Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Tahun Baru dan Citra Buruk Agama

Hafidz Alwi by Hafidz Alwi
22 December 2019
in Kolom, Opini
0
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di penghujung tahun seperti ini, biasanya muncul ‘fatwa’ bahwa perayaan tahun baru dilarang oleh agama Islam. Alasannya macam-macam. Di antara yang paling sering diujarkan ialah bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perbuatan orang non-muslim yang tidak diteladani oleh Nabi.

Jika sekadar pendapat untuk diyakini sendiri, mungkin tidak bermasalah. Namun ‘selorohan’ tadi menjadi berbahaya jika mengucapkan selamat tahun baru, natal ataupun valentin dijadikan ukuran bahwa si penutur tidak lagi menjalankan agama dengan benar.

Berdebat panjang lebar tentang hal ini hanya akan mencitrakan bahwa kita, sebagai muslim, antipati terhadap kemajuan zaman. Keyakinan adanya jurang yang sangat lebar antara kebudayaan kita dan kultur liyan, dimana ketika jurang tersebut terlampaui, berarti kita sudah meninggalkan ajaran agama hanyalah fobia maya yang diciptakan kelompok-kelompok berkepentingan. Sehingga, mewajibkan pendapat perkara khilafiah kepada orang lain seperti tahun baru merupakan bahan murahan yang berujung pada bahwa Islam antipati terhadap segala yang beraroma modern, kemajuan, eksklusif dan jaga jarak. Ini adalah kesalahan fatal seorang yang beragama. Ia tidak mengetahui apa itu hakikat agama yang dianutnya. Atas sebab ketidakpahaman inilah, kadang ada di antara kita yang memperjuangkan sesuatu namun secara tak sadar, kita sedang menghancurkan.

Beberapa fobia atas budaya liyan seperti itu sering dialami oleh mereka yang tidak percaya diri dengan peradaban sendiri. Ketakutan akan hegemoni peradaban Barat muncul dari jiwa yang sebenarnya kalah dari persaingan global. Sikap seperti ini akan memicu eksklusivitas dan pada akhirnya akan memunculkan gerakan radikalisme dengan melakukan aksi teror. Mereka menganggap yang berseberangan dengan mereka adalah musuh dan harus dimusnahkan.

Menurut hemat saya, merayakan tahun baru adalah suatu laku yang tidak ada kaitannya dengan agama manapun. Meski ada yang mengatakan bahwa pada mulanya ia berawal dari kalangan Nasrani, namun seiring dengan berjalannya waktu, laku tersebut menjadi budaya global yang tidak mencirikan golongan manapun. Tahun baru sudah menjadi bagian dari budaya modern masyarakat dunia.

Secara mikro, apa yang sedang kita bahas hampir sama dengan fenomena pakaian berdasi. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, dasi merupakan model pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Ini ciri khas mereka. Saat itu, siapa pun yang berpakaian serupa, maka ia akan dianggap sebagai ‘Londo’. Seiring berjalannya waktu, pakaian berdasi merupakan pakaian modern dan tidak merefleksikan kalangan manapun. Ini pertama.

Kedua, tahun baru bukanlah—yang oleh sebagian orang dianggap sebagai—budaya golongan fasik dan kotor. Sekarang, ibukota berbagai negara berikut instansi pemerintahan dan berbagai kalangan mengakui budaya ini. Mereka tidak melakukan sesusatu yang melanggar norma kesopanan, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu kerap terjadi saat tahun baru. Sehingga, pernyataan bahwa tahun baru adalah budaya kotor tidak lagi relevan dalam waktu dewasa ini.

Ketiga, mereka yang antipati terhadap perkembangan dalam aneka rupanya, biasanya mempunyai cara pikir tertutup, bahkan terkait nilai-nilai keagamaan sekalipun.


Islam dan Pencitraan

Suatu ketika, ada seorang badui datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sudah hijrah ke Madinah. Seorang badui tersebut meminta kepada Rasulullah agar diberi sejumlah harta. Lantas Rasulullah memberinya kambing yang sangat banyak (dikatakan bahwa kambingnya memenuhi lembah antara dua gurun). Betapa kaget badui tersebut mendapat hadiah sebanyak itu. Ia bergegas kembali ke kampungnya dan menyerukan kepada kaumnya: “Wahai kaumku, berimanlah kalian semua dengan Muhammad, sesungguhnya ia memberiku hadiah sebanyak pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.”

Perilaku Rasulullah tersebut menjadikan si badui dan kaumnya masuk Islam sebab terpukau dengan akhlak Rasulullah. Itu adalah satu contoh kecil bagaimana Rasulullah membawakan Islam dengan sikap dermawan dan penuh kasih sayang.

Pada masa ketika Islam sedang menapaki kejayaan, orang-orang non-muslim melihat bahwa kalangan muslim adalah mereka yang berkasta lebih tinggi daripada dirinya. Mereka melihat demikian bukan karena golongan maupun keturunan, namun kasta yang terbangun karena indahnya perilaku dan karakter umat Islam waktu itu. Sehingga mereka merasa bahwa jika ingin dirinya hidup mulia sejajar dengan kasta umat Islam, maka mereka haruslah masuk Islam.

Peristiwa senada tidak hanya terjadi satu-dua kali. Kita mengingat bagaimana masyarakat Nusantara terpukau dengan pedagang-pedagang yang datang dari Timur Tengah maupun Gujarat. Mereka muslim dan terkenal dengan perilaku yang jujur dan menyenangkan mitra bisnisnya. Hal inilah yang membawa penduduk Nusantara memeluk Islam. Mereka terpesona dengan perilaku para saudagar negeri seberang tersebut.

Suatu ketika, saya mendengar bagaimana Kiai Marzuqi Mustamar (tokoh di Jawa Timur) memaparkan peran para pendakwah dahulu dalam menawarkan Islam pada masyarakat setempat. Walisongo yang mendakwahkan Islam sampai mencapai keberhasilan yang gemilang dengan tanpa mengobarkan permusuhan dan pertumpahan darah. Para pedakwah masa lalu mengerti bagaimana cara membungkus Islam dengan kemasan yang menarik sehingga masyarakat dengan sendirinya terpukau dan memutuskan untuk memeluknya.

Tentu kita tidak lupa ketika ada seorang Sahabat yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Suatu ketika, salah seorang Sahabat menjadi imam shalat. Kemudian datang Sahabat lain menjadi makmum. Ketika menyadari bahwa ada orang yang bermakmum kepadanya, sang imam memanjangkan bacaaan shalat hingga makmum merasa terlalu lama dan lelah. Selepas shalat, makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang perilaku imam tersebut.

Mendapati hal itu, Rasulullah memberikan wejangan kepada imam tersebut. “Apakah engkau menjadi seorang yang membuat orang lari (dari ajaran Islam)?”

 

 

ShareTweetSend
Hafidz Alwi

Hafidz Alwi

Wakil ketua PCINU Mesir 2021-2023 bidang Kajian dan Keilmuan. Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Ushuluddin, alumnus Pesantren Lirboyo.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah