Laporan Kajian Reguler LBM PCINU Mesir 27 Agustus 2019

Diskusi kali ini berupaya menghadirkan problematika kekinian yang dikemas apik melalui tinjauan kaca mata usul fikih sebagai bahan dasar dalam memahami ayat-ayat al-Quran atau Hadits Nabi yang sering kali disalahartikan. Penulis memulai makalahnya dari latar belakang krisis yang terjadi akibat kehancuran kerajaan Turki Usmani, dimana hal tersebut memancing maraknya gerakan-gerakan yang menginginkan kembali terbentuknya kekuatan negara Islam. Di antara gerakan tersebut menjelma sebagai gerakan radikalis yang berusaha mengembalikan kejayaan Islam namun dengan ideologi yang keras.

Dalam makalahnya, penulis menyinggung situasi yang berkaitan dengan kerancuan pemikiran kaum radikalis tentang paham “tanah air” dan paham “kewarganegaraan”. Menurutnya, kaum radikalis tidak mengartikan tanah air sebagai negara kesatuan yang harus dijunjung tinggi martabatnya, melainkan yang dimaksud tanah air adalah kondisi dimana setiap warga negara menjalankan aturan-atauran yang sudah digariskan oleh syariat Islam. Sementara maksud dari kewarganegaraan, mereka (kaum radikalis) mempunyai konsep al-Walā’ wa al-Barrā’ sebagai prosedur yang harus dijalani dalam kaitannya berinteraksi antara kaum Muslim dan kaum non-Muslim.

Untuk menunjang seberapa relevankah paham kebangsaan itu dan singkronisasinya dengan turats Islami, maka penulis mengungkapkan argumentasi-argumentasi yang berkenaan dengan cinta tanah air. Salah satunya adalah Allah SWT berfirman: “Dan sekalipun telah kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu’, namun ternyata mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil darinya”. Dalam hal ini, Ibnu Hajar memberikan komentar bahwa meninggalkan tanah air disejajarkan dengan berperang. Bahkan lebih jelasnya, Hadits Nabi menyebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas, ketika Nabi Saw keluar dari Makkah, beliau berkata: “Demi Allah, aku akan keluar darimu dan sesungguhnya aku mengerti bahwa engkau (Makkah) adalah negara yang aku cinta dan paling mulia menurut Allah”. (HR Abu Ya’la)

Pada akhirnya penulis mencoba mengkias kan kebangsaan dengan Piagam Madinah dengan bantuan berbagai indikasi yang mengarah pada jalan kedamaian sebagaimana yang sering Nabi sabdakan dalam berbagai redaksi Hadits. Tidak lupa, penulis juga mencantumkan berbagai hal yang mencerminkan bentuk ekspresi kecintaan terhadap tanah air, seperti hormat bendera, kesetaraan hak setiap warga dan hidup majemuk berdampingan antarwarga negara. Dalam hal ini, penulis menyindir sebuah kaidah fikih “setiap perantara mengandung hukum sebagaimana hukum tujuannya”.

Setelah presentasi selesai, sesi dilanjutkan dengan kritik dan tanggapan. Banyak sekali hal yang perlu dibenahi, baik itu secara editorial maupun logika isi kandungan. Setidaknya, terdapat dua kritik yang merepresentasikan semua kritikan, yaitu : 1) kitik pemaknaan antara negara, nasionalisme, kebangsaan, dan tanah air; 2) kritik usul fikih. Karena penulis tidak menyertakan metodologi kepenulisan dalam makalahnya, maka itu menyulitkan para anggota untuk menganalisa titik-titik yang perlu direvisi. Namun demikian, kajian berjalan lancar, terkendali dan cukup memuaskan. Terlebih dalam diskusi tersebut dipungkasi oleh berbagi dari Mas Nova Burhanuddin selaku senior tentang metodologi kepenulisan dengan menyinggung metode kepenulisan yang sudah diakui di kalangan akademik dunia.

Kajian Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir di Al-Gamaliyah, Kairo.
Kajian Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir di Al-Gamaliyah, Kairo.

Tempat: Al-Gamaleya, Al-Darrasa
Waktu: pukul 16.00- 22.00 WLK.
Pemateri : Hafidz Alawi dari almamater HIMASAL Lirboyo
Moderator : Ahmad Syukron Musyaffa
Pembimbing : Muhammad Nova Burhanuddin, Lc., Dipl.
Anggota yang hadir : Ahmad Ali Ibrohim, Mamak Farohidi, Ismail Abduh, Dzeni, Hilman, Arinal Haq, dan Hadi.