Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

0 255

Membincang biografi seorang tokoh bisa dilihat dari beberapa dimensi. Semakin besar kontribusi dan pengaruhnya, semakin banyak pula dimensi positif yang bisa dibaca dalam kehidupannya.

Sosok Sayidah Aisyah RA sebagai salah seorang istri Nabi, tentu memiliki banyak kontribusi besar bagi Islam. Kehidupannya bisa dibaca melalui berbagai sisi, salah satunya adalah sisi ‘romantisme’ beliau bersama Baginda Nabi. Sisi inilah yang sekarang sedang ramai beredar musikalisasi para selawater milenial.

Tulisan ini bukan ingin memperdalam atau membahas ulang sisi ‘romantisme’ tersebut. Penulis di sini akan membahas sisi empati, dan sepertinya lebih pas untuk mengenalkan sosok Ummul Mukminin Aisyah Radiyallâhu anhâ, ‘dari sisi lain’ yang bisa lebih menggambarkan kehidupannya secara utuh.

Dalam literatur klasik tentang sejarah Nabi dan para Sahabat, biasanya orang-orang yang hadir ke tengah kehidupan Nabi (pasca kenabian) dalam usia muda, bakal memiliki kontribusi positif jangka panjang, lebih banyak menyimak peristiwa penting yang terjadi dan biografinya akan lebih banyak menghabiskan lembaran. Ya salah satu di antara mereka adalah Aisyah.

Ia dipinang Nabi melalui Khaulah binti Hakim (istri dari saudara sepersusuan nabi; Utsman bin Mazun), dan mulai serumah ketika berusia 9 tahun. Aisyah hadir dan mendapatkan pendidikan langsung dari Nabi. Kedekatan, kecerdasan dan usianya yang belia menjadi keistimewaan tersendiri hingga mampu meriwayatkan banyak perbuatan Nabi sehari-hari (sunnah fi’liyyah), yang tidak terekam oleh Sahabat-sahabat lainnya.

Imam Sakhawi mencatat bahwa Aisyah menempati posisi ke-4 dalam urutan Sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits dari Nabi setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik. Sekitar 2210 Hadis berhasil diriwayatkan, 174 di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim.

Keuletannya dalam menranskrip wahyu membuat kamar Aisyah dijuluki sebagai Mahbath al-Wahyi (tempat turunnya wahyu), karena banyaknya riwayat Hadits dari Aisyah yang tidak diriwayatkan oleh Sahabat.

Ada sebuah kesaksian menarik dari Sahabat Abu Musa al-Asyari tentang bagaimana kecerdasan Aisyah di antara para Sahabat. Ia berkata, “Tidak ada masalah apapun yang menimpa kami pasca wafatnya nabi, lalu kami tanyakan ke Aisyah, kecuali kita akan mendapatkan ilmu darinya.”

Inilah sisi lain Aisyah menghabiskan masa mudanya selama Nabi hidup. Berjalan sejajar dengan visi kenabian, menjadi wanita cerdas dalam rumah wahyu yang merekam setiap perbuatan Nabi dengan kekuatan hafalannya.

Aisyah hadir sebagai sosok perempuan yang memiliki andil besar dalam menghimpun kerangka peradaban Islam, membawa semangat keilmuan juga pengetahuan. Sah saja sebenarnya jika digambarkan dalam dimensi apapun, namun belum cukup rasanya jika hanya dikenalkan dalam nuansa ‘romantisme’, sebagai sosok ‘perempuan belia’ yang senang jika dihibur dengan bermain lari-lari, dicubit hidungnya, atau dimanja saja. Masih banyak fakta penting yang bisa lebih diteladan dari istri-istri Nabi.

Kita tidak akan kehabisan opsi untuk melihat sisi lain dari Aisyah, baik peran lainnya dalam perkembangan keilmuan Islam, sering berdiskusinya dengan Nabi, atau kisah yang diabadikan di dalam al-Quran. Ini akan saya bahas di kesempatan berikutnya, insya Allah.

Aisyah, al-Quran dan Kehidupan Bangsa Arab (Jahiliah)
Pandangan masyarakat Arab Jahiliah terhadap perempuan memang sangat nihil. Harkat dan martabat perempuan dianggap rendah, bahkan sudah tidak diacuhkan semenjak masih dalam kandungan. Kelahiran bayi perempuan, tidak dinantikan di tengah keluarga, karena ada mitos bahwa anak perempuan bisa menyebabkan kemiskinan dan kelaparan di tengah keluarga.

Tentu ini bukan mitos yang tiba-tiba muncul, faktor lingkungan di masyarakat Jahiliahlah yang membentuk mitos ini. Mata pencaharian yang didominasi dengan berdagang, dan perebutan pengaruh antarkabilah yang diselesaikan dengan perang, keduanya adalah bukan pekerjaan mudah, membutuhkan tenaga dan keberanian, yang rata-rata (mayoritas) akan menjadi pekerjaan bagi laki-laki ketimbang perempuan. Karenanya di zaman Jahiliah, perempuan tidak memiliki ruang untuk mengembangkan potensi, mereka masih terkurung dalam realita tradisi dan pemetakan kepentingan ekonomi.

Seiring berakhirnya era tersebut, Nabi hadir dengan membawa gagasan-gagasan wahyu yang segar. Banyak prinsip baru yang dihadirkan untuk menutup kesenjangan antara laki-laki dan perempuan ala tradisi masyarakat Jahiliah. Ukuran kebahagiaan dan kemuliaan derajat yang semula berupa harta dan tahta, perlahan tergesar dengan banyaknya tuntunan Nabi yang mengajarkan bahwa dunia seisinya itu hanya permainan fana, dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Sehingga di dalam Islam, standar kemuliaan sudah bukan tergantung siapa yang paling banyak hartanya, melainkan siapa yang memiliki ilmu dan norma.

Ruang ‘keilmuan’ inilah merupakan salah satu cara dimana Islam berupaya untuk menutup kesenjangan antara laki-laki dan perempuan yang ditinggalkan Jahiliah. Baik laki-laki ataupun perempuan, keduanya memiliki potensi yang sama untuk menjadi ahli ilmu, yang kemudian berarti bahwa kemuliaan tidak hanya berada di pihak kaum laki-laki saja, namun perempuan juga.

Sudah sejak awal sekali Nabi berupaya mewujudkan hal ini. Kehadiran sosok Sayidah Aisyah di dalam rumah tangga Nabi, secara representatif telah meruntuhkan tradisi Jahiliah di tengah masyarakat Arab. Aisyah sejak dini sudah sering menyaksikan secara langsung turunnya wahyu dan beberapa dialog yang terjadi antara Nabi dan Malaikat Jibril. Lebih dari itu, wahyu sering turun ketika Nabi sedang bersama Aisyah di kamarnya, mahbath al-wahyi. Salah satu keutamaan Aisyah yang tidak dimiliki istri-istri Nabi yang lain, Nabi pernah berkata kepada Ummu Salamah, “Wahai Ummu Salamah, jangan sesekali engkau menyakiti Aisyah. Demi Allah, tidak pernah datang wahyu kepadaku di salah satu kamar kalian (istri-istri Nabi), kecuali kamar Aisyah.” (HR Bukhari).

Sisi ini dikuatkan dengan wujud kontribusi lain Aisyah dalam kewahyuan al-Quran, yakni perhatiannya terhadap makna (konteks) dari sebuah teks. Tercatat sering kali dia menanyakan langsung kepada Nabi perihal makna yang belum dipahaminya. Jawaban yang diberikan Nabi, secara tidak langsung akan menjadi sebuah bentuk penafsiran al-Quran dengan Hadits (tafsîr al-qurân bi al-hadîts), yang dalam tradisi ulama tafsir memiliki legitimasi kuat setelah penafsiran al-Quran dengan al-Quran (tafsîr al-qurân bi al-qurân).

Sebagai contoh, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Aisyah pernah menanyakan makna sebuah ayat dan berkata, “Wahai Rasulullah! Siapa sebenarnya yang dimaksud (yang termasuk dalam kategori mukmin yang benar keimanannya) dalam ayat “dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut,” (QS al-Mukminun: 60), apakah mereka (para penginfak) yang berzina, mencuri dan meminum miras namun hatinya tetap penuh rasa takut? Nabi pun menjawab, bukan, Wahai Putri al-Shiddiq. Yang dimaksud adalah mereka yang puasa, shalat dan sedekah namun hatinya tetap penuh dengan rasa takut.” Dan masih banyak lagi riwayat Aisyah yang berkaitan dengan penafsiran al-Quran. Sehingga sebagian ulama—termasuk Dr. Muhammad Husein Dzahabi, memasukkan Aisyah ke dalam golongan para ahli tafsir dari kalangan Sahabat.

Inilah salah satu sisi dari Ummul Mukminin Aisyah RA yang layak dikenal. Tercatat ada sekitar 160 ulama laki-laki terkemuka dari kalangan Sahabat dan pembesar Tabiin yang berguru kepada Aisyah, mereka di antaranya, Ibrahim al-Tamimi, Thawus, al-Sya’bi, Sayyid bin Musayyib, Sulaiman bin Yasar, Ikrimah dan lainnya. Ketokohan dan kealiman Aisyah inilah merupakan wujud keberhasilan Islam dalam mengangkat martabat perempuan dan menghapus kesenjangan warisan masa Jahiliah.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.