Tafsir al-Mukhtazin merupakan salah satu bukti kealiman Imam Ahlusunah wal Jamaah, Abu Hasan al-Asyari, dalam berbagai disiplin ilmu. kitab ini—menurut Prof. Adnan Zurzur,memuat metode penelitian yang dikhususkan terhadap ahli bidah, penafsiran-penafsiran yang menyimpang, dan kemudian memaparkan interpretasinya yang benar. Namun sangat disayangkan, tafsir ini hilang dalam perjalanan sejarah Ahlussunnah wal jamaah, sehingga generasi setelahnya kesulitan dalam mengenal kebesaran Imam Asyari dalam dunia tafsir. Dari sini mereka berusaha merekonstruksi pemikiran Imam Asyari dengan berbagai sudut pandang, terutama manhaj yang ia gunakan dalam menafsirkan nas Alquran.

Untuk meneruskan siklus ilmiah di atas, LAKPESDAM Mesir mecoba melakukan pendekatan ilmiahdengan menawarkan penafsiran ayat teologis Imam Asyari melalui teori pendekatan sistem. Tema yang dipresentasikan oleh Syamsuddin Asrofi ini, menitikberatkan pada analisa rumusan teologi Sunni dalam memperkenalkan ketuhanan, menguji argumentasi Sunni dalam menafsirkan nas-nas teologi, serta melihat nilai episteme Sunni dalam lingkup universal.

Beberapa hal penting seputar kajian yang digelar pada Kamis, 7 November 2019 tersebut ialah pengulasan kembali makna aqidah pada masa kenabian dari individu menuju kesadaran kolektif, dari kesadaran kolektif yang bermuara pada tatanan masyarakat baru yang diistilahkan oleh pemakalah sebagai rumusan akidah generasi Salaf. Semua hal itu pada dasarnya tidak dapat dipahami secara keseluruhan oleh masyarakat Arab Jahiliah yang mempunyai keistimewaan dalam segi bahasa. Hal mendasar yang patut diperhatikan adalah perbedaan metodologi penerimaan (talaqqi) dengan metodologi perumusan (istidlal) dalam tema-tema teologis.Pemakalah juga menyoroti penafsiran Imam Asyari dalam segi tafsir ‘Humanis’ sebagai tindak-tanduk Syaikh Imam Abdullah bin Bayyah dan Grand Syaikh Ahmad at-Thayib dalam mewujudkan moderatisme Asyari.

Diskusi  selama 7 jam ini berlangsung lancar dan semakin seru lantaran berbagai kritik dan saran disampaikan peserta kajian perihal tema yang diusung. Walaupun dalam beberapa hal, pemakalah dianggap kurang dalam menjelaskan metodologi penafsiran Imam Asyari, serta memberikan pertanyaan besar bagi peserta seputar tafsir humanis Imam Asyari. Namun secara keseluruhan, perihal kaidah kepenulisan dan ketatabahasaan dinilai cukup baik, terlebih tema yang diangkat sangat menarik.