KAIRO, numesir.net
Sejumlah kader Nahdliyyin asal Jabodetabek yang memiliki kultur Betawi mengadakan pertemuan di Kampung Kafe Darrasah, Kairo pada Selasa (15/02). Ini merupakan lanjutan dalam rangka mempererat tali silaturahmi antarkader. Dalam pertemuan tersebut, dideklarasikan berdirinya Nahdliyyin Betawi yang mempunyai visi menghidupkan api genealogi keilmuan ulama Nusantara khususnya Betawi yang mulai terlupakan.
“Ulama kita (Betawi) memiliki banyak jasa dan karya yang jarang orang tahu. Habib Usman bin Yahya misalnya, telah mengarang sebanyak 106 kitab. Bahkan jika ditelusuri, hubungan NU dengan ulama Betawi cukup erat. Hadratussyekh K.H.M.Hasyim Asy’ari pernah diminta untuk memberikan pidato pada wafatnya Habib Ali Kwitang, namun Hadratussyekh menolak sebab takzim,” ujar Rafli kader Nahdliyyin Betawi.
Selain itu, Nahdliyyin Betawi juga merupakan sebuah forum silaturahmi antarmasisir yang memiliki kultur Betawi terutama yang berdomisili di Jabodetabek. Dalam jangka pendek, forum ini akan berusaha menghimpun Nahdliyyin dan Nahdliyyat yang merupakan masyarakat Betawi untuk bergabung. Kedepannya, forum ini akan menjadi ujung tombak kaderisasi masisir Betawi-NU wilayah Jabodetabek.
“Semoga Nahdliyyin Betawi mampu mengakomodasi teman-teman nahdliyyin dan nahdliyyat Betawi untuk berperan serta aktif di NU baik secara kultural maupun struktural,” ujar Rikza Ketua Tanfiziah PCINU Mesir.
Forum Nahdliyyin Betawi telah membahas beberapa agenda ke depan. Forum akan berfokus pada kajian tokoh-tokoh ulama Betawi beserta karangannya untuk kemudian dikenalkan ke khalayak di samping penguatan jaringan antarkader. Pertemuan yang dihadiri oleh 14 kader ini berhasil menunjuk Ikrom Mausuli sebagai Korwil (Koordinator Wilayah) dan Fikri Abdul Latif sebagai Wakil Korwil.
“Nahdliyyin Betawi ini merupakan forum silaturahmi dan dakwah. Dengan adanya forum ini, kader muda NU Betawi akan semakin percaya diri untuk berkhidmat di dalam Nahdlatul Ulama. Mengenalkan Betawi ke NU dan mengenalkan NU ke Betawi. Mari kuatkan barisan dan istikamah, namun tetap santun dan santai,” tegas Ikrom, Korwil Nahdliyyin Betawi.
Beberapa kader Nahdliyyin Betawi telah mengisi pos-pos strategis kepengurusan PCINU Mesir maupun banom-banom di bawahnya, di antaranya; Syadila Rizqy Sekretaris Tanfiziah PCINU Mesir, Rafli Al-Farisi Penasehat PC GP Ansor Mesir, dan Fikri Abdul Lathif Wakil Ketua VI PC GP Ansor Mesir. Di samping itu, terdapat beberapa kader yang merupakan aktivis kajian dan literasi di lingkup masisir semisal Ahmad Hilmy Zidan dan Ali Syibromalisi kontributor numesir.net – aktivis LBM NU Mesir dan Ikrom Mausuli aktivis Bedug dan Lakpesdam NU Mesir.
“Dengan banyaknya kader kita yang mengisi jabatan penting kepengurusan NU Mesir, mampu memotivasi teman-teman akamsi (anak kampung sini) yang lain untuk tidak ragu lagi berkhidmat pada Nahdlatul Ulama,” ujar Rafli Penasehat PC GP Ansor Mesir.
Pertemuan selesai pada pukul 22.00 WLK. Hadir dalam pertemuan ini Mas Rikza Ketua Tanfiziah PCINU Mesir hingga Kang Ebin Gubernur KMB (Keluarga Masyarakat Banten) yang juga merupakan kader Nahdliyyin Betawi. (Suli/Abang)












“…. Hadratussyekh K.H.M.Hasyim Asy’ari pernah diminta untuk memberikan pidato pada wafatnya Habib Ali Kwitang, namun Hadratussyekh menolak sebab takzim,” ujar Rafli kader Nahdliyyin Betawi.
Bang Rafli,, saya mau tanya. Habib Ali Kwitang dan Hadrotussyekh Hasyim Asya’ari wafat tahun berapa???
Saya pernah dapat info bahwa Hadratussyeikh wafat thn 1947,, sedangkan Hb. Ali Kwitang wafat thn 1968.