Aspek Humanis dalam Khotbah Haji Wada’

Pada tahun kesepuluh Hijriah, Rasulullah telah meraih suatu keberhasilan gemilang dalam mendakwahkan Islam, yaitu pembebasan kota Makkah. Rasul, pada waktu itu telah mengirimkan delegasi ke penjuru Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam. Tidak hanya di situ, Rasulullah juga mengirim utusan kepada para penguasa imperium dunia dalam rangka mengajak untuk memeluk Islam. 

Di suatu belahan bumi lainnya, Madinah, kota tersebut telah mencapai puncak kekokohan, masa-masa sulit telah terlewati. Berbagai ancaman dari dalam maupun luar Madinah berhasil dihalau oleh Rasulullah dan para Sahabat. Atas siasat madani yang telah dijalankan beberapa waktu, berbagai suku maupun kabilah Arab mengutus para delegasinya untuk menyatakan ketertundukan ke Madinah. Dalam kondisi misi risalah yang sudah hampir paripurna itu, Rasulullah mengutarakan niatnya untuk melakukan rukun Islam kelima, haji ke Baitullah. 

Mendengar hal itu, umat Islam dari berbagai daerah segera bergegas menuju Madinah. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berhaji dengan Rasulullah. Sungguh kesempatan yang menjadi dambaan bagi tiap insan pengagum sosok manusia sempurna, Rasul Muhammad Saw. Mereka mulai berdatangan hingga jumlah mencapai begitu banyaknya. Dalam Shahîh Muslim, Jabir menggambarkan situasi saat itu: 

“… lantas Rasulullah menaiki unta Qushwa’ dengan sempurna. Aku pun melihat hamparan manusia sejauh pandangan mataku di depan Rasulullah. Mereka ada yang berjalan kaki, ada juga yang berkendara. Lalu aku melihat pemandangan di arah kanan Rasulullah, begitu pula arah kiri dan belakang beliau yang sama banyaknya.”

Pada hari Jumat, tepatnya 9 Dzulhijjah empat belas abad yang lalu, di bawah terik matahari padang Arafah, seratusan ribu manusia dari berbagai suku dan kabilah berkumpul, mengerumun dan saling melebur. Mereka saling membaur satusama lain dalam keadaan yang sama, pakaian yang sama, tempat yang sama, status yang sama. Semua menghadap satu sosok untuk mendengarkan butiran-butiran nilai luhur kehidupan yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. 

Pada puncak ritual haji itu, Rasulullah menyampaikan khotbah yang kemudian dikenal dengan khotbah Haji Wada’. Khotbah tersebut mendeklarasikan inti nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam khotbahnya, Rasulullah merumuskan urusan dunia dan akhirat untuk umat yang terkait manusia dan relasinya dengan Tuhan maupun relasi kesalingan antarmereka. Pada hari Jumat agung itu, puncak risalah Islam purna disampaikan. 

Risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw ada kalanya bersifat lokal-fenomenologis, ada kalanya normatif-interpretatif. Kedua jenis risalah ini saling berkelindan, namun mengetahui detail dan kekhasan masing-masing bukan sesuatu yang sulit ditengarai. Misalnya, watak penduduk arab pra-Islam yang kejam merupakan kondisi lokal-feomenologis; hanya wilayah Arab waktu itu; bagaimana yang kuat menindas yang lemah, mewariskan istri ayah maupun mengubur hidup-hidup anak perempuan. Sebuah fenomena lokal biasanya terbatas di suatu wilayah, namun nilai aplikatif yang universal. Dari contoh di atas misalnya, kita bisa menyintesis nilai-nilai humanisme yang hilang pada masa Arab sebelum Islam. 

Rasulullah datang dengan misi mengangkat harkat martabat manusia. Mengembalikan manusia kepada posisi semula, sebagai makhluk mulia. Rasulullah diutus dengan rumusan nilai-nilai kemanusiaan yang—nantinya—sangat jauh melampaui zamannya. Di antara nilai kemanusiaan yang tidak pernah tercetus oleh tokoh, ataupun organisasi internasional manapun kecuali Rasul ialah sebagai berikut.   

  • • “Dengarkanlah aku, aku hendak menjelaskan pada kalian. Karena aku tidak tahu apakah aku akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini, di tempat ini.” Rasulullah mengawali khotbah terakhirnya. Kelak tiga bulan sesudah itu, beliau kembali keharibaan Ilahi.
  • • “Sesungguhnya (mencederai) darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian haram atas kalian  Sebagaimana haram (mencederai) pada hari kalian ini, di bulan kalian ini, di tempat kalian ini. ”  
  • • “Wahai para manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu. Ingatlah! Tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas non-Arab, tidak juga bagi non-Arab atas bangsa Arab, juga tidak bagi kulit merah atas kulit hitam dan tidak bagi kulit hitam atas kulit merah… melainkan dengan takwa.”
  • • “Bertakwalah kalian kepada Allah perihal para wanita. Karena kalian mengambil mereka hanya dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan mereka dengan kalimat Allah,”
  • • “(Senantiasa berbuat baiklah pada) hamba-hamba kalian. (Senantiasa berbuat baiklah pada) hamba-hamba kalian. Berikan mereka makan dari jenis makanan kalian, berikan pakaian dari jenis yang kalian pakai. Jika mereka melakukan dosa yang kalian tidak (mudah) memaafkannya, maka jual saja para hamba Allah itu dan jangan kalian siksa.”

Sungguh Rasulullah telah meletakkan tatanan baru bagi kondisi sosial saat itu. Sebelumnya (sebagaimana masyhur), penduduk Arab merupakan perumpamaan dari keganasan, perselisihan dan kehidupan yang liar. Hukum rimba yang berlaku, tidak mengenal tatanan sedemikian rupa. Namun, berkat risalah Rasulullah, segala bentuk kebengisan dan kekejaman berubah menjadi hembusan nilai-nilai kemanusiaan unggul yang tak pernah terbersit oleh siapapun. 

Kiranya, di hari yang penuh barakah ini, hendaknya kita mengurai ulang benang-benang kusut kebencian menjadi pintal-pintal kasih sayang. Momen lebaran ialah saat yang pas untuk melebar (b. Jawa: melepas) sifat-sifat yang tidak elok, untuk kembali mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai identitas unggul manusia, di antara makhluk lainnya.[]

Hafidz Alwy

Mahasiswa fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, koordinator Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *