Kegiatan Bahtsul Masail Kubro (BMK) sebagai salah satu rangkaian perayaan Hari Santri Nasional di Mesir telah diselenggarakan pada Rabu, 16 Oktober 2019 di Aula Griya KSW, Hay Asyir, Kairo. Kegiatan yang digawangi oleh LBM PCINU Mesir ini berlangsung selama tujuh jam, dari pukul 15:00 hingga usai pukul 22:00 waktu lokal.

Dengan mengikutsertakan hampir semua almamater pondok pesantren yang ada di Masisir, BM tahun ini merupakan yang terbesar di sejarah PCINU Mesir. Selain almamater, lembaga kajian, berbagai afiliasi seperti PCIM Muhammadiyah, PERSIS, PII dan Nahdlatul Wathan juga turut hadir.

Dengan mengangkat tema Bimbel dengan Lawan Jenis dan Fenomena Umbar Fatwa, BMK berlangsung interaktif dan antusias. Para peserta terlihat saling beradu argumen berdasarkan referensi yang telah disiapkan hari hari sebelumnya. BMK terasa lebih mantap ketika dihadiri oleh para tokoh dari Tadrib Duat wa Aimah.

Pada sesi pesan dan kesan dari peserta, mereka menyampaikan bahwa BMK merupakan ajang pengenalan tradisi NU kepada publik. Nasiri Abadi, Ketua Lajnah Fatwa MUI Surabaya menambahkan, “Bahtsul Masail merupakan tradisi keilmuan yang telah berlangsung bahkan sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, hanya saja waktu itu bernama Tashwirul Afka,” ujar salah satu peserta Tadrib Duat ini.

Kegiatan BMK yang melibatkan berbagai afiliatif tersebut disambut positif. Tercatat, ada delapan puluh peserta yang turut memenuhi aula, padahal panitia memperkirakan hanya sekitar enam puluh. “Hal ini menunjukkan bahwa Nadliyin bersikap terbuka dengan siapapun dalam keilmuan tanpa memandang latar belakang,” imbuh salah seorang penashih.

BMK ditutup dengan doa, foto bersama kemudian makan malam bersama dengan model tajammu’an. Sebuah tradisi makan di pesantren yang menggambarkan bahwa sekeras apapun perbedaan di medan diskusi,  semua kembali bersatu dalam kebersamaan.

Notulen: Hafidh