SAS Center NU Mesir menggelar kajian reguler pertamanya pada Senin, 25 November 2019, setelah sebelumnya pembahasan tema besar yang akan memayungi proyek kajian tahun ini disepakati. Sebagai pemakalah pertama, Saudara Faiz Hosainie mengawali kajian metodologi orientalisme dengan menghadirkan Ignaz Goldziher sebagai objek pembahasannya. Makalah berjudul “Analisa Metodologi Ignaz Goldziher terhadap Perkembangan Hukum Islam” yang disuguhkan berupaya menjelaskan metodologi Goldziher dalam menilai hukum Islam serta faktor apa saja yang mempengaruhi ketertarikannya terhadap kajian keislaman. Untuk mencapai hal tersebut, pemakalah melakukan penelitian langsung terhadap karya Goldziher yang berjudul Introduction to Islamic Theology and Law.

Jika dipetakan secara garis besar, makalah Saudara Faiz terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ia memulai dengan memperkenalkan Ignaz Goldziher secara singkat. Goldziher digambarkan pemakalah sebagai seseorang yang sedari kecil hidup di lingkungan yang kental dengan kultur intelektualitas dan spiritualitas. Hal ini memberikan stimulus yang luar biasa terhadap perkembangan keilmuannya. Goldziher kecil sudah terbiasa membaca kitab-kitab klasik dan buku-buku berbau pola pikir yang merupakan standar bacaan orang-orang dewasa. Ia membaca tuntas perjanjian lama pada umur lima, juga The Talmud pada umur delapan. Goldziher bahkan berhasil mencetak karya ilmiah pertamanya The Origins and Classification of The Hebrew Prayers pada umur kedua-belasnya.

Kedua, pemakalah menguraikan metodologi serta penilaian Goldziher terhadap hukum Islam. Di dalam buku Introduction to Islamic Theology and Law yang Goldziher karang, ia melayangkan tuduhan yang cukup serius terhadap Islam. Goldziher mengatakan bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan agama yang belum sempurna, sebab produk hukum ada masih terbatas pada lingkungan Arab saja. Hal ini berimplikasi pada ketidaksanggupan produk hukum tersebut untuk diterapkan di daerah-daerah taklukan. Kesempurnaan Islam, bagi Goldziher, justru tercipta setelah kemudian diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Diskusi yang berlangsung selama delapan jam ini berjalan lancar. Pemakalah banyak mendapat kritik mengenai diksi dan tanda baca yang sering kali gagal memberikan pemahaman utuh terhadap poin yang dituju. Sikap pemakalah terhadap Ignaz Goldziher juga dipertanyakan, sebab dalam makalah yang ia tulis, tidak ada satu pun narasi yang berbentuk pertahanan dan pembelaan terhadap tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada Islam. Peserta diskusi sepakat bahwa kesalahan terbesar orientalis adalah menafikan sakralitas Rasulullah sebagai utusan Allah, dan mengganggap Nabi Muhammad hanya sebagai manusia biasa.

Terlepas dari segala kritikan yang merupakan suatu keniscayaan bagi sebuah makalah, pemakalah pun tak luput dari berbagai pujian atas keberaniannya menjadi yang pertama dalam mengawali rentetan kajian metodologi orientalisme. Kemampuan pemakalah dalam merujuk referensi bahasa asing selain Arab juga patut diapresiasi dan menjadi nilai tersendiri dalam kajian yang ia paparkan.