Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

Oleh: Ilman M. Abdul Haq

Agama selalu menjadi kesadaran paling fitrah dari manusia. Islam sebagaimana difirmankan oleh al-Qur’an datang sebagai rahmat bagi semesta alam. Rahmat dimaknai dengan kasih sayang yang harus disebar kepada semua manusia. Maka agama dalam hal ini menjadi spirit kebaikan.

Namun, di sisi lain, agama juga seringkali menjadi semangat perlawanan. Perang menjadi penanda dari kesungguhan perlawanan itu. Rasulullah Saw. menjalani banyak peperangan melawan musuh-musuhnya. Perang Rasulullah Saw. tercatat sebanyak 75 peperangan[1]; dengan kategori ghâzawât sebanyak 28 kali[2], dan sarâyâ sebanyak 47 kali[3]. Perang Rasulullah Saw. tidak lain merupakan bentuk perlawanan terhadap kedzaliman[4]. Namun, perlawanan ini mensyaratkan 3 hal, yaitu bentuk kedzaliman yang ditimpakan. 3 hal tersebut antara lain: pertama, pengusiran dari tanah (rumah) sendiri. Kedua, harta benda dicuri. Ketiga, martabat dan harga diri direndahkan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. terpanggil untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahankan diri. Dengan demikian, Islam memiliki dua sisi mata uang yang dapat berjalan beriringan; kebaikan yang universal dan semangat perlawanan kepada kedzaliman.

Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari juga demikian, sebagai bentuk perlawanan kaum santri kepada kolonialisme Belanda yang ingin merebut kembali tanah jajahannya. Resolusi Jihad merupakan fatwa keagamaan yang lahir dari pemahaman Islam yang mendalam, hingga melahirkan semangat perlawanan. KH. Hasyim Asy’ari tampil sebagai maha guru kiai Nusantara pada waktu itu, mengeluarkan fatwa yang fenomenal dan strategis, di mana beliau tidak justru membenturkan antara agama dengan negara, namun sebaliknya menyatukan semangat keagamaan dengan semangat bernegara dan berbangsa yang merdeka lepas dari penjajahan.

Menjadi menarik di sini, karena melihat fenomena politisasi agama dewasa ini yang dijadikan alat untuk kepentingan politik. KH. Hasyim Asy’ari sebagai simbol kaum sarungan dan Nahdlatul Ulama yang selama ini dianggap sebagai kaum tradisionalis-konservatif, justru tampil di garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia, yang mana konsep negara-bangsa tengah menjadi kesadaran bersama penduduk dunia.

Jikalau kita merunut geneologi spirit keagamaan di Nusantara dari abad ke-18 sampai masa kemerdekaan, akan kita temukan banyak pemberontakan yang terjadi yang dilakukan oleh kaum pribumi kepada kolonial Belanda didasari oleh semangat keagamaan yang tinggi, di mana banyak sekali pemberontakan itu dipicu oleh tokoh-tokoh ulama dan haji. Pangeran Diponegoro mengawalinya dengan Perang Jawa 1825-1830, perlawanan Santri dan Kiai di Tegalrejo, dan pemberontakan petani Banten 1888 yang didalangi oleh Kiai Wasid. Pangeran Diponegoro seorang bangsawan Mataram sekaligus seorang alim dan pelaku tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah. Sedangkan dalam pemberontakan petani Banten, ada nama Haji Wasid, Haji Abdul Karim, dan Haji Tubagus Ismail sebagai tokoh-tokoh utama pemberontakan. Perlu diketahui bahwa sebutan Haji pada waktu itu masih setara dengan gelar keulamaan.

Oleh sebab demikian, Resolusi Jihad boleh jadi kita sebut sebagai terusan dari pemberontakan-pemberontakan pribumi kepada kelaliman kolonialisme yang didorong oleh semangat keagamaan yang tinggi dan kesadaran menyuluruh pada kehidupan masyarakat yang seimbang lepas dari kedzaliman-kedzaliman kolonialisme. Maka pada momentum ini, Resolusi Jihad mencapai titik sublim dari kesadaran yang mendalam akan fitrah keagamaan dan kemanusiaan yang adil beradab. Dengan demikian, NU dan kaum santri mencapai momentum itu sebagai episteme zaman.

***

Kemudian, setelah Resolusi Jihad dikeluarkan dengan fatwa jihad mengangkat senjata bagi orang-orang Islam dalam radius 94 km, dan membantu orang-orang yang mengangkat senjata secara materil bagi orang-orang Islam dalam radius lebih dari 94 km, dan mati syahid bagi orang yang gugur di medan perang, kaum santri dan arek-arek Surabaya dengan dikomandoi oleh para Kiai dan Tentara Nasional Republik Indonesia berhasil memukul mundur tentara Belanda yang membonceng tentara Inggris. Momentum kemenangan karena fatwa jihad ini dicapai oleh kaum santri secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum.

Namun seiring datangnya masa Orde Baru dengan kekuatan otoriterianismenya, fakta sejarah ini mengalami usaha “penghapusan ingatan”. Penghapusan ingatan tersebut dilakukan beriringan dengan usaha fusi politik dengan mengkerdilkan NU sebagai partai politik dengan segala atribut sejarahnya yang gemilang. Lalu, datang masa reformasi dengan jatuhnya Presiden Soeharto. Pintu demokrasi dan kebebasan dibuka selebar-lebarnya, dan NU yang telah kembali ke khittah 1984 juga turut menempatkan dirinya pada posisi pengembalian ingatan fakta Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari. Dan kemudian momentum itu datang di tahun 2015 dengan diresmikannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional sebagai penanda/pengingat akan kontribusi besar kaum santri di dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Adapun tanggal 22 Oktober merupakan hari dikeluarkannya Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari.

Namun, kita perlu bertanya, apakah Resolusi Jihad hanya sebatas fakta sejarah saja yang perlu selalu kita ingat? Tidakkah Resolusi Jihad memiliki makna bagi pembangunan sosial, politik, dan agama bangsa Indonesia?

Barangkali ada dua makna yang dapat kita temukan dari penghayatan sejarah pergolakan Republik Indonesia muda pada waktu itu. Pertama, perjalanan sejarah merupakan pertautan multi-dimensi dari berbagai hal yang dianut dan dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu. Resolusi Jihad memiliki akar ideologis yang kuat berupa semangat pemberontakan/perlawanan kepada kelaliman yang telah dicontohkan para pendahulu. Akar ideologis ini bertumpu pada kesadaran keberagamaan. Dalam hal ini, majunya Islam dan peradaban manusia senantiasa akan terhambat dan mengalami kemunduran terus menerus oleh sebab penjajahan yang meniscayakan kelaliman. Maka, kemerdekaan adalah satu harga mati yang harus ditempuh oleh umat Islam dan bangsa Indonesia, demi terwujudnya kehidupan yang damai, harmonis, dan berperadaban. Dan tidak berhenti di sini, Resolusi Jihad juga bisa dimaknai dengan semangat juang yang tinggi; berupa substansi fatwa jihad yang memiliki nuansa kedalaman ilmu dan spiritual dan rela mati demi memperjuangkan kemerdekaan (Negara).

Kedua, pemahaman atas nilai-nilai Islam yang selalu berintegrasi dengan kesadaran pentingnya bernegara. Bahwa Islam harus dimengerti dan dihayati sebagai suatu nilai universal yang senantiasa mengajak kebaikan, tidak justru dimaknai sebagai sistem politik. Islam tidak boleh dibenturkan dengan Negara, namun sebaliknya Islam harus berjalan beriringan dengan Negara. Hal inilah yang telah diteladankan oleh para founding father, khususnya oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Maka dengan segala permasalahan sosial-politik-dan agama yang bertumpuk-tumpuk itu, kiranya semangat Resolusi Jihad harus dijadikan acuan bagi semua anak bangsa Indonesia. Kehidupan keberagamaan saat ini yang diwarnai dengan ketidakdewasaan pemahaman Islam dan intoleransi serta monopoli kebenaran dengan klaim sesat bagi kelompok lain tidaklah sesuai dengan spirit keagamaan yang mumpuni dari Resolusi Jihad. Ketimpangan sosial-ekonomi saat ini juga sedikit banyak boleh jadi disebabkan oleh kegagalan penghayatan pada gairah kebersamaan di dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dulu. Egosentrisme sosial-ekonomi tidak lain dari kepicikan berpikir dan beremosional. Politisasi agama menjadi kenyataan yang menyedihkan oleh sebab kebodohan. Maka, Resolusi Jihad saat ini harus menjadi semangat juang perubahan, kesadaran sejarah, dan kesungguhan memahami agama secara benar. Tidakkah hari ini merupakan hasil dari masa lalu? Maka, janganlah kita gagal memahami sejarah dan alur kehidupannya!

Semoga para founding father kita mendapat tempat yang mulia di sisi Allah subhânahu wa ta’alâ. Amien.

Salam Hari Santri Nasional.

***

Tebuireng Kairo,
Bawwabat 2, 18 Oktober 2016
6.30 clt

*Tulisan ini salah satu nominator Lomba Essai Hari Santri PCINU Mesir 2016

_________________________
[1] Ibnu Sa’ad al-Baghdadi, At-Thabaqât al-Kubrâ, Daar Shaadir, Beirut, jilid 2, hal. 5-10
[2] Yusuf An-Nabhani, Al-Anwâr al-Muhammadiyah min al-Mawâhib al-laduniyah, Mathba’ah Adabiyah, Beirut, cet. 1892, hal. 61-82
[3] Ibid
[4] QS. Al-Hajj: 39, artinya:
“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka didzalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa untuk menolong orang-orang itu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *