Berbeda dengan fikih, mawarits ataupun cabang ilmu yang berada di bawah syariah (fakultatif, bukan syariat sebagai lawan hakikat), ada kepantasan untuk menerima (qâbiliyyah) tasawuf di dalam diri saya. Entah mengapa, sampai setahun ke belakang saya merasa bahwa ilmu ruhani seperti ini sangat penting untuk ‘kesehatan’ batin.

Sehat yang saya maksud di sini bermakna dua hal. Pertama, adanya bekal pengetahuan untuk mendekati makrifatullah. Ini bisa didapat dari cerita perjalanan dan pengalaman tasawuf sufi lintas waktu dan zaman. Kedua, suburnya hati sebab zikir serta upaya menerapkan suluk-laku sufi. Ini sebagaimana al-Quran mengatakan bahwa ‘hanya dengan zikirlah hati merasa tenteram’. Dalam ayat yang lain dikatakan, ‘orang-orang mukmin ialah mereka yang bergetar hatinya saat disebut nama Tuhannya’. Atau redaksi lain yang menyatakan bahwa merupakan sebuah fitrah dan keaslian, saat seorang yang beriman selalu terikat dengan Tuhannya; baik dengan mengingat-Nya secara lisan maupun tingkah laku dan pemikiran.

Pendekatan para sufi dalam bertasawuf berbeda-beda. Fenomena-fenomena kemunculan kecenderungan sufi (tajalliyât shûfiyyah) yang dikenal hingga hari ini juga bermacam-macam. Ada yang mendekati-Nya dengan cinta, zuhud, kesatuan wujud, kesatuan persaksian, penyingkapan dan laku-laku lain yang disebut di dalam buku-buku tasawuf klasik maupun modern. Hal itu masing-masing diraih setelah melalui makamat/kedudukan dan kondisi-kondisi (maqâmât wa al-ahwâl) yang dialami oleh para sufi. Jika ada satu hal yang sama di antara mereka, barangkali ialah bahwa kesemuanya berupaya berjalan menuju hakikat, dari laku-laku syariat. Masing-masing dari mereka berupaya menemukan ‘rasa’ dalam bercakap dengan Tuhannya.

Di antara lelaku yang bermacam rupa, intuisi dan kepekaan merupakan piranti utama sufi dalam menuju Tuhan. Mereka mengajak hati merasai kehadiran, dan bukan akal. Mereka menginginkan kepercayaan utuh serta ketundukan, bukan nalar kritis yang selalu menyangsikan. Perbedaan penerimaan keduanya dalam kesadaran kita akan terasa saat Anda membaca buku-buku seperti logika, filsafat dan ilmu kalam, kemudian disusul dengan membaca buku-buku tasawuf. Pada tahap ini, saya berpikir bahwa tasawuf dan ilmu-ilmu logika tidak bisa berjalan di satu waktu yang sama.

Kecenderungan laku tasawuf dari cinta, zuhud dan seterusnya yang dialami oleh para sufi Islam klasik tidak relevan lagi hari ini, jika kita terapkan sebagaimana laku mereka dahulu. Apalagi bagi seorang pelajar, pemaknaan tasawuf mesti berbeda. Sebab, pemaknaan secara apa adanya (laku-laku) asketis hanya akan menanggalkan nalar kritis sebelum waktunya. Dari sinilah mengapa banyak dari guru berpesan, ‘selagi muda, belajarlah berpikir yang benar-menjadi sufi secara natural akan terjadi di masa senja’. Sebagai sebuah kemestian diskursif, ini bisa kita lihat pada proses pemaknaan ulang sebuah teks keagamaan yang begitu masif, baik dalam ilmu kalam-tafsir (dari pendekatan teosentris menuju antroposentris), usul fikih, apalagi fikih. Menutup aurat, misalnya, sebagai sebuah makna ia tetap terjaga, namun cara berpakaian dalam rangka memenuhi makna termaksud berbeda-beda seiring perkembangan kehidupan manusia.

Saat kita menyadari bahwa laku-laku sufi tersebut tidak bisa dipraktikkan persis sebagaimana para sufi klasik, ini memungkinkan adanya pemaknaan baru terhadap konsep sufi dan cara bertasawuf hari ini. Untuk memudahkan analisis, saya akan mengambil pendekatan intuisi-hati sebagai hal yang berserikat (hadd al-musytarak) antarsufi lintas zaman. Sufi di sini saya reduksi maknanya sebagai ia-yang-menyisakan-ruang-intuisi dalam melihat realitas, meskipun ia seorang pemikir atau filsuf, misalnya. Sehingga, keseragaman tahapan tajalliyat tak lagi penting di sini, sebab saya hanya meminjam diksi ‘sufi’ untuk menunjuk makna ‘laku sufi’ yang dalam bahasa Arab ini biasa disebut dengan ithlâq al-fâ’il ‘alâ al-maf’ûl.

Lantas, bagaimana bentuk laku sufi hari ini atau bagaimanakah cara bertasawuf yang relevan bagi seorang pelajar (bukan salik) hari ini?

Saya tertarik saat Abdurrahman Badawi menulis persembahan melankolis yang ia tujukan untuk gurunya. Sebagaimana diketahui, ia adalah filsuf pioner filsafat Islam-Arab modern di Mesir yang mengilhami tokoh-tokoh kontemporer setelahnya, seperti Hassan Hanafi dan tokoh madrasah filsafat Universitas Kairo. Dalam mukadimah al-Insâniyyah wa al-Wujûdiyyah, ia menulis begini:

Kepada:

Ruh guruku yang agung; Mushtafa Abdurraziq

Dengan ruhmu yang istimewa, kau pancari daku dengan cahaya iman saat aku ialah remaja dalam gelombang yang menerjang,

Kau menjelma teladan kemanusiaan dalam lingkungan yang kehilangan makna, (dengannya) kau kembalikan kepadaku kepercayaan pada manusia,

Ah! Baru kemarin ruhku menjerit dari relung lembah perlawanan,

Ruhku hanya menemukanmu yang sedia mendengar jeritan itu,

Siapakah hari ini yang ‘kan mengembalikanku dari maksiat menuju iman, dari pemberontakan menuju ketundukan?

Baru kemarin, harapan termuliaku ialah menghadiahimu buku-bukuku,

dari tangan ke tangan,

Maka bolehkah aku, hari ini, memberikannya untukmu,

dari ruh ke ruh?

Badawi bukan sedang galau saat menulis persembahan tersebut. Ia sedang berupaya mengetengahkan humanisme (insâniyyah) sebagai titik temu antara filsafat eksistensialis dengan tasawuf. Kemanusiaan yang dimaksud di sini ialah bagaimana manusia menemukan dirinya di tengah alam raya dan Tuhan. Maka dari itu, dalam bahasa Badawi, eksistensi ke-diri-an merupakan titik temu antara keduanya.

Humanisme di sini berakar dari ungkapan masyhur Protagoras (seorang sofis) yang menyatakan bahwa manusia, diri, menjadi pusat dari segala pikir dan tindakan (al-insân miqyâs kulli syay’, atau al-insân mi’yâru dzâtih). Badawi memaknai bahwa memang betul demikian. Manusia, mestinya, merupakan tolok ukur bagi eksistensi dirinya sendiri. Pemaknaan ini berbeda dengan kebanyakan dari kita yang mengecam ungkapan Protagoras tersebut. Selama ini kita memahami kalimat sofis tersebut sebagai adanya kebenaran relatif atau sebuah pengingkaran atas kebenaran yang mutlak. Padahal menurut Badawi, kita mesti melampaui makna tadi. Manusia, untuk menemukan dirinya di tengah alam raya dan Tuhan mesti kembali kepada dirinya sendiri, al-dzât.

Ungkapan Badawi ini akan lebih jelas saat kita melihat praktik seorang sufi dalam meniti jalan makrifatullah. Saat seorang sufi melalui berbagai tahapan makamat dan ahwal, sebenarnya ia sedang berupaya mencari dirinya sendiri di hadapan Dzat Yang Mutlak. Ia—meminjam diksi Ibnu Arabi—sedang berusaha menanggalkan (tajrîd) liyan (al-siwâ) dari hati untuk dapat menyingkap Diri Yang Mutlak (al-dzât) dan ego (al-anâ; aku). Artinya, tidak ada wujud hakiki selain Dia dan aku. Alam semesta menjadi hal sekunder, dunia tidak lagi penting. Ia hanya menjadi wasilah untuk sampai kepada Yang Mutlak tadi.

Saat sufi berhasil menanggalkan selain Dia dan Aku, ia akan merasa diawasi. Kehadirannya di hadapan Dia ialah saat ia sendiri, tertanggal dari atribut-atribut duniawi-sekunder. Ia menjadi seorang yang hadir di hadapan-Nya, di saat yang sama bahwa Ia juga hadir di hadapannya. Bukankah seorang sufi, untuk mencapai derajat hudlûr, mesti ‘menghadap’ dengan penuh kesungguhan dan berpaling dari keduniawian?

Menjadi sufi, tidak lain ialah menjadi eksistensialis. Menjadi sufi, hari ini, bukan lagi dengan praktik laku asketis, tapi dengan bagaimana ia memahami posisinya dalam segitiga wujud (Aku, alam dan Tuhan) dimana hal ini hanya bisa dilakukan dengan proses berpikir, bukan perasaan haru-mendayu saat mendengarkan pengajian.