Islam itu Indah

0 184

Manusia adalah makhluk yang terdiri dari ruh, raga dan akal. Ketiganya mendapat porsi yang sama pentingnya dalam kehidupan spiritual maupun sosial manusia. Islam tidak hendak menjadikan manusia sebagai pertapa yang mengekang total unsur ruhaninya. Tidak juga membiarkan mereka terombang-ambing dalam kenikmatan dunia tanpa petunjuk. Ketiga sisi tersebut merupa dimensi spiritual, social dan pemikiran secara seimbang. Artinya, manusia sejati menurut Islam ialah ia yang taat, sehat serta mampu berpikir.

Keseimbangan Islam ini tergambar melalui ayat, “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan.” (QS al-Baqarah: 143). Arti ‘wasath’ atau ‘pertengahan’ menurut para ulama tafsir adalah adil. Ada yang mengatakan pilihan dan yang terbaik. Adil, yang terbaik ini kemudian diterjemahkan dengan seimbang dalam berbagai hal. Keseimbangan dalam Islam nampak di antaranya pada perhatiannya terhadap jiwa dan raga manusia.

Islam adalah ajaran yang realistis, tidak hendak memperlakukan manusia layaknya raga tanpa ruh seperti benda mati, tidak juga memperlakukannya sebagai ruh tanpa raga. Islam memperlakukan manusia sebagai sosok yang perlu makan dan minum, bisa sedih juga gembira, mereka memiliki keinginan dan kebutuhan. Karena itu, ajaran Islam yang benar adalah memberikan tiap kebutuhan manusia, sekaligus menata keseimbangan dalam diri manusia dengan tanpa mengurangi ataupun merugikan. Dengan demikian, hidup yang sejahtera akan terwujud dalam bentuknya yang paling sempurna.

Keindahan alam

Dalam hal ini, banyak sekali ayat yang mengajak manusia untuk melihat terhadap keindahan alam. Hal itu dapat dilihat dari seruan Alquran untuk melihat dan merenungi alam. Namun kali ini saya tertarik dengan ulasan Syekh Sya’rawi, seorang mufasir kontemporer ketika sampai pada ayat-ayat yang menyinggung keindahan alam.

Allah menghendaki agar manusia memiliki cita rasa tinggi. Hal ini tergambar dalam banyak ayat,di antaranya “Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak.” (QS al-An’am: 99). Artinya, sebelum engkau memakan buah-buahan ini, terlebih dahulu perhatikan keindahan dan keelokannya. Itu merupakan ajakan untuk memiliki cita rasa tinggi dan merenungi keindahan ciptaan Allah.

Selaras dengan hal itu, dalam ayat lain, setelah membicarakan mengenai kebutuhan pokok dalam perihal hewan ternak, disebutkan ayat, “Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawa kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan).” (QS an-Nahl: 6). Allah tidak hanya memberikan kita kebutuhan pokok dalam kehidupan. Lebih dari itu, kesempurnaan dan keindahan telah tersaji juga bagi kita.

Juga dalam ayat yang menjelaskan langit dan bintang. Tidak saja bintang dijadikan sebagai ciptaan. Lebih dari itu, bintang diciptakan sebagai hiasan bagi langit, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandang (nya).” (QS al-Hijr: 16)

Jika dilihat dari sisi kesempurnaan diri manusia, terdapat kebutuhan jiwa yang juga perlu terpenuhi. Manusia tidak hanya tentang bagaimana dia makan dan minum saja. Lebih dari itu, manusia memiliki kebutuhan jiwa sebagaimana kebutuhan raga. Kebutuhan mata adalah pemandangan yang indah, kebutuhan telinga adalah suara indah, kebutuhan hidung adalah aroma wangi, mulut dengan rasa yang nikmat, begitupula tangan dengan sentuhan lembut. Sehingga, manusia ideal adalah dia yang bisa memenuhi kebutuhan jiwa dan raganya dengan seimbang, tidak salah jika terjadi penyakit jiwa akibat ada sebagian kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Perilaku manusia

Jika hendak mengetahui kenapa ada unsur keindahan dalam alam dan agamapun mendorongnya, barangkali ungkapan al-Raghib al-Asfihani bisa menjawab hal itu. Dikatakan olehnya dalam al-Dzarî’ah ilâ Makârim a-Syarî’ah bahwa jiwa manusia akan terbawa oleh sesuatu yang dia lihat. Jika keindahan ada di depan mata, hal ini akan membawanya pada perilaku yang sesuai dengan yang dilihat. Dalam hal ini tentu perilaku positif. Sebaliknya, jika yang ada dihadapannya adalah kesemerawutan, kekacauan, hal itu akan terbawa pula dalam perilakunya.

Melihat karakter manusia yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, sebagaimana kebaikan dan keburukan, sikap manusia juga sangat terpengaruhi oleh keadaan di sekelililingnya. Dari sini, jika kita tarik garis hubungan antara karakter manusia dengan dorongan untuk memperhatikan keindahan, akan kita temukan keterkaitan mengagumkan.

Konsentrasi Islam sangat besar dalam perbaikan perilaku dan akhlak manusia. Misi akhlak terpuji ini tidak hanya diisyaratkan melalui perintah langit semata, namun alam sekitar juga menjadi sarana menuju ke sana. Tidak heran jika lantas banyak sekali ayat maupun Hadits yang mengajurkan untuk akrab dengan keindahan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama juga akan kita temukan dalam hukum-hukum Islam. Selain komprehensif dan luwes, ia juga indah.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.