Karya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari yang berjudul Risalah Fi Ta’kidil-Akhdzi Bi Madzahibil-A`immah al-Arba’ah, dikaji oleh nahdliyin Madura di Mesir bersama Syekh Yusri Rusyd Gabr Al-Hasany, pada Jumat [30/10] di Aula Pasanggrahan KPMJB, Hay Asyir, Nasr City, Kairo.
Ngaji kitab ulama nusantara tersebut menjadi acara pembuka rangkaian acara HUT ke 32 Forum Studi Keluarga Madura (Fosgama, red). “Untuk mengawali rangkaian acara baik kita ke depan, maka perlu kita kembali ke kegiatan ilmiah semacam mengaji kitab kepada guru kita.” Jelas Miftahul Arifin, selaku wakil Gubernur Fosgama dalam sambutannya.
Menurut pria kelahiran Probolinggo tersebut, menggelar acara ngaji kitab hadratussyekh tersebut tidak hanya sekadar ber-tabaruk kepada ulama dan NU, tetapi juga menguatkan bahwa betapa pentingnya umat dalam mengikuti salah satu mazhab yang diakui.
Syekh Yusri menjelaskan bahwa hal yang membedakan pemeluk ideologi Ahlussunnah Waljamaah dengan ideologi-ideologi lainnya adalah dalam hal bermazhab. Pemahaman Ahlussunnah tentang bermazhab bukan berarti menafikan Al-Quran dan sunah nabi sebagai kiblat panutan, tetapi justru berkiblat pada keduanya melalui mazhab-mazhab yang telah diakui dan yang masih eksis hingga saat ini.
“Alhamdulillah patut kita syukuri bahwa Al-Azhar yang menjadi tempat kalian mencari ilmu menganut mazhab-mazhab yang telah diakui dalam tiga hal; dalam fikih menganut empat mazhab yaitu Syafii, Hanafi, Maliki dan Hanbali. Dalam akidah menganut mazhab Asy’ari dan Maturidi. Dalam tariqah sufi menganut mazhab imam Junaid Al-Baghdadiy, yang bermuara dari imam Hasan bin Ali dan Husein bin Ali.” Jelas Syekh Yusri.
Reporter: Abrari Ahmadi









