Setapak Jejak Santri Nusantara di al-Azhar

0 314

Arab, yang sampai sekarang masih memegang dominasi keaslian keilmuan Islam terus menjadi tujuan utama para pelajar muslim dari berbagai belahan dunia. Bangunan keilmuan Islam dalam literatur turats klasik yang ditulis dengan bahasa Arab merupakan sumber primer dan mendasar yang menjadi gerbang para pelajar sebelum masuk ke wacana-wacana keislaman kontemporer yang lebih luas. Sisi turats-istik yang masih terjaga rapi di dunia Arab inilah yang membuatnya masih dilirik sampai sekarang.

Di antara negara-negara Arab yang membuka pintu untuk para pelajar asing ialah Mesir. Bahkan, sekarang Mesir merupakan wilayah yang paling diminati oleh pelajar Indonesia. Tercatat pada 2019, ada kurang lebih 7.000 mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di sana, mayoritas mereka belajar di Universitas al-Azhar.

Jumlah sebanyak ini menunjukkan adanya kepercayaan yang serius dari Indonesia untuk mengimpor corak teori keilmuan Islam di Mesir yang nanti akan dibawa pulang oleh para pelajar Indonesia. Hal ini juga sekaligus menjadi bukti adanya komitmen kuat antara kedua negara dalam sektor pendidikan.

Jika ditelisik secara historis, hubungan dalam sektor pendidikan Islam antara Mesir dan Indonesia sudah terjalin jauh sebelum era kemerdekaan. Ahmad Baso dalam bukunya, “Islam Nusantara” menjelaskan, bahwasanya santri asal Jawa—Indonesia dahulu masih dikenal dengan istilah Jawa atau Nusantara—sudah mulai menginjakkan kakinya di Negeri Para Nabi ini semenjak 1850 M ialah Raden Bagus Darso. Sosok yang kelak akan menjadi pioner para ulama Nusantara, yang terkenal dengan nama Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, pendiri Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, sekaligus kakek dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi.

Setelah belajar di Makkah, Kiai Abdul Mannan kemudian menimba ilmu ke Kairo, Mesir. Di sana, Kiai Abdul Mannan dikenal sebagai pendiri Ruwaq Jawi sekitar tahun 1845-an. Ruwaq Jawi dahulu merupakan tempat hunian atau pemondokan orang-orang Nusantara (Asia Tenggara). Ia terletak di pelataran kiri dan kanan Masjid al-Azhar, Kairo. Waktu itu ada empat Ruwaq di sana. Selain Ruwaq Jawi, ada Ruwaq Syami (asrama untuk pelajar dari negeri Syam), Ruwaq Magharibah (asrama untuk pelajar dari negeri Maghribi, Maroko), dan Ruwaq Atrak (asrama untuk pelajar dari negeri Turki).

Pentingnya eksistensi Ruwaq ini sangat disadari betul oleh Kiai Abdul Mannan. Yakni, untuk memenuhi kebutuhan pemondokan santri-santri Indonesia yang mayoritas datang ke Kairo dengan modal pas-pasan. Keberadaan Ruwaq ini juga menjadi basis interaksi para pelajar dari wilayah Nusantara dengan masyarakat Mesir, sekaligus menandai hubungan pertama kedua negara yang sama-sama menghendaki kemerdekaan dan menolak penjajahan.

Selama berada di Kairo, Kiai Abdul Mannan berguru kepada Syekh Ibrahim al-Baijuri. Nama Grand Syekh al-Azhar ke-19 (menjabat pada periode 1847-1860 M) ini memang dikenal luas di kalangan komunitas pesantren di Indonesia. Beliau adalah penulis banyak kitab di berbagai disiplin ilmu. Di antaranya, Hâsyiyah al-Bayjûriy yang cukup terkenal, Fathu al-Mubîn Syarh Ummi al-Barâhin dalam fan tauhid. Berkat kedekatan hubungan Kiai Abdul Mannan, kitab-kitab Syekh Baijuri ini bisa masuk ke Indonesia pada 1860-an, dan menjadi populer diajarkan di pesantren-pesantren Nusantara.

Dalam kitab al-Ulamâ al-Mujaddidûn (terbitan Pesantren al-Anwar Sarang) yang dikarang oleh Alm. KH. Maimum Zubair, Pengasuh Pesantren Sarang, Rembang, nama Kiai Abdul Mannan juga disebut sebagai seorang ulama Ahlusunnah wal Jamaah yang pertama kali membawa kitab Ithâf Sâdâi al-Muttaqîn karya al-Imam al-Hafidz al-Zabidi. Kitab ini berisi syarah atas kitab terkenal Imam al-Ghazali, Ihyâ Ulûm al-Dîn.

Kepulangan Kiai Abdul Mannan ke tanah kelahirannya sekitar akhir dekade 1850-an membawa banyak dampak positif bagi perkembangan nuansa keislaman di Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari mulai pesatnya petumbuhan pesantren yang didirikan oleh murid-murid Kiai Abdul Mannan, sampai masuknya kitab-kitab penting karya ulama Mesir yang dijadikan kurikulum di berbagai pesantren.

Keberhasilan yang telah dicapai oleh ‘Bapak Masisir’ ini seyogianya menjadi pemantik sederhana bagi seluruh mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang menuntut ilmu di tempat yang sama. Dengan berkaca pada perubahan yang telah diciptakan oleh ‘satu’ saja Masisir yang pulang ke tanah air, maka seharusnya angka 7000-an bisa menjadi angin segar untuk membentengi dan mengembangkan ajaran Islam moderat yang ada di Indonesia.

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.