Polemik cadar bukan kali pertama diributkan oleh masyarakat Indonesia. Setahun yang lalu, tepatnya pada Maret 2018, wacana inhibisi cadar oleh  rektor UIN Sunan Kalijaga atas nama pencegahan radikalisasi juga berhasil membuat gaduh publik. Hal itulah yang membuat publik berbondong-bondong mendatangi para tokoh agama (Islam) untuk mencari tahu hukum dari penggunaan cadar itu sendiri. Benar. Ada ragam jawaban yang publik dapatkan. Jika saya analisis, sebagian besar tokoh agama kita memberikan jawaban senada. Cadar bukanlah bagian dari syariat Islam, melainkan sebuah budaya. Namun, tak dinafikan jika masih tersisa sekitar 40% dari mereka (para tokoh agama) yang mengatakan bahwa cadar merupakan syariat Islam.   

Saya sendiri lebih condong untuk mengamini bahwa cadar merupakan bagian dari adat. Tulisan ini akan menjadi argumen terkait pilihan yang saya tentukan tersebut. Melalui konsep Islam Nusantara, rumusan masalah yang saya tawarkan ialah seberapa aktualkah Islam Nusantara memberikan ruang kepada budaya dalam polemik cadar tersebut?

Akulturasi

Saat mendengar kata “budaya” ataupun “agama”, yang pertama kali muncul di benak saya adalah gambaran tentang batasan fisik dari suatu pergumulan masyarakat, khususnya terkait cara berpakaian beserta atributnya. Mengapa pakaian? Tersebab, pakaian lebih memiliki kompleksitas makna, dimana tubuh bisa dibaca sebagai komunikasi nilai-nilai suatu budaya dan agama.

Terkait budaya sendiri, pada dasarnya, tiada budaya yang statis. Setiap budaya memiliki perjalanan perkembangannya masing-masing. Ia dinamis. Budaya lokal kita pun demikian. Cara berpakaian nenek moyang kita (Jawa) dulu hanya menggunakan kemban sederhana dengan jarik ala kadarnya. Namun, seiring berkembangnya zaman, hari ini kita sudah mengenal ragam jenis kain warna-warni beserta desain yang lebih indah dan beragam. Apakah ini berarti kita menghapus budaya lokal berpakaian nenek moyang kita? Tentu tidak. Sebab tujuan utama dalam budaya berpakaian kita terletak pada apa yang menjadi pesan, yakni kesopanan. Bagi buyut kita kala itu, apa yang mereka gunakan dianggap sebagai pakaian terbaik dan tersopan yang ada. Demikian pula hari ini, kita beranggapan bahwa memakai apa yang simbah buyut gunakan pada zamannya adalah bukan suatu pilihan yang terbaik untuk kita gunakan hari ini. Oleh sebab itu, tidak salah jika di setiap literatur, kita menemukan bahwa termasuk definisi sebuah budaya adalah sistem gagasan, tindakan, rasa, karsa, pun karya suatu masyarakat di wilayah tertentu yang dikontrol oleh zaman.

Perubahan budaya dari masa ke masa selalu dipengaruhi oleh dua hal; eksternal dan internal. Yang saya bahas pada paragraf sebelumnya merupakan contoh faktor internal yang turut ikut campur dalam perubahan budaya, yakni kemajuan intelektual serta kesadaran masyarakat akan zaman. Kemudian, untuk persoalan eksternal, salah satu di antaranya adalah kontak sosial yang terjadi antar-masyarakat—bahkan dalam bahasan budaya lokal adalah antarbangsa. Kontak ini lahir dari keanekaragaman budaya yang lalu lalang didasarkan pada gagasan demokratis yang mencerminkan idealisasi masyarakat, dimana mereka sepakat untuk membentuk atau mempertahankan kebudayaan yang mereka anggap baik. Para antropolog mengenalnya sebagai akulturasi, yakni sebuah perubahan yang terjadi sebab benturan dua kebudayaan yang saling memengaruhi.

Kemudian, terkait agama. Kita sebagai manusia yang beragama, pasti turut mengamini bahwa agama cukup memiliki ruang krusial di dalam setiap budaya. Islam pun demikian. Ia hadir bukan hanya sebagai sebuah nilai substansial yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, melainkan juga memiliki dogma-dogma fisik yang kudu ditaati oleh siapapun yang sudah berbaiat kepadanya. Dogma fisik inilah yang kemudian mengalami dialog langsung dengan setiap budaya yang ia datangi. Sehingga, agama memaksa manusia untuk memiliki dua peran sekaligus: sebagai manusia yang (lebih dahulu) berbudaya; dan manusia yang harus memperhatikan blue print  buatan Sang Tuhan yang mengatur laku fisiknya dalam beragama.

Dalam konteks berpakaian, salah satu contohnya ialah munculnya istilah hijab. Budaya lokal kita yang berasaskan kesopanan dalam berpakaian, kini mau tidak mau harus mengalami akulturasi dengan agama. Cara berpakaian perempuan Indonesia yang menitikberatkan kesopanan mulai memiliki corak baru, yakni model pakaian lebih panjang—menutup aurat—dengan tambahan hijab sebagai penutup kepala. Meskipun pada awalnya penggunaan hijab mengalami penolakan oleh rezim Orde Baru, namun penggunaan hijab kian marak dan bukan menjadi hal yang tabu lagi di dalam masyarakat kita sejak masa Reformasi.

Islam Nusantara Menjawab

Kembali kepada problematika cadar. Proses diterimanya hijab oleh budaya lokal kita sebagaimana tersebut di muka digunakan sebagai dalih para perempuan Indonesia untuk tetap mengenakan cadarnya. Mereka meyakini hal yang sama; meskipun hari ini masih ditolak sebagian besar masyarakat, suatu hari akan bisa diterima oleh mereka. Bagi mereka, bercadar ialah sebuah ekspresi ketakwaan dan merupakan identitas muslimah yang patut untuk dibanggakan. Memilih bercadar juga merupakan hak asasi yang sudah selayaknya mereka dapatkan. Sekarang, mari kita kembali pada pertanyaan awal, seberapa aktualkah Islam Nusantara memberikan ruang kepada budaya dalam polemik cadar tersebut?

Di sini, tulisan Dr. Zainul Milal Bizawie yang berjudul “Islam Nusantara sebagai Subjek dalam Islamic Studies” akan saya gunakan sebagai perkenalan lanjutan terhadap Islam Nusantara yang sudah sedikit saya singgung di prolog, sekaligus menjadi pisau analisis untuk menjawab persoalan cadar di muka. Dalam meta-analisis yang berwujud sepuluh lembar tersebut, ia memperkenalkan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisional lokal, budaya, dan adat-istiadat di Tanah Air. Di antara karakternya, ia mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Islam ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Ia juga menambahkan, termasuk ciri khas yang dimiliki oleh Islam Nusantara adalah mengedepankan jalan tengah yang bersifat tawassuth atau moderat; tidak ekstrem kanan-kiri, dan toleran.

Dari diksi “toleran”, kita dapat menyimpulkan bahwa Islam Nusantara secara jelas akan mengambil sikap “lebih menerima keberagaman serta perbedaan”. Dalam artian, ia tetap bisa menerima fenomena maraknya penggunaan cadar di Tanah Air sebagai entitas dari karakter toleransi yang diusungnya. Lantas, jika cadar adalah sebuah budaya, sedangkan budaya lokal Nusantara kita tidak demikian, bagaimana Islam Nusantara mampu tampil sebagai media yang merangkul budaya? Di sinilah yang menjadi titik poinnya. Selain memiliki karakter toleransi, ada dua karakter lain yang juga perlu dibahas dalam problematika cadar ini, yakni: moderat dan inklusif.

Masih membahas lembaran-lembaran Dr. Zainul. Ia mengartikan bahwa moderat adalah sikap Islam yang tidak condong kanan ataupun kiri, yakni mengambil jalan tengah. Perlu diakui bahwasanya diksi “moderat” ini digunakan oleh sebagian besar kalangan sebagai antitesa terhadap persoalan paham ekstrimis atau paham yang selalu mengkultuskan jargon ‘kembali kepada al-Quran dan Hadits’ yang menyeruak dewasa ini. Benar, keterkaitan cadar dengan diksi ekstrimis atau jihadis serta semacamnya dirasakan begitu kental oleh masyarakat kita di Indonesia. Sebab, di zaman digital saat ini, media sering kali memberitakan keterkaitan para perempuan bercadar dengan kejadian pengeboman serta ragam aksi ‘atas nama agama’ lainnya. Di sini, bukan berarti saya mengamini media sepenuhnya ataupun mengatakan bahwa setiap yang bercadar, maka ia memiliki paham radikalis. Namun, kita sebagai perempuan yang katanya beragama Islam ini juga seyogianya turut membaca dan menjawab apa yang menjadi keresahan masyarakat kita dengan mempertanyakan, bagaimana Islam mampu dipahami dengan baik oleh mereka?

Diakui ataupun tidak, cadar menjadikan masyarakat kita pasif dalam upaya lebih mengenal kita. Sekeras apapun Indadari, pendiri komunitas Niqab Squad di Indonesia yang sudah memiliki anggota lebih dari lima ribuan dalam acara ILC menyuarakan bahwa komunitas mereka tetap akan menjadi komunitas yang inklusif, tetap saja, tampilan wajah yang menjadi media utama seseorang untuk saling mengenal, bertegur sapa dengan akrab itu tidak akan berfungsi secara maksimal. Selain itu, kesalehan sosial yang secara tidak sadar ditampakkan dengan visualitas yang begitu megah di tengah masyarakat Nusantara, pada akhirnya akan berimplikasi pada kesenggangan dinamika bersosial itu sendiri. Sehingga, komunitas bercadar tersebut akan mendapatkan stereotip sebagai kalangan eksklusif. Jawaban inilah yang digunakan oleh Islam Nusantara, bahwa sembah jiwa dalam beragama juga tetap harus mengadakan interaksi baik dengan raga dan budaya yang ada, agar Islam yang memiliki sikap akomodatif benar-benar terealisasi.

Selain terciptanya sebuah masyarakat yang inklusif, muara akhir dari konsep Islam Nusantara adalah semangat berkebangsaan. Jika Indadari mengatakan bahwa dengan cadar, muslimah akan lebih mudah dikenali, bukankah hijab sudah cukup? Antisipasi terkait pemahaman yang ekstrem (bagi saya) lebih berhak untuk didahulukan daripada sekadar embel-embel identitas visual sebagai seorang yang beragama Islam.