Al-Ghazali dan Tasawuf Masa Kini

0 185

Perkembangan tarekat tasawuf di kalangan suni begitu masif dan menjamur subur, utamanya di negara-negara berpenduduk muslim. Laku-laku yang dipraktikkan secara berangsur (menurut sosiolog) pada akhirnya tidak hanya bersifat fungsional, namun juga membentuk semacam identitas, menjadi sistematis dan formal. Fungsi tasawuf, berdasar kanun sejarah itu, selain sebagai laku penyucian jiwa juga berevolusi menjadi sekumpulan tarekat, wirid, dan halakah-halakah zikir sebagaimana kita lihat hari ini.

Diterimanya tasawuf suni sedemikian rupa tak bisa lepas dari peran Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Tasawuf suni yang ia bawa dalam Ihyâ ‘Ulûmiddîn mampu menembus ruang dan waktu sehingga sampai sekarang masih tetap eksis, digandrungi, dan sulit dirobohkan. Abdul Kadir Riyadi, dalam hal ini menyampaikan bahwa al-Ghazali mampu meyakinkan para sufi setelahnya akan urgensi dari konsep tarekat, yakni sebagai penopang utama amaliah tasawuf sekaligus wadah untuk merawat keilmuan terkait. Senada dengan Abdul Kadir, Ibrahim Madkur di dalam bukunya, Fî al-Falsafah al-Islâmiyyah menegaskan bahwa pengaruh tasawuf suni al-Ghazali tidak hanya berhenti pada abad ke-8 H saja, namun juga membentang hingga hari ini. Secara tidak langsung, kehadiran tasawuf suni meredupkan corak tasawuf falsafi.

Terlembagakannya tasawuf dalam sebuah tarekat menurut Abdul Kadir dan Ibrahim Madkur justru berdampak pada penurunan kualitas tasawuf itu sendiri. Abdul Kadir mengatakan bahwa terbentuknya tarekat tasawuf menggeser esensi itu sendiri. Ia akan kehilangan nuansa ilmiah, padahal tasawuf adalah paradigma keilmuan sekaligus spritualitas. Bahkan oleh Ibrahim Madkur, tasawuf masa kini disinyalir kembali lagi bentuknya seperti awal pertama kali muncul: berlebih-lebihan dalam tampilan luar dan cenderung mengambil gaya sekte-sekte. Wacana yang diperbincangkan pun tidak lebih dari sekadar adab suluk, akhlak terpuji, dan tak jarang hanya mengulang kisah-kisah heroik sufi-sufi lama.

Ketika dicermati, di dalam tasawuf suni ala al-Ghazali ada semacam upaya yang disengaja untuk memopulerkan tasawuf kepada khalayak ramai dan menghilangkan sisi eksklusifnya. Suluk tasawuf yang awalnya terbatas pada kalangan tertentu, kini menjadi lebih umum. Yang dulunya hanya identik dengan karamah para wali kini menjadi lebih bersahabat dengan kehidupan masyarakat. Bahkan, jika kita bandingkan dengan tasawuf falsafi yang hingga kini masih rumit dan eksklusif.

Buku-buku peninggalan al-Ghazali yang membincang suluk tasawuf masih sangat digemari di dunia Islam. Kitab semisal Ayyuhâ al-Walad, Bidâyah al-Hidâyah, Minhaj al-‘Âbidîn, atau ‘Ihyâ’ Ulûmiddîn masih menjadi rujukan primer ketika membincang ihwal etika dan adab seorang murid. Maka tak heran ketika salah satu masyayikh pernah berujar dalam suatu muhadarah, “Jika kita mengikuti jalan yang ditempuh Imam al-Ghazali, yaitu dengan menelusuri semua kelompok pencari kebenaran, belum tentu kita akan sampai seperti beliau capai. Maka dari itu, kita memulai dimana Imam Ghazali selesai (tasawuf), nabda’ min haytsu yantahî al-Imâm.”

Motivasi al-Ghazali untuk membumikan tasawuf bisa kita kenali dengan membaca motifnya dalam menulis Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn. Maha karya yang—meminjam istilah Imam Nawawi—hampir menjadi al-Quran ini ditulis oleh al-Ghazali pada masa-masa akhir perjalanan intelektual-spiritualnya. Ia berlabuh di tasawuf setelah melintasi berbagai aliran yang berkembang pada masanya. Sebagai Hujjatul Islam, ada rasa tanggung jawab tersendiri bagi al-Ghazali untuk menyebarkan hasil kontemplasi dan pengalaman spritualnya, baik kepada kalangan agamawan maupun khalayak umum. Ia melihat rasa ikhlas yang merupakan inti dari tauhid, bahkan agama itu sendiri sudah tercerabut. Para ulama banyak yang terperdaya hingga menggadaikan agama mereka demi kekuasaan. Fatwa-fatwa mereka menjadi fatwa yang selalu pro-pemerintah. Melihat hal tersebut, al-Ghazali perlu menuliskan Ihyâ demi mengembalikan spirit ikhlas dalam jiwa tiap muslim. Sehingga, seperti kata Syekh Abdul Halim Mahmud dalam mukadimah al-Munqidz, bahwa inti dari Ihyâ’ adalah ikhlas itu sendiri.

Diterimanya corak tasawuf ala al-Ghazali juga tidak lepas dari bangunan kokoh yang melatarbelakanginya, ahlusunah. Sebagai penganut mazhab Asyairah dalam teologi dan mazhab Imam Syafii dalam fikih, ia mampu meramu konsep tasawuf yang moderat dan tidak melenceng dari ajaran al-Quran dan Hadits. Seperti guru-guru sufinya, al-Junaid, al-Makki, juga al-Qusyairi, al-Ghazali juga mendasarkan tasawufnya pada syariat. Syariat menurutnya adalah syarat wajib dalam upaya merengkuh jalan hakikat.

Dengan basis yang kuat dan kokoh itu, tasawuf suni mempunyai potensi besar untuk melebarkan sayapnya. Tidak hanya sebagai solusi keringnya spiritualitas dunia modern yang kian materialistik, namun juga kembali muncul sebagai paradigma keilmuan yang berkembang, responsif, dan relevan sepanjang masa.

Dari Tasawuf ke Amal
Tasawuf yang muncul pada abad ke-2 H ditandai dengan karya-karya para sufi semisal al-Muhasibi dan al-Junaid. Seperti keilmuan lainnya, perjalanan epistemisfikasi tasawuf mengalami pasang-surut dan baru matang dari segi keilmuan di tangan al-Ghazali.

Di samping sebagai representasi dari aspek spiritualitas agama Islam, tasawuf juga menawarkan cara pandang berbeda mengenai realitas. Pemahaman seorang sufi mengenai Tuhan, alam semesta, manusia, dan realitas sosialnya akan berbeda dengan pemahaman seorang fakih, ulama kalam, ataupun filsuf. Keniscayaan ini timbul dari epistemologi tasawuf itu sendiri yang lebih mengedepankan pengalaman spiritual dan intusisi daripada akal dan pengamatan indrawi.

Dua sayap tasawuf tersebut, ilmu dan amal (ibadah-spiritual), ketika salah satu dari keduanya tercederai, maka akan timbul ketidakseimbangan. Oleh karena itu, salah satu yang menjadi titik kritik Abdul Kadir Riyadi dalam bukunya, Arkeologi Tasawuf terhadap corak tasawuf-tarekat yang berkembang sekarang ini ialah adanya kecenderungan beberapa kalangan dari pegiat tarekat yang hanya peduli pada aspek amaliah tasawuf dan melupakan aspek ilmiahnya. Menurutnya, perkembangan pesat tasawuf terkini tidak diimbangi dengan munculnya wacana-wacana baru yang segar. Tasawuf menjadi laku stagnan yang menjebak pada formalitas ritual tarekat semata.

Persoalan ilmu-amal ini juga mendapatkan perhatian khusus dari al-Ghazali. Menurutnya, tasawuf adalah ilmu dan amal sekaligus. Ilmu layaknya pohon rindang, sedangkan ibadah adalah buahnya yang ranum. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Al-Ghazali sendiri, sebelum uzlah selama kurang lebih sepuluh tahun telah mengkhatamkan kitab-kitab karangan sufi terdahulu. Di dalam al-Munqidz ia katakan, “Sungguh beda jauh, antara engkau tahu apa itu sakit dan kenyang berserta penyebab-penyebabnya dengan engkau merasakannya sendiri.”

Paradigma tasawuf sebagai aspek keilmuan yang membentuk diri dan spiritual—yang selanjutnya memunculkan pergerakan (amal)—sudah dicontohkan sendiri oleh Baginda Nabi SAW. Pada periode Makkah, dimana Baginda Nabi (sebagai sosok mursyid) menanamkan kepada para Sahabat tentang hakikat keimanan, keyakinan, perjuangan (al-mujahadah), dan kesabaran mampu meraih ranah spritualitas mereka. Tatkala jati diri mereka telah terbentuk dan matang, Baginda Nabi memerintahkan untuk berhijrah ke Madinah, membentuk peradaban baru.

Peristiwa hijrah menandakan peralihan dua siklus besar, dari fase pembentukan diri menuju fase pengamalan ajaran, min al-‘ilm ila al-‘amal. Sehingga ketika turun perintah untuk berperang melawan kaum musyrik, motivasi jihad mereka tidak lagi diri sendiri atau membela kaum semata (seperti saat masa-masa jahiliah) tapi mutlak karena Allah. Kiranya, spirit ‘ikhlas’ seperti ini yang ingin dibangkitkan lagi oleh al-Ghazali, yang hingga kini masih ia teriakkan melalui tasawuf dan Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.