ilmiahnya. Cita rasa bahasa Indonesia, harus diakui, tak terlalu berkembang. Sementara tuntutan perubahan sosial tak bisa dibendung lagi. Maka kemesraan sosial sebagai efek kekayaan bahasa yang semakin meningkat bisa terus diusahakan. Karena kesempitan kebahasaan menyebabkan kesempitan ekspresi, mengakibatkan kesempitan kemesraan sosial.

  1. Paradigma Kasb dan Kemajuan Teknologi

Teori kasb asy’arîy hingga kini masih bisa dikembangkan lebih lanjut. Paling tidak diaplikasikan dalam ranah-ranah yang beragam dan luas. Fleksibilitas teori ini kembali pada posisinya yang moderat. Tidak mengklaim memiliki kuasa total dalam perbuatan (Qadariyyah), namun juga tidak pasrah total dalam ketidak-berbuatan dengan sadar atau terpaksa (Jabriyyah). Teori ini diekspresikan dengan ringkas dalam kalimat:

إن الإنسان مجبر في صورة الإختيار

Kalimat ringkas tersebut melukiskan dua aspek penting. Bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan sehingga kekuasaan dan kemampuannya pun ciptaan Allah swt. bukan ciptaan manusia secara asal. Namun manusia diberi kemampuan untuk berbuat, yang kemudian disebut kasb. Maka suatu perbuatan akan terjadi ketika qudrah dan irâdah manusia berbarengan dengan irâdah dan qudrah Allah swt. atas perbuatan manusia tersebut. Kebersamaan dua entitas, yang satu lemah yang satu Berkuasa, inilah titik paling penting ketika terjadi suatu perbuatan.

Sementara itu, di sisi yang lain, revolusi penemuan ilmiah dan kemajuan teknologi ternyata dibuktikan oleh Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions, berangkat dari suatu paradigma seorang ilmuwan. Ia bukanlah objek total yang berada murni di luar diri manusia sebagai subjek. Ia terpengaruh dan tergantung juga dengan paradigma manusia yang mengembangkannya. Atas dasar itu, paradigma ini juga hasil dari kasb manusia, sehingga peningkatannya dan penempatan refleksinya yang tepat atasnya juga merupakan peningkatan kualitas paradigma. Ujungnya merupakan peningkatan kemajuan teknologi. Maka pengembangan teknologi di Indonesia harus berangkat dari perhatian pada paradigma yang hendak dibentuk. Paradigma yang tepat tentu saja akan meningkatkan kemajuan teknologi yang didambakan.

Dengan uraian singkat di atas, lengkap sudah manifestasi lapangan dari pilar-pilar peradaban yang dibahas dalam esai singkat ini. Penulis sengaja mengambilkan teori-teori klasik Islam yang segar, sebagai hamzah washl (penghubung) masa lalu dengan masa depan. Dengan uraian sebelumnya, ternyata kita ketahui turâts Islam masih punya elan vitalnya di dunia kontemporer. Ia bisa direvitalisasi demi menegakkan pilar-pilar peradaban. Dan penulis mencoba bereksperimen dengan Indonesia sebagai semacam uji laboratorium. Jika berhasil, formula yang ditemukan akan sangat berguna bagi kemajuan peradaban Islam dunia. Karena pada dasarnya, satu peradaban dengan peradaban lain itu saling berinteraksi, saling memberi sumbangsih dan pengaruh.

Semoga bermanfaat!

Husein-Kairo, 15 Maret 2016

______________
*Mahasiswa pasca-sarjana Universitas Al Azhar, Kairo. Sekaligus aktivis keilmuan PCINU Mesir yang menjadi A’wan Syuriah NU Mesir saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *