Pamungkas (PKPNU) Mesir 2018: Nahdlatul Ulama Pantas untuk Diperjuangkan

Sabtu, 29 September 2018, di National Park Abbas el Akkad, PKPNU 0.3 diselenggarakan. Dalam agenda pelatihan kader NU untuk bangsa dan peradaban ini, NU Mesir mengadakan kegiatan tersebut dengan banyak tema kepelatihan kepemimpinan, seperti: Ke-Aswajaan, Ke-NU-an, Kepemimpinan, Ekonomi Syari’ah, Kajian & Dinamika Turats, Media & Jurnalistik, Politik Kebangsaan, Manajemen, dan Keorganisasian.

Acara ini sukses diselenggarakan selama 6 pertemuan, sejak tanggal 14 September-29 September 2018. Adapun materi-materi tersebut diampu oleh berbagai pemateri kawakan dari Dewan Syuriah NU Mesir hingga Ketua Tanfidziyah NU Mesir, Sekretaris Umum, serta Ketua Umum PCI-Fatayat NU Mesir.

Adapun jargon PKPNU 0.3 ini ialah Siap Memimpin dan Siap Dipimpin.

“Betul bahwa pemimpin sejati itu lahir dan tumbuh bersama rakyat dan umat. Tapi, sejak dan sampai kapan kita akan menunggu munculnya pemimpin sejati, bila kita sebagai rakyat dan umat tidak melatih calon-calon pemimpin sejati ini? Kalian adalah calon-calon pemimpin sejati yang dibutuhkan rakyat dan umat di masa yang akan datang.” Ungkap Rais Syuriah NU Mesir, KH. Muhlashon Jalaluddin seraya membuka kegiatan PKPNU 0.3 di hari pertama.

Kegiatan Pelatihan Kader Pemimpin NU (PKPNU) ini merupakan kegiatan Lembaga Kaderisasi Nahdlatul Ulama (LKNU) Mesir yang setiap tahun diselenggarakan sebanyak satu kali. PKPNU 0.3 ini merupakan kegiatan PKPNU yang sukses diselenggarakan di tahun ketiga.

PCINU Mesir mengadakan kegiatan ini dalam upaya melatih dan membina kader-kader Nahdlatul Ulama supaya lebih memiliki militansi dan kapabilitas dalam menghadapi tantangan zaman. Di mana seorang nahdliyin tidak hanya secara kultural keagamaan memiliki corak dan pola keberagamaan yang sesuai dengan kultur Nahdlatul Ulama, akan tetapi lebih dari itu, seorang nahdliyin juga dituntut untuk memahami betul Ke-Aswajaan, Ke-NU-an, Kepemimpinan, Ekonomi Syari’ah, Kajian & Dinamika Turats, Media & Jurnalistik, Politik Kebangsaan, Manajemen, dan Keorganisasian sebagai bekal keilmuan di dalam menghadapi tantangan zaman dan bekal pembangunan umat dan masyarakat.

Dewasa ini, di tengah maraknya Politisasi Agama sebagai syahwat politik kelompok tertentu, kader NU harus mengerti betul seluk beluk sejarah dan dinamika ke-Aswajaan dan Ke-NU-an sebagai fondasi keberIslaman warga NU dan bangsa Indonesia.

“Nahdlatul Ulama tidak hanya sekedar organisasi Islam yang ada di Indonesia saja. Nahdlatul Ulama kalau boleh saya katakan adalah visi peradaban Islam dan dunia. Kenapa demikian? Karena NU memiliki kelengkapan (paket) peradaban yang terdiri dari 4 hal penting sebagai fondasi dan penegak peradaban. Apa itu? Pertama, mistisisme NU yang berakar pada tasawwuf Ahli Sunnah wal Jama’ah. Kedua, manhaj al-fikr/metodelogi (epistemologi) yang berakar pada konsepsi teologis dan fikih Islam Ahli Sunnah wal Jama’ah. Ketiga, kultur dan kebudayaan. Keempat, gerakan (dakwah) dalam segala aspek kehidupan. Maka, beruntunglah kita menjadi orang NU, karena kita memiliki kelengkapan itu.” Ungkap Ketua Tanfidziyah NU Mesir, Ilman M. Abdul Haq dalam materi Ke-NU-an yang diampunya.

“Lebih dari itu, turats juga penting untuk dipahami. Karena memahami ilmu Islam yang sedemikian luas, tidak cukup, bila tidak memahami dinamika turats Islam sebagai akar. Kalau orang tidak memahami ilmu fikih lebih dulu terkodifikasi daripada ilmu hadits, orang akan terjebak pada absurditas kenapa 4 imam madzhab fikih tidak memakai Kutubu as-Sittah. Justru para ahli hadits tersebut memakai salah satu dari 4 imam madzhab fikih tersebut.” Ungkap Kiai Nora Burhanuddin, Wakil Katib I Syuriah NU Mesir, pada materi Kajian & Dinamika Turats.

Sebagaimana tantangan media & jurnalistik, bagi kader NU merupakan hal penting untuk dipahami dan dipelajari di tengah maraknya berita-berita hoax dan fitnah yang tersebar di sosial media. Pada kesempatan ini, Ketua Fatayat NU Mesir, Ibu Nyai Choiriya Dina Safina menjelaskan pola-pola penyebaran berita hoax berserta kontennya sebagai pembentuk opini masyarakat dalam upaya memunculkan dan menghancurkan orang-orang tertentu. Beriat hoax ini seringkali berkaitan dengan kondisi politik-sosial. Lebih dari itu, kader NU juga dilatih cara menulis yang baik, dari mulai berita dengan berbagai klasifikasinya sampai bentuk artikel dan opini.

Pada pertemuan PKPNU terakhir yang digelar pada hari Sabtu, 29 September bertempat di National Park Abbas el Akkad, para kader NU dilatih untuk materi terakhir, yaitu Manajemen Konflik oleh Sekretaris Umum NU Mesir, Sdr. Mahmud Abdullah. Selain itu, pertemuan tersebut juga diisi dengan materi keakraban dan refleksi ke-Indonesiaan serta ke-NU-an yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *