Hubungan antara agama dan budaya merupakan hubungan yang kompleks dan tidak sederhana. Keduanya merupakan dua unsur yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan antara satu dan yang lainya. Agama berisi ajaran-ajaran yang bersumber dari wahyu yang datang dari Tuhan sebagai tuntunan kepada manusia agar menjalani hidup sesuai yang dikehendaki-Nya. Sedangkan budaya adalah hasil karya, rasa, dan cipta manusia yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada di sekelilingnya.

Dari hubungan yang kompleks tersebut, setidaknya muncul tiga pemahaman terhadap keduanya. Pertama, agama dan budaya adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan. Dalam pemahaman ini, budaya sudah menyatu dengan nilai-nilai agama sehingga budaya harus juga dipahami sebagai agama. Di sini nilai budaya menjadi tereduksi atau bahkan hilang sama sekali karena sudah melebur dengan agama.

Kecenderungan menyatukan agama dan budaya memberikan justifikasi bahwa semua apa yang bersumber dari shib al-risâlah, sang pembawa agama, yaitu KanjengNabi, harus dipahami sebagai agama dan bukan budaya. Bahkan, meskipun itu hanya berisi tentang kehidupan sehari-hari Nabi yang meliputi pakaian, penampilan, cara makan, dan lain-lain. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tempat dan waktu dimana Nabi hidup yang mana mestinya, ini masuk ke dalam ranah budaya, bukan agama. Kecenderungan seperti inilah yang sepertinya menginspirasi sebagian orang dengan jargon ‘pengikut sunnah’ untuk total dalam mengikuti sunnah Nabi’, mulai dari cara berpenampilan dengan sorban yang melilit sampai ratusan meter, atau jenggot ala Teuku Wisnu yang sekarang lagi mengetren. Bahkan, ada yang menginginkan sistem negara yang katanya diajarkan oleh Nabi sehingga muncul jargon alkhilâfah alâ manhaj al-nubuwwah.

Kedua, pemahaman yang berusaha membenturkan agama dan budaya dengan menganggap budaya sebagai ancaman bagi eksistensi agama. Budaya yang sudah ada dianggap ‘mengotori’ kesucian agama karena berbau mistis, syirik, dan menyekutukan Tuhan sehingga harus diperangi sampai akar-akarnya. Dalam konteks keindonesiaan, tentu ini sangat merugikan karena selama ini agama dan budaya merupakan modal utama berdiri tegaknya NKRI. Dasar dan pilar Negara seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ikadibangun atas kesadaran akan pentingnya menanamkan nilai-nilai agama dan mempertahankan eksistensi budaya dalam masyarakat. Membenturkan keduanya sama halnya dengan meruntuhkan dasar dan pilar Negara dan merobohkan bangunan keindonesiaan itu sendiri.   

Upaya pembenturan tersebut tampak semakin nyata belakangan ini dengan semakin gencarnya propaganda yang dilakukan kelompok tertentu. Dengan membawa semangat ‘memperjuangkan Islam’ atau ‘mengembalikan kejayaan Islam’, kelompok ini seperti sengaja memberikan pertanyaan yang menjurus kepada pertanyaan tendensius, seperti ‘kamu pilih mana, agama atau budaya?’ atau ‘siapa yang kamu ikuti, Nabi Muhammad atau nenek moyang?’. Atau bahkan yang lebih frontal,  seperti ‘mana yang lebih tinggi, al-Quran atau konstitusi?’ Ketika pertanyaan ini diajukan kepada mereka yang mempunyai semangat agama yang tinggi namun tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang cukup, maka dengan lantang mereka akan menjawab, ‘agama!’ sambil diikuti dengan pekikan takbir yang menggema. Padahal, secara tidak sengaja mereka terjebak dalam pertanyaan yang membingungkan. Sebab, jelas antara agama dan budaya tidak bisa dibandingkan karena berasal dari dua unsur yang berbeda sebagaimana sudah dijelaskan di atas.

Ketiga, pandangan yang berusaha untuk mengharmonisasikan agama dan budaya. Pandangan ini menyadari bahwa agama dan budaya, betapa pun keduanya adalah dua hal yang berbeda, namun bukan berarti harus dibenturkan. Bahkan, ketika keduanya mampu bersinergi dengan baik maka akan saling menguatkan satu sama lain dan akan membentuk suatu karakteristik yang menjadi ciri khas dari persilangan tersebut. Cara pandang seperti ini adalah cara pandang yang ideal karena menempatkan keduanya dalam posisi yang seimbang dan proporsional. Penempatan proporsional seperti ini bisa kita lihat ketika awal mula Islam datang ke Indonesia, dimana terjadi proses pengislaman budaya Nusantara yang dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam. Sehingga, keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara. Islam Nusantara adalah hasil dari akulturasi nilai-nilai agama dan budaya sekaligus.

Memahami Islam Nusantara sebenarnya bisa dilihat dari relasi kata pembentuknya. Islam Nusantara adalah hubungan mudlâf dan mudlâf ilayh yang dalam bahasa Arab menyimpan makna min (dari), fî (di, di dalam), atau lam, li (untuk, ke). Dari makna idfah ini, Islam Nusantara bisa menghimpun berbagai makna yang terkandung dalam relasi mudf-mudf ilayh. Jadinya, pengertian Islam Nusantara yang pertama bisa berarti Islam li Nusantara, Islam untuk dan ke Nusantara. Artinya, kehadiran ajaran agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam Indonesia dengan berbagai instrumen sanad dan silsilah yang menghubungkan para ulama di Arab hingga ke para Tabiindan SahabatRasulullah.

Yang kedua, Islam fî Nusantara, Islam di Nusantara. Artinya, pengalaman historis umat Islam di Indonesia, termasuk refleksi tekstual normatif dan historis umat Islam dunia tentang Islam yang diamalkan di Indonesia. Pengalaman itu mencakup sejarah pengislaman Nusantara, kesultanan dan raja-raja, pesantren dan jaringannya, perjuangan umat Islam melawan penjajah asing, hingga kontribusi umat Islam bagi pergerakan kebangsaan dan pembentukan NKRI.

Yang ketiga, Islam min Nusantara, Islam dari Nusantara. Yaitu himpunan aqwâl (kaul-kaul, pandangan, suara, refleksi pemikiran, kitab-kitab) para ulama Nusantara, makrifat dan ijtihad mereka tentang Islam Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus memberikan patokan normatif dan historis dalam pengalaman Islam yang rahmatan lil ‘âlamîn. Termasuk juga ide-ide mereka tentang ajaran keagamaan yang relevan bagi bangsa di dunia berdasarkan pengalaman terbaik yang dimiliki bangsa kita. Islam Nusantara juga merupakan cara bermazhab secara qawliy dan manhajiy dalam beristinbattentang Islam dari dalil-dalinya yang disesuaikan dengan teritorial, wilayah, kondisi alam, dan cara pengamalannya menurut penduduk kita.  

Dari sini, bisa dipahami alasan munculnya istilah dîn arab jâwî dari abad ke-18, dimana istilah ini sangat identik dengan sebutan Islam Nusantara, karena kata Jâwî sendirimencakup arti Nusantara. Kalau dîn ‘arab berarti agama Islam substansi Aswaja, lalu Jâwî sebagai buah pengalaman, subjektivitas dan suara ke-Nusantara-an kita, maka dîn arab jâwî adalah Islam Aswaja dari Arab tapi diwarnai dengan karakter Jâwî atau ke-Nusantara-an. Cara memahami dan mengamalkan Islam dari sudut pandang masyarakat kita sebagai orang Nusantara yang kaya alam dan peradaban.

Kalau boleh diibaratkan, Islam Nusantara tak ubahnya seperti pertemuan dua bibit pohon unggul yang berbeda jenis, yaitu Islam yang mewakili agama dan Nusantara yang lekat dengan nilai budaya. Namun, ketika disatukan dalam proses persilangan, keduanya akan menghasilkan sebuah bibit baru yang lebih unggul. Persilangan Islam dan Nusantara diperlukan untuk memperoleh genus baru dengan karakter atau sifat unggulan yang diinginkan. Diharapkan, dari persilangan ini akan muncul cara beragama dan berperadaban dengan sifat-sifat unggulan baru sebagai hasil gabungan dua keunggulan tadi. Ketika dua bibit baru ini muncul bernama Islam Nusantara. Yang diharapkan dari proses tersebut adalah sifat unggulan yang dimilikinya, yaitu adaptif, fleksibel, toleran, multikultural (menghimpun beragam ekspresi budaya masyarakat), berdaya tahan kuat, dan awet dalam zaman. Juga guyub, kolektif atau komunal, yakni bermusyawarah-mufakat, mengedepankan suri tauladan, sopan-santun, dan beradab.  

Pertemuan keduanya dibutuhkan untuk memberi solusi pada masalah-masalah kemanusiaan pada umumnya, dan juga secara khusus untuk masalah-masalah kebangsaan kita. Apalagi, akhir-akhir ini Indonesia sedang mengalami ancaman perpecahan dengan maraknya pemikiran transnasional yang membahayakan keutuhan bangsa karena menghilangkan jiwa patriotisme dan kurangnya komitmen terhadap negara dan bangsa.

Pertemuan dua bibit unggul ini bisa dilihat dari tradisi yang di Jawa disebut dengan tradisi selamatan. tradisiselamatan awalnya diadakan untuk berterima kasih kepada para dewa dan leluhur atas nikmat yang diberikan. Tradisi ini dilakukan dengan menyiapkan berbagai jenis makanan untuk dijadikan sesajen. Setelah Islam masuk, selamatan diartikan sebagai suatu acara yang diadakan sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang Allah diberikan. Selamatan ini dilakukan dengan kehadiran beberapa anggota masyarakat yang di depannya disajikan berbagai jenis makanan dan dilakukan pembacaan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT oleh seorang tokoh terkemuka dalam masyarakat tersebut. Tradisi selamatantersebut kini disebut dengan tahlilan.

Akulturasi antara agama dan budaya juga bisa dilihat dalam berbagai peninggalan bangunan. Misalnya, dalam pembangunan tempat ibadah. Sebagai contoh, Masjid Demak merupakan wajah nyata akulturasi antara Islam, Jawa dan Hindu. Salah satu masjid tertua di Nusantara ini dibangun dengan gaya khas Majapahit, namun juga membawa corak Hindu. Begitu juga dengan Masjid Menara Kudus yang kental dengan nilai toleransi. Konstruksi bangunan Menara yang menjulang ternyata meyerupai candi khas Jawa Timur. Di balik karakteristik masjid Menara Kudus terdapat makna perwujudan sikap tepo seliro atau tenggang rasa sebagaimana menjadi ajaran dari Sunan Kudus. Dalam berdakwah, Sunan Kudus lebih memilih untuk mengapresisai budaya setempat sehingga tidak terjadi shock culture di tengah masyarakat.

Hadirnya Islam Nusantara merupakan tuntutan akan lahirnya Islam yang moderat, damai, dan toleran. Ia merupa sebuah kebutuhan untuk mempertahankan kekayaan budaya yang mulai terkikis oleh paham-paham baru yang tidak ramah terhadap budaya. Selain itu, Islam Nusantara merupakan tawaran di tengah konflik tak berujung yang melanda dunia, khususnya negara dengan penduduk Islam mayoritas.

oleh: Muhammad Zainal Arifin, pegiat kajian SASC NU Mesir