Salah satu kelebihan Ibnu Khaldun dalam menuliskan Muqaddimah adalah pemaparannya yang sangat mirip dengan kerangka karya tulis ilmiah saat ini. Ibnu Khaldun memulai kitabnya dengan pembukaan metodik yang mengisyaratkan perihal metodologi sosial dan sejarah yang ia gunakan. Selain itu, sebelum masuk ke pembahasan inti Muqaddimah, Ibnu Khaldun juga mengawali bab pertama dengan beberapa pengantar-pengantar penting. Hasan al-Sa’ati dalam kitabnya, ‘Ilm al-Ijtima’ al-Khaldûniy; Qawâ’id al-Manhaj menerangkan bahwa setidaknya ada enam metodologi yang digunakan Ibnu Khaldun dalam analisis sejarah dan sosialnya.

Pada Kamis, 26 September 2019 lalu, bertempat di Rumah Lakpesdam HaySabik, Lakpesdam Reguler kembali melanjutkan diskusi metodologi Ibnu Khaldun dengan menggunakan kitab karya Hasan al-Sa’ati di atas. Kajian yang dihadiri delapan personel tersebut dimulai pukul 14.30-21.00 WLK. Dalam diskusi kali ini, setidaknya ada tiga metodologi Ibnu Khaldun yang berhasil dikupas. Pertama, al-qiyas bi al-syâhid wa bi al-ghâib. Metode ini merupakan hasil adopsi Ibnu Khaldun dari ulama ilmu kalam dan usul fikih. Dimana, yang sebelumnya digunakan dalam mencari argumentasi rasional di bidang akidah dan mengistinbatkan hukum syariah, oleh Ibnu Khaldun diterapkan dalam penelitian sosiologi dan verifikasi riwayat-riwayat sejarah. Metodologi ini merupakan salah satu aspek penting dalam kerangka berpikir metodik Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, dimana kata Ibnu Khaldun, salah satu penyebab utama sebagian ahli sejarah jatuh dalam kesalahan periwayatan adalah karena mereka tidak menggunakan kias dalam menganalisis kabar-kabar yang datang dari masa lampau.

Kedua, al-sabr wa al-taqsîm. Al-sabr di sini diartikan sebagai upaya membaca kemungkinan-kemungkinan yang menjadi sebab dari suatu peristiwa, sedangkan al-taqsîm ialah tahap setelah al-sabr, yaitu memilih sebab yang paling benar dan cocok dari beberapa kemungkinan-kemungkinan yang ada. Salah satu permasalahan yang dibaca Ibnu Khaldun menggunakan metodologi ini adalah ketika ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai alasan penetapan seorang pemimpin dari kalangan Quraisy. Pendapat masyhur tentang hal ini ialah untuk bertabaruk (mengambil berkah) dari keturunan baginda Nabi SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa, sebab dipilihnya Quraisy adalah karena pangaruh al-‘ashabiyyah (solidaritas sosial) mereka  yang kuat dibandingkan dengan suku-suku lain. Setelah melakukan ­al-sabr dengan menyebutkan kemungkinan-kemungkinan sebab, Ibnu Khaldun melakukan upaya at-taqsîm berlandaskan maqashidsyariah dengan menguatkan pendapat yang kedua.

Ketiga, al-ta’mîm al-hadzr. Salah satu kekurangan penggunaan metode induksi (istiqra’) ialah kesimpulan yang dihasilkan mempunyai sifat dzanni (dugaan) dan tidak pasti. Induksi sendiri merupakan suatu metode penelitian yang berangkat dari hal-hal yang sifatnya parsial (juz’iy) ke yang universal (kulliy). Kekurangan ini tetap dianggap sebagai sebuah masalah oleh Ibnu Khaldun. Akan tetapi melalui metode al-ta’mîm al-hadzr, Ibnu Khaldun berusaha menutupi permasalahan metode induksi tersebut. Dengan metodologinya ini, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menggunakan istilah-istilah khusus untuk menunjukkan tingkat keyakinan teorinya, misalnya: ghâliban (kebanyakan),  fî al-aktsar (sering kali), dan lain sebagainya. [HH]