Sering kali kita terjebak dengan arus pembacaan yang tidak seimbang. Dalam arti, ketika kita sedang mencoba untuk mengharmonisasikan suatu hal, sering kali kita lupa untuk memposisikan hal tersebut ke dalam kategori kiri-kanan, hitam-putih, atau bahkan tidak kedua-duanya. Sehingga kita lupa, bahkan tidak sadar bahwa kita telah mengkonsumsinya secara mentah-mentah. Lalu dengan sembrono kita mengambil tesis yang tidak tepat, karena premis yang digunakannya pun sudah terlanjur melenceng.

Di sini, menurut hemat penulis, ada empat hal yang perlu dijadikan tolok ukur agar kia bisa menakar sesuatu dengan cara yang bijaksana, terkhusus bagi mereka yang ingin menimbang sebuah pemikiran. Empat hal itu ialah kesadaran diri, sikap adil, obyektifitas, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil sebuah kesimpulan.

Dalam poin pertama, kesadaran diri menuntut kita untuk mengenal siapa identitas kita dan sejauh mana kapasitas keilmuan kita. Hal ini menuntut kita agar tetap berpegang teguh terhadap apa yang kita pijak dan apa yang kita yakini. Jika kita seorang Asy’ari, kita tidak boleh melangkah keluar dari koridor-koridor yang telah ditetapkan dalam ruang lingkup sekte Asy’arian. Pun demikian halnya dengan identitas-identitas yang lain, seperti Syafi’i, Maliki, Muktazilah dan lain sebagainya, bahkan identitas seorang muslim sekalipun. Sering kali kita menyalahkan orang lain atas nama mazhab kita, padahal jika ditelisik lebih jauh, mazhab kita dapat membenarkannya. Bahkan bisa juga kita menyalahkan orang lain hanya karena kita salah memahami apa yang mereka maksud. Ini biasanya diakibatkan oleh kedangkalan ilmu atau pengetahuan kita tentang diri kita sendiri.

Salah satu tujuan dari adanya sikap ini yaitu agar kita terbebas dari teori relativitas yang digagas oleh kaum sofis. Jika kita mengenyampingkan sikap ini, bisa jadi kita terperangkap dalam pemahaman bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, semuanya benar, hanya cara pandang (perspektif) yang berbeda. Hal ini sangat berbahaya jika ditarik ke ranah perbandingan agama, karena akan menuntun kita kepada pemahaman agnostik dan atheis. Maka kiranya, sikap ini menempati posisi yang sangat transenden, dari sini juga mengapa penulis menempatkannya ke dalam barisan nomor satu. Lantas, apakah dengan adanya sikap kesadaran diri ini berarti kita telah terperangkap ke dalam firus fanatisme? Tidak demikian, karena masih ada tiga sikap lagi yang tersisa; adil, obyektif, dan tidak tergesa-gesa.

Selanjutnya adalah sikap adil. Sikap ini menuntut kita untuk berhati-hati dalam memilih referensi dan menelitinya tanpa adanya distorsi. Jika kita ingin membandingkan, atau mengharmonisasikan bagaimana cara berpikir sekte Sunni dan Syi’ah, maka kita harus menghadirkan referensi yang autentik secara proporsional dari kedua sekte tersebut. Atau jika kita ingin memasukkan diskursus yang memiliki identitas lain (baca: Barat), seperti halnya hermeneutika, ke dalam Islam, kita harus benar-benar mengkaji dan memahami apa itu hermeneutika dari sumber autentik. Atau dari pemahaman yang sesuai seperti maksud yang diinginkan oleh pakarnya dengan tidak melupakan batasan-batasan yang telah ditentukan oleh Islam. Hal ini penting kiranya saat kita ingin mengaplikasikan berbagai piranti metodologis itu dalam diskursus ilmu-ilmu keislaman.

Wacana yang memiliki identitas lain tidak semuanya negatif, tidak juga semuanya positif. Kita sebagai manusia yang terpelajar, dituntut untuk menalar dengan proporsional yang maksimal dan memadai, tentunya sesuai dengan kapasitas ilmu yang dimiliki oleh tiap-tiap peneliti. Di sini, sikap adil harus ditampilkan perannya.

Sikap yang selanjutnya adalah obyektif. Sikap ini akan menuntut kita agar selalu berlapang dada, berpikiran terbuka dan mengenyampingkan ego ketika mendengar sesuatu yang asing. Contoh sederhana, ketika kita mendengar wacana Islam Nusantara, kita tidak bisa menjustifikasinya sebelum mengklarifikasi secara langsung dari pencetus wacana ini terkait makna yang sersurat dan tersirat dalam wacana Islam Nusantara tersebut. Jika sudah didapatkan, kita dituntut untuk menalar sedemikian mungkin dengan menjunjung tinggi sikap adil dan obyektifitas.

Selanjutnya, sikap yang terakhir adalah tidak tergesa-gesa dalam mengambil sebuah kesimpulan. Mengapa demikian? Wacana apapun yang ada dari dahulu hingga era dimana kita hidup, itu merupakan hasil dari pemikiran manusia. Sudah jamak diketahui bahwasanya rasio manusia senantiasa berubah-ubah mengikuti perkembangan sosio-kultur yang ada dalam suatu masyarakat dengan pelbagai problematikanya. Dari sini bisa jadi wacana atau diskursus yang sudah matang dahulu mengalami revisi sedemikian rupa agar bisa sejalan dengan era dimana kita hidup. Maka kemudian muncullah wacana pembaharuan yang siap menjadikan apa yang telah lampau bisa dikonsumsi kembali di era sekarang. Tentunya dengan dengan memperhatikan batasan-batasan yang telah disepakati oleh para pakar.

Contoh sederhana, tidak sedikit dari kalangan Sunni yang menganggap kafir kalangan Syiah hingga saat ini. Mereka memahami Syiah dengan pemahaman Syi’ah klasik tanpa memperhatikan bagaimana perkembangan pemikiran Syiah sekarang ini. Benar bahwa dahulu, ada sekte “sempilan” Syiah yang menuhankan Sayidina Ali dan menganggap kufur khulafaurasyidin. Tetapi, pertanyannya adalah, apakah pemahaman yang demikian itu masih dijadikan pijakan oleh ulama-ulama Syiah mutakhir?

Dewasa ini, banyak ulama Syiah yang telah merevisi pandangan-pandangannya. Hasil Konferensi Majma’ Ahlul Bait di London 1995 dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifahan tiga khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) terdahulu. Ayatullah Sayid Ali Khomaini, ulama Syiah kontemporer, pernah mengeluarkan fatwa berikut: “Diharamkan menghina figur-figur yang diagungkan saudara-saudara seagama kita, Sunni, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka.” Fatwa ini menunjukkan bahwa dalam perkembangan paham Syiah terjadi semacam pergeseran dan pembaharuan, sebagaimana layaknya setiap perjalanan intelektual lainnya.

Kembali ke tema awal. Empat hal di atas sangatlah penting diperhatikan bagi siapapun yang sedang menikmati dunia pemikiran. Agar tesis yang kelak didapatkan tidak ‘bertepuk sebeah tangan’ dan cenderung ‘kolot’. Kalaupun harus menyatakan kesesatan, hendaknya hal itu dibatasi dengan aspek-aspek tertentu yang dapat membuktikan adanya penyimpangan pemahaman sembari memperhatikan empat hal tersebut. Di samping itu, hal juga penting ialah mengikuti perkembangan pemikiran mutakhir hingga apa yang kita capai sesuai dengan apa yang diharapkan.