Kajian rutin mingguan anggota intensif ini berlangsung selama pukul 15.30-20.00 WLK. Pada kesempatan kali ini, kajian diisi oleh Firman yang membawakan materi tentang golongan Wahabiyah, rekan Miqdad tentang Bahaiyah, dan rekan Mathan tentang Qadiyaniyah. Kajian yang bertempat di Hadiqah Azhar ini dimoderatori oleh rekan Noer Fahmiatul Ilmiah dan dibimbing langsung oleh senior Lakpesdam reguler, Muhammad Syadid Isytiher.

Ketiga kelompok tersebut di atas merupakan bagian dari kelompok keyakinan kontemporer (al-i’tiqâd al-hadîtsah), dimana rincian masing-masing ialah sebagai berikut.

Kelompok Wahabiyah
Kelompok ini menisbatkan dirinya kepada Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman yang lahir di Uyainah. Wahabiyahterkenal sebagai kelompok pemurnian Islam. Mereka ingin mengembalikan kajian Islam ke al-Quran dan Hadits sahih semata. Mereka memiliki karakteristik pemikiran yang keras dan saklek, khususnya dalam ranah ibadah dan dakwah. Jika diruntut genealogi pemikiran mereka, kelompok ini terpengaruh corak pemikiran Ibnu Taimiyyah.

Kelompok Bahaiyah
Kelompok ini muncul di Iran pada 1152 H. Pendiri kelompok ini adalah Mirza Ali Muhammad al-Syirazi. Mirza mengaku bahwa dirinya adalah pintu datangnya imam mastur. Adapun ajaran yang dibawanya meliputi:

Kelompok ini muncul di Iran pada 1152 H. Pendiri kelompok ini adalah Mirza Ali Muhammad al-Syirazi. Mirza mengaku bahwa dirinya adalah pintu datangnya imam mastur. Adapun ajaran yang dibawanya meliputi:

  1. Tidak beriman kepada hari akhir,
  2. Mirza adalah seorang nabi,
  3. Al-hulul,
  4. Risalah Nabi Muhammad SAW bukanlah yang terakhir.

Selain empat ajaran tersebut, mereka juga berkeyakinan bahwa kedudukan wanita tidaklah berbeda dengan laki-laki.

Kelompok Qadiyaniyah
Kelompok ini merupakan pengikut setia Mirza Ghulam Ahmad. Kelompok yang juga dikenal dengan nama Ahmadiyah ini mengimani dan menyakini bahwa al-Quran adalah satu-satunya kitab suci. Mereka memiliki kenyakinan nyelenehperihal kenabian. Mereka mengatakan bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu Mirza mendakwahkan dirinya sebagai nabi. Salah satu pemikiran yang menarik dari kelompok ini adalah perihal konsep pernikahan yang mereka anut. Wanita Ahmadiyah dianjurkan untuk hanya menikah dengan laki-laki dari golongan mereka. Hal ini tidak lain untuk melanjutkan dan menjaga keturunan rohani. Sedangkan laki-laki dari kelompok ini, tidak berkeharusan untuk menikah dengan wanita Ahmadiyah.

*Kajian intensif yang memakai buku Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyyah karya Muhammad Abu Zahrah ini dilaksanakan pada 15 September 2019, dilaporkan oleh Noer Fahmi.