Senin, 21 Oktober 2019, SAS-Center NU Mesir kembali mengadakan kajian dwi mingguan dengan format kajian-interaktif, yaitu kajian yang digelar untuk mengasah kedalaman tulisan dan dialektika anggota baru. Kajian-interaktif ini diharapkan sanggup mempersiapkan anggota baru secara materi dan metodologi untuk masuk ke kajian-regular. Nah, pada diskusi interaktif ini Sdr. Fajri Qonash membawakan suatu tema yang berawal dari kekaguman penulis pada pioner mazhab Syafi’i, Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i dan juga kegelisahannya pada sebagian kelompok yang terjebak dengan sikap prutanisme agama dan terkungkung oleh adagium “kembali pada Alquran dan Sunah.” Makalahnya ia beri judul “Imam Syafi’i: Jembatan Dua Pemikiran dan Warna Baru dalam Fikih”.

Kekaguman yang dibawa oleh penulis terhadap Imam asy-Syafi’i, tidak lantas membuatnya subyektif dalam menarasikan perjalanan intelektual sang Imam hingga beliau menjadi sosok penengah di antara perseteruan kalangan fukaha yang tekstualis dan kontekstualis.

Sebagaimana yang tercatat dalam tinta sejarah, pada akhir abad pertama hingga pertengahan abad kedua hijriah terjadi benturan yang cukup tajam di antara dua kubu fikih. Di poros yang pertama menuturkan bahwa dalam menggali hukum, sepatutnya produk yang dihasilkan tidak sampai melampaui dari redaksi yang telah diwahyukan oleh Allah Swt. atau disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw., sebab jika tidak maka konklusi yang dihasilkan akan melabrak dasar-dasar agama.

Di sisi lain, poros kedua memandang lebih terhadap teks yang tertuang dalam Alquran atau Hadis. Mereka bersikap out of the box dalam membaca teks yang tertuang, untuk kemudian dikontekstualkan dengan perubahan zaman di masa itu. Dari perseteruan yang tidak kunjung usai tersebut, maka lahirlah fanatisme terhadap mazhab fikih, sehingga menimbulkan sikap yang kurang intelektual di dua kubu itu. Dengan kondisi yang sedemikian, membuat Imam Syafi’i muda tergugah nalar intelektualnya untuk bisa meredam perseteruan di dua klan fikih tersebut. Sehingga Imam Syafi’i mempelajari nalar logika dari fikih tekstual yang diwakili oleh mazhab Maliki dan metodologi yang termaktub dalam mazhab Hanafi, dengan belajar kepada Imam Muhamad bin Hasan asy-Syaibani. Dan di kemudian hari, setelah beliau berpindah ke Mesir, maka beliau mencetuskan produksi hukum baru (qawl al-jadîd) sebagai ganti dari hukum yang lama (qawl qadîm).

Bagi penulis, bukti konkret bahwa Imam Syafi’i pelerai dari dua kubu di atas adalah keberhasilan sang Imam dalam mereformulasi metodologi kalangan tekstual dan rasional dengan melahirkan hukum yang baru bagi mazhab beliau. Hanya saja kesimpulan yang apik dari penulis mendapatkan banyak kritikan dari para pengkaji, sebab bagi mereka penulis terjebak dengan nuansa terbentuknya qawl qadîm dan qawl jadîd saja, tidak membeberkan data yang lebih konkret terkait usaha intelektual Imam Syafi’i dalam memadamkan api fanastisme mazhab fikih. Di samping itu, mereka juga mengkritik penulis atas justifikasinya terhadap Imam Malik sebagai tekstualis atau ahli Hadis saja, tanpa melihat sisi ijtihad beliau yang juga memakai pisau logika. Misalnya konsep istihsân atau mashlahah mursalah yang notabene prisma paradigmanya tidak melulu soal teks suci, namun juga berkait kelindan dengan kondisi sosial dan budaya di suatu daerah tentu.

Penulis juga dikritik soal tidak lengkapnya unsur-unsur pendukung dalam mengkaji tokoh tertentu, dalam hal ini asy-Syafi’i. Contohnya sosok yang mempengaruhi intelektual dan integritas beliau, serta orang-orang yang dipengaruhi oleh paradigma asy-Syafi’i. Hal itu dirasa penting karena untuk mendapatkan ilustrasi yang utuh dan implikasi yang didapat akan kehadiran beliau dalam khazanah keislaman, maka harus disebutkan juga dua unsur di atas.

Selain kritik, peserta yang hadir —dengan jumlah sekitar lima belas— juga cukup antusias dalam memberikan solusi untuk menyempurnakan makalah yang dihadirkan oleh Sdr. Fajri, meskipun kritik dan solusi tersebut tidak menafikan bobot makalah yang ditulisnya. Akhirnya diskusi panjang tersebut bearkhir sekitar jam 20.00-an Clt, yang dimulai pada jam 12.30 siang. Para peserta berharap semoga Sdr. Fajri nantinya setelah masuk ke dalam kajian regular SAS-Center, bisa lebih berkembang lagi dan kelak menjadi sosok intelektual yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas terhadap keilmuan yang ditekuni.[]

Notulis: Ahmad Ilham Zamzami