Masyarakat kita saat ini cenderung alergi terhadap buku-buku dan pemikiran yang dihasilkan oleh Barat. Tidak hanya alergi, sebagian kalangan bahkan antipati terhadap pemikiran dari orang atau kelompok yang berbeda keyakinan. Mereka yang cenderung eksklusif tersebut sering mewanti-wanti dengan ungkapan semisal, “Awas jangan membaca buku-buku yang berbau barat, apalagi yang menganut paham liberalisme! Atau klaim sepihak, “Astaga, tokoh itu ternyata antek-antek liberal! Lengkap dengan seruan, “Hei, kalau membaca kitab ya sesuai dengan tingkatannya!

Di atas merupakan contoh kalimat yang sering dilontarkan untuk mengklaim sesat kelompok yang tidak sependapat dengannya. Mereka cenderung tidak menyadari bahwa antara Barat dan Timur terdapat hubungan mutualisme dalam transfer keilmuan masing-masing. Keduanya saling melengkapi. Fenomena saling-adopsi keilmuan antarkeduanya banyak disebutkan dalam literatur sejarah klasik. Ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat, misal, merupakan ekses dari progresivitas keilmuan umat Islam terdahulu. Mereka mendapatkannya dari buku-buku ulama muslim klasik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa ulama Islam memiliki peran dan pengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Barat.

Tidak ada batas ideologi, budaya maupun peradaban dalam wacana ilmu pengetahuan. Ini merupakan fakta yang dibuktikan oleh para filsuf Islam semisal Ibnu Rusyd, al-Kindi dan al-Farabi saat mereka mengadopsi filsafat Yunani. Dr. Hamdi Zaqzuq, di dalam bukunya, al-Fikr ad-Dîniy wa Qadlâyâ al-‘Ashr mengatakan, “Kami menyeleksi apa yang mereka katakan dan apa yang mereka tetapkan. Jika memang sesuai dengan kebenaran maka kami terima. Jika menyimpang, maka akan kami tolak.” Artinya, ulama kita tidak serta merta menolak hasil pemikiran orang-orang Barat. Mereka justru menggunakannya untuk membangun paradigma dalam berpikir dan kontekstualisasi nas di dalam ranah nyata.

Begitu juga konsep kias Imam Syafii yang terpengaruh silogisme logis ala Aristoteles—meski hal ini masih terdapat perbedaan pendapat. Sebagaimana diketahui, konsep istinbat hukum ala Imam Syafii berpijak pada empat sumber rujukan utama, yakni al-Quran, Hadits, Ijmak dan Kias. Terkhusus sumber terakhir, konsep Kias Imam Syafii seakan mendapatkan legitimasi dari silogisme logis Aristoteles. Coba perhatikan, konsep Kias beliau biasanya tersusun dari al-Quran sebagai premis mayor, sesuatu yang dikiaskan sebagai premis minor, dan hukum yang dihasilkan sebagai konklusi.

Bathinat al-Jilasi mengatakan dalam bukunya, al-Nash wa al-Qiyâs bahwa adanya pengaruh logika Aristoteles dalam Kias ini dimulai sejak masa kodifikasi usul fikih, dimana pembukuan Kias menjadi sebuah metode ijtihad yang mempunyai syarat-syarat tertentu. Beberapa hal yang mengindikasi bahwa Imam Syafii terpengaruh dengan logika Aristoteles, pertama ialah fakta bahwa logika tersebut telah masuk ke dalam dunia Islam melalui ilmu kalam sebagai alat memperkuat argumentasi dalam berdebat. Imam Syafii juga termasuk ulama ahli kalam, walaupun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa beliau menolaknya. Imam Syafii tidak menolak ilmu kalam secara mutlak. Beliau hanya menolak ilmu kalam yang dikembangkan oleh Muktazilah.

Menukil Imam Ibnu Asakir dalam kitabnya, Tabyîn Kadzib al-Muftarî Imam al-Baihaqi menjelaskan lebih detail, termasuk bagian tokoh ahli kalam yang berinteraksi langsung dengan Imam Syafii. Diceritakan bahwa, “Hafs al-Fard mendatangi Imam Syafii, kemudian Imam Syafii berkata, ‘Seorang hamba yang menemui Allah dengan membawa dosa sebesar gunung Tihamah masih lebih baik daripada meyakini adanya huruf (bagi kalamullah) yang diyakini lelaki ini dan kawan-kawannya.’” Hafs al-Fard berpendapat bahwa al-Quran itu makhluk. 

Kedua, Imam Syafii menguasai Bahasa Yunani. Abu Abdullah al-Hakim dalam bukunya,  Manâqib al-Syâfi’iy mengatakan bahwa Imam Syafii pernah ditanya tentang ilmu kedokteran oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Beliau lantas menjawab, “Saya mengerti apa yang telah dikatakan oleh kaum bangsa Romawi dan Yunani, seperti Aristoteles, Muhraris, Jalinus.”

Ketiga, ada persamaan konsep antara Kias dan teori silogisme Aristoteles. Keduanya menggunakan premis mayor, premis minor, dan pengambilan konklusi. Fungsi masing-masing premis dalam Kias dan logika itu sama, yaitu mencari sebuah kesimpulan yang benar dan logis. Amirah Khilmi al-Mathar dalam kitabnya, al-Fikr al-Islâmiy mengatakan bahwa al-Risâlah Imam Syafii pun mendapatkan legitimasi dari logika Aristoteles.

Di dalam al-Quran, kita mengenal istilah ulil albab yang berarti orang atau umat yang berpikir. Kegiatan berpikir selalu terkait dengan membaca dan menulis. Kegiatan membaca (fenomena maupun teks), memungkinakan kita memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sering kali belum pernah kita dapatkan. Kegiatan ini mesti diiringi dengan penghayatan kritis, kreatif dan kontemplatif untuk menguji, merenung, mempertanyakan, mengkritik, dan mengimajinasikan teks. Sehingga, kegiatan membaca bisa mengondisikan adanya interaksi aktif antara penulis dan pembaca. Prof. Dr. Abdul Fattah al-Awwari, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar mengatakan, “Zaman sekarang tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang tidak membaca dan orang yang membaca”. Setelah membaca dengan kritis, ilmu pengetahuan dan pengalaman mungkin disebarkan melalui tulisan. Turats yang diwariskan oleh para ulama lintas disiplin merupakan bukti bahwa menjaga pemikiran hanya mungkin dilakukan dengan menulis.

Kita tidak boleh memandang sebelah mata hasil pemikiran orang-orang Barat ataupun mereka yang berbeda keyakinan atau ideologi. Begitu juga, kita perlu menumbuhkan semangat membaca nan selektif dengan berpijak pada paradigma berpikir yang islami.

Dampak dari tiadanya hal tersebut ialah isolasi diri dari dinamika modernisasi dan terlalu fanatik terhadap pengaruh dogma-dogma mapan. Mengalami kemunduran, kejumudan serta keterasingan dari kehidupan, sehingga mudah mengklaim dan menuduh pihak lain yang dianggap berseberangan.