Mengantar Kepergian Ramadan

Bulan Ramadan telah tiba di penghujung waktunya. Sang bulan yang menjadi primadona di antara bulan lainnya akan segera beranjak meninggalkan kita. Sebentar lagi, kita kembali dihadapkan pada bulan-bulan selainnya, menyempurnakan sisa waktu yang telah ditulis oleh-Nya. Meski sebentar, rutinitas kita sebulan lalu cukup membuat hari-hari kita begitu berwarna.

Sedari dulu kita mengenal Ramadan sebagai bulan untuk berpuasa. Sesederhana itu, ia menjadi sesuatu yang mengakar di benak dan menjadi rutinitas tahunan. Namun, pernahkah kita berpikir apakah ia hanya merupa rutinitas yang kemudian berlalu begitu saja, tanpa ada sesuatu yang tersimpan di baliknya?

 

Memahami kembali arti Ramadan

Umat Islam memahami bahwa puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam. Namun, masih banyak di antara kita yang memandang puasa Ramadan sebagai formalitas ibadah, acuh dengan apa yang terkandung di dalamnya. Padahal, jika menelisik lebih lanjut terhadap nas yang menyinggung Ramadan dan puasa, kita akan mendapati hal-hal yang barangkali sering luput. Di antaranya sebagai berikut.

  • Ramadan adalah bulan setan dibelenggu

Telah disinggung dalam Hadits yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzy bahwasanya selama Ramadan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu hingga tidak bebas berkeliaran. Artinya, bahwa godaan yang dilancarkan oleh setan dan kawan-kawannya sementara berhenti di bulan Ramadan. Sesuatu tidak terjadi di bulan-bulan selanjutnya. Sementara itu, di dalam diri manusia terdapat dua godaan besar yang sering membawanya jatuh ke dalam jurang kekhilafan. Pertama, setan dengan rayuan tipu dayanya. Kedua, nafsu yang berada di dalam diri manusia. Pada bulan Ramadan, godaan pertama telah dihalau berkat karunia Allah atas manusia. Sedangkan godaan kedua, ia menjadi kawah juang masing-masing insan.

  • Puasa adalah perisai dari maksiat

Godaan besar yang kedua adalah nafsu syahwat manusia. Manusia bukanlah malaikat yang diciptakan tanpa nafsu syahwat. Ia lahir dibekali dengan keinginan yang setiap saat dapat menjerumuskannya ke dalam lembah kemaksiatan.

Pada bulan Ramadan, dengan berpuasa yang berarti menahan nafsu makan, minum dan kebutuhan jasmani lain, kita dapat menekan gejolak nafsu syahwat. Benar bahwa nafsu syahwat tidak dapat dipisahkan dari manusia, namun ia bisa dilemahkan, dan menahan diri dari makan-minum adalah cara terampuh untuk melemahkan nafsu tersebut.

Tidak hanya itu. Jika kita menghayati arti puasa yang sesungguhnya, maka akan kita dapati bahwa makna puasa tidak hanya berputar pada menahan diri dari makan-minum maupun kebutuhan jasmani lain. Lebih dari itu, sebenarnya puasa adalah ritual menahan diri dari segala keinginan nafsu manusia. Di antaranya, menahan mata dari pandangan yang dilarang, menahan mulut dari perkataan yang dilarang, juga menahan diri dari aktivitas yang dilarang. Yakni menahan diri dari segala yang tidak diridai-Nya, itulah arti puasa dengan sesungguhnya.

Rasulullah SAW, dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bersabda: “Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan berkata yang tidak berguna. Dan jika ada yang mengajak berdebat maka katakanlah bahwa saya sedang berpuasa”. Dalam Hadits lain, beliau juga bersabda: “Betapa banyak orang berpuasa yang (ternyata ia) hanya mendapatkan lapar”. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kerugian tersebut terjadi karena ia tidak menahan dirinya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. 


Esensi Ibadah

Agama yang diberlakukan bagi manusia tidak mungkin bersifat nirmakna. Setiap perintah maupun larangan yang ada, semuanya berpangkal pada satu inti, yaitu kemaslahatan manusia. Begitu pula ibadah puasa, ia bukan ritual formal seperti yang telah dijalankan tanpa tujuan. Ia merupakan ibadah yang mengandung makna luhur bagi setiap insan yang mau merenunginya.  Dalam hal ini, Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Muqaddimah menjelaskan bahwa tujuan setiap ibadah yang diberlakukan bagi manusia adalah terbentuknya karakter mulia, sebagaimana yang digariskan oleh Islam. Dengan rangkaian ibadah tertentu, manusia diharapkan menjadi pribadi yang diwarnai dengan nilai-nilai luhur dalam ajaran Islam.

Dari uraian singkat di atas, barangkali dapat kita ambil pelajaran bahwa sebenarnya ibadah puasa selama satu bulan penuh merupakan ajang latihan bagi manusia untuk menjadi pribadi yang saleh. Puasa mendidik kita agar menjadi manusia yang saleh secara ritual maupun sosial. Kedua macam kesalehan tersebut merupakan sintesis makna dari esensi Ramadan sebagaimana dituturkan dalam ayat suci, yakni takwa.

Selanjutnya, mari kita melihat peristiwa yang terjadi di sekitar. Ada orang yang tekun beribadah, kesehariannya sangat relijius, hidupnya hampir didermakan seluruhnya untuk beribadah semata, namun pada saat yang sama ia tetap berlaku “liar” dan perilakunya tidak cukup mencerminkan nilai ajaran agamanya. Dalam konteks demikian, dapat kita ambil pelajaran bahwa barangkali ia hanya beribadah secara “gambar” saja, belum secara makna.

Mirisnya, pada hari-hari ini justru fenomena seperti itulah yang marak. Sebagian dari kita begitu semangat menjunjung formalitas ibadah dan lupa akan esensi dari ibadah tersebut. Banyak dari kita yang gemar berpenampilan syari namun pada saat yang sama, justru sekelompok ini pulalah yang paling keras menyerukan kemarahan dan ujaran-ujaran yang mengancam keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Jika kita mengingat kembali, ada salah seorang wanita yang ahli beribadah pada zaman Rasulullah dahulu. Ia menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah, namun pada siang harinya, ia tidak bisa menahan mulut dari mencela tetangganya. Menyikapi hal tersebut, Rasulullah lantas mengatakan bahwa wanita tersebut adalah penghuni neraka. Ada juga Abdullah bin Muljam, seorang yang hidupnya dipenuhi dengan shalat dan membaca al-Quran, namun ia pulalah yang menikam Sayidina Ali bin Abi Thalib, salah satu Sahabat yang diberi kabar gembira akan jaminan surga.

Pada akhirnya, Ramadan telah bergegas untuk meninggalkan kita. Ramadan telah dan akan senantiasa mengajarkan kita arti pentingnya sabar dan  menahan diri. Ia telah mendidik kita agar menjadi manusia sosial sejati dan berkarakter mulia. Hari ini, Ramadan telah berpamit, akankah nilai sabar dan esensi moralnya juga berpamit dari kita?

Taqabbalallâhu minna wa minkum, taqabbal Yâ Karîm.[]

Hafidz Alwy

Mahasiswa fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, koordinator Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *