Said Aqil Siradj (SAS) Center NU Mesir kembali mengadakan kajian grand tema. Metodologi Orientalis dalam Kajian Studi Islam; Studi Komprehensif atas Objektivitas dan Implikasinya disepakati sebagai grand tema kajian tahun ini. Tema yang dipresentasikan oleh Ahmad Ilham Zamzami ini menitikberatkan focus kajian pada awal mula munculnya gerakan orientalis dan mencoba mengukur seberapa objektif kajian yang dilakukan mereka, di samping tentunya metodologi kajian mereka.

Beberapa hal penting seputar kajian yang digelar pada Senin, 7 Oktiber 2019 tersebut ialah bahwa penyebutan orientalisme (sebagaimana kita pahami sekarang) baru disematkan pada abad XVIII. Perkembangan orientalisme, selanjutnya terbagi menjadi empat periode. Periode pertama (abad XIV) ditandai sebagai gerakan anti-Islam. Selanjutnya, pada abad XVII dan XVIII orientalisme bercirikan sebagai gerakan yang korelat dengan modernisasi Barat. Periode ketiga (abad XIX) ditandai dengan munculnya lembaga studi keislaman di Barat. Periode keempat dan terakhir, merupakan fase orientalisme pasca-PD I yang menjadikan Timur tidak hanya sebagai objek kajian keilmuan, namun juga kepentingan politik dan ekonomi.

Kajian ilmiah yang dilakukan orientalis perlu untuk ‘dicurigai’. Meskipun terkesan objektif, namun peneletian yang mereka lakukan tidak lepas dari latar belakang agama, politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Kajian orientalis tentang Islam dan sejarahnya pun nampak sangat canggih (sophisticated) dan subtil, sehingga pembaca awam, alias bukan pakar tidak mudah mengetahui implikasi-implikasi negatifnya. Pernyataan mereka pada umumnya berdasarkan spekulasi dan penentuan sumber data yang selektif. Hal ini kerap kali terjadi sebab orientasi dan kepentingan tertentu. Edward Said, baik dalam Orientalism (1978) maupun dalam The World, The Text and the Critic, meyakini bahwa orientalis dan Barat selalu bersikap diskriminatif.

Sebagai contoh, para orientalis mengkaji al-Quran berdasarkan metodologi interpretasi atas al-kutub as-samâwiyah (kitab-kitab berdasarkan wahyu langit) terdahulu, disertai penilaian terhadap karya sastra peninggalan budaya mereka. Berangkat dari latar belakang tersebut, proses kajian mereka cenderung fanatik; lebih mengutamakan teks yang tertulis daripada keabsahan transmisi periwayatan dalam autentikasi-validitas ayat-ayat al-Quran. Pada akhirnya, mereka mempermasalahkan proses kodifikasi mushaf al-Quran dan kandungan yang tertuang di dalamnya.

Diskusi yang sejak awal seru semakin tambah ‘panas’ ketika peserta kajian memeberikan kritik dan saran. Pemakalah dinilai kurang menjelaskan dengan terang metodologi yang seharusnya menjadi fokus kajian. Judul makalah dinilai masih terlalu umum, sehingga belum mampu mewakili isi. Salah seorang anggota kajian juga menyarankan agar pemakalah menambahkan sentuhan harmonisasi antara Barat dan Timur dalam tulisannya.

Selain perihal kerangka, kaidah ketatabahasaan, prolog makalah juga dinilai masih kurang menarik. Penulis belum cukup menekankan urgensi kajian tersebut, sehingga pembaca merasa ‘jauh’ dan kurang tergugah.

Notulis: M. Zainal Arifin R