Karakteristik Nalar Arab

Lakpesdam Pcinu Mesir

0 66

Masih dalam ranah kritik nalar Arab, pembahasan diskusi Lakpesdam PCINU Mesir kali ini membahas fikih sebagai produk pemikiran dan usul fikih sebagai konsep metodologis untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Lalu, bagaimana Al-Jabiri memetakan data-data—setidaknya ini memenuhi lingkungan pendidikan kita—untuk dijadikan sebagai argumen salah satu pondasi nalar Arab ini dan seberapa besar pengaruhnya? Barangkali pertanyaan ini dirasa tepat sebagai pembuka untuk tulisan ini.

Pemateri kali ini dibawa oleh sahabat Firman dan dimoderatori oleh sahabat Kafa. Berlangsung di kediaman rekan Syadid dan Faiz, al-Damardash, Kairo pada 7 Juli 2021. Berbeda dengan kajian sebelumnya, acara ini tepat dibuka pada pukul 00.00 malam waktu Kairo.

Pembakuan Akal (Al-Ro’y) dan Legalisasi (Al-Tasyri’) untuk masa lalu

Sahabat Firman mengawali diskusi ini dengan sebuah klaim bahwasanya peradaban Arab Islam yang murni adalah peradaban fikih. Setidaknya itu yang ingin ia katakan pada awal diskusi. Sebagai penguat klaim tersebut, ada dua hal yang menjadi alasan. Pertama, secara kuantitas, tidak mungkin dipungkiri lagi, bahwa fikih telah memenuhi ruang-ruang umat Islam, di mana pun berada. Rumah-rumah mereka dipenuhi dengan kitab-kitab fikih dari berbagai kalangan tokoh. Pada sisi lain, banyaknya tulisan-tulisan para ulama mulai dari yang berjenis matan, syarah, hingga hasyiyah dan masih banyak lainnya.

Kedua, secara orisinalitas, bahwa fikih tidak memiliki persinggungan terhadap kebudayaan sebelumnya, atau lebih tepatnya kebudayaan Romawi. Berbeda dengan fikih, hukum-hukum agama non-Islam pada saat itu memiliki hubungan dengan kebudayaan Mesir sebagaimana yang dibuktikan dengan tulisan dari orientalis Italia, Santilana.

Menurut Al-Jabiri, peradaban fikih akan terus-menerus menjadi karakteristik nalar Arab bukan terjadi dalam ruang kosong karena memang selain sifatnya sebagai jawaban atas realitas yang terjadi, fikih juga menjadi arena pergulatan dari berbagai pihak. Tokoh-tokoh dari lintas diskursus pun juga ikut berembuk dalam menemukan mutiara-mutiara samudera yang tak terbatas, Al-Qur’an dan Hadist untuk menetapkan hukum-hukum syariah. Dari sini kita bisa paham, bahwa bukan tanpa alasan Al-Jabiri memperbincangkan fikih sebagai salah satu pembentuk nalar Arab.

Dari begitu megahnya bangunan fikih Islam, pada saat bersamaan ada hal yang berkaitan erat dengannya, yaitu usul fikih, sebuah metodologi untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Kalau dikembalikan kepada watak metodologis-epistemologis, Al-Jabiri menyamakannya dengan mantik dan  filsafat. Lebih jelas lagi ia menambahkan fungsi fikih yaitu legalisasi dalam kehidupan sosial, sedangkan fungsi usul fikih yaitu legalisasi untuk akal. Artinya, porsi nalar Arab Islam dalam dua hal ini memiliki tempat tersendiri.

Ketika melihat pemikiran Arab Islam sejak kemunculannya beserta corak-corak yang telah mengkristal, setidaknya ada 2 arus pemikiran yang ada dari berbagai diskursus keilmuan. Arus pertama yaitu kalangan yang berpegang teguh pada warisan-warisan Islam dalam menjawab permasalahan yang ada. Sedangkan arus kedua memiliki kecenderungan yang berpegang pada akal dalam mendialogkan agama dengan realitas. Dalam ilmu tafsir misalnya, ada kalangan yang mencoba menafsirkan al-Quran dengan apa yang diambil dari nabi dan para sahabat (Atsar) dan ada kalangan yang mengupayakan ijtihad dalam memahami al-Quran dengan porsi akal yang lebih dominan.

Tapi, Al-Jabiri tidak mempersoalkan antara dua arus pemikiran yang ada. Letak permasalahannya adalah keduanya memiliki konflik internal dalam worldview (pandangan global). Kalau kita lihat dalam diri Abu Hanifah misalnya, kita akan menemukan dua arus sekaligus, pada satu sisi berpihak pada akal dan pada sisi yang lain berpegang pada warisan nabi dan para sahabat. Sehingga ketika terjadi perbedaan dalam suatu pandang, ada hal yang lebih mendesak untuk coba direkonstruksi lagi yaitu krisis dasar logika dan epistemologisnya. Dan letak krisis yang paling jelas ada dalam ranah syariah.

Kemudian muncul Al-Syafii yang berupaya untuk melihat konflik itu dari dekat. Tokoh yang juga hadir sebagai murid dari dua madrasah itu mencoba untuk menciptakan posisi tersendiri dalam pembekuan epistemologi Islam. Tapi sebelum mengetahui inovasi dari Al-Syafii, ada fakta menarik bahwasanya Al-Syafii—entah disadari atau tidak—terinspirasi dengan usaha yang dilakukan oleh Khalil bin Ahmad dan juga Sibawaih, dalam bentuk maupun isi. Khalil bin Ahmad dengan ilmu arudl-nya, Sibawaih dengan nahu dan sorof-nya dan Al-Syafii dengan al-Bayan-nya. Di sini, sebagaimana yang sering kita jumpai, Al-Syafii meletakkan batasan-batasan untuk menetapkan hukum yaitu al-Quran, Hadis, Ijma’, dan Qiyas.

Dalam ranah diskursus yang lain misalnya, yakni ranah akidah, munculnya embrio perpecahan umat Islam itu berawal dari proses pemilihan khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad. Teoritisasi khalifah ini menentukan keberpihakan dari berbagai kelompok yang terpecah pada saat itu. Kalau bisa kita tarik dari sini, ada persinggungan antara Al-Asy’ari dengan Al-Syafii. Inovasi yang dilakukannya, ternyata mampu meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan ilmu Kalam di tangan Al-Asy’ari. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Al-Asy’ari sama sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Syafii yaitu bertitik tolak melalui pembacaan terhadap al-Quran, al-Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Corak Diskusi

Setelah pemaparan yang dilakukan oleh pemateri selesai, moderator melanjutkannya dengan tukar ide sebagaimana tradisi kajian. Sahabat Kafa mengawali bertukar ide dengan sebuah penjelasan apa yang diinginkan oleh Al-Jabiri dalam buku ini. Bahwa sebenarnya yang difokuskan oleh Al-Jabiri adalah inovasi dari Al-Syafii itu sendiri dan keterpengaruhan yang terjadi pada Al-Asy’ari. Sebelum masuk ke pembahasan usul fikih yang merupakan metodologi berpikir fikih, pertama-pertama Abid al-Jabiri mengawalinya dengan pernyataan bahwa peradaban Arab Islam adalah peradaban fikih. Jadi, poin fokus Al-Jabiri adalah usul fikih itu sendiri.

Setelah selesai, tukar ide dilanjutkan oleh sahabat Rofiqi. Dengan membandingkan bahwa peradaban fikih dalam Islam bisa dikatakan sama dengan peradaban Yunani dengan filsafatnya. Poin kedua yaitu perbedaan antara Al-Syafii dan Abu Hanifah dalam memecahkan hukum. Al-Syafii menggabungkan antara akal dengan nas-nas, atau dengan kata lain Al-Syafii mencoba mengikat akal dengan ketetapan-ketetapan yang ada dalam nas itu sendiri yaitu al-Quran dan al-Hadist. Sedangkan Abu Hanifah memiliki porsi mengedepankan akal yang lebih ketimbang harus menerima ketetapan yang ada dalam nash itu sendiri tanpa terkecuali.

Malam begitu pekat, tukar ide dilanjutkan oleh sahabat Arfan. Dengan begitu percaya dirinya, sahabat Arfan mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang cukup menarik; kenapa peradaban Islam itu disebut dengan peradaban fikih? Adakah pengaruh peradaban luar dalam perkembangan nalar Arab itu sendiri? Sebuah pertanyaan yang tidak timbul dengan sendirinya. Memulai dengan fakta historis Arab itu sendiri bahwa Arab Badui dalam menggunakan akalnya tidak lebih besar ketimbang penggunaannya dalam berimajinasi. Sehingga ketika Islam datang, orang Arab Hijaz khususnya, hanya melihat Islam sebagai jawaban sehari-hari mereka. Sebagaimana yang terjadi dalam peradaban Yunani, orang-orang saat itu melihat filsafat sebagai jawaban dari runtuhnya mitologi-mitologi yang berkembang saat itu. Dan jawaban kedua adalah—sebagaimana di awal—hukum fikih Islam tidak dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan sebelumnya. Akan tetapi, kalau melihat genealogi dari Abu Hanifah, barangkali ada keterpengaruhan dari luar terhadap dirinya, sehingga dalam permasalahan hukum-hukum Islam, Abu Hanifah terlalu condong terhadap akal.

Kemudian dilanjutkan oleh Reza yang ingin membagikan hasil bacaannya. Kalau dilihat lebih luas lagi, sebagai penguat, bahwa fikih adalah peradaban Arab Islam murni yaitu bahwa ilmu-ilmu yang lain ikut membaktikan dirinya dalam menetapkan hukum Islam itu sendiri, atau sederhananya adalah ilmu-ilmu yang lain itu membantu fikih. Selain itu, perbedaan fikih berada di atas perpecahan-perpecahan yang lain. Dalam usul fikih, yang tidak lain telah masuk ke dalam konstruksi nalar Arab itu memiliki konteks pembentuknya yaitu apa yang disebut Al-Jabiri dengan azmat al-usus (krisis dasar) epistemologis yang perlu dibakukan. Kalau tidak segera dibakukan, maka akan memungkinkan terjadi pembuatan teks, karena teks itu sendiri tidak selalu sesuai dengan kondisi realitas.

Setelah selesai, tukar ide beralih ke sahabat Miqdad. Berawal dengan melemparkan asumsi terhadap orang Arab yang keras kepala sehingga ingin memperlihatkan wataknya dalam keilmuan yaitu pada sisi kebudayaan fikih yang lahir dari embrio Arab Islam. Tidak begitu lama, tukar ide dilanjutkan oleh sahabat Alfan yang berpendapat bahwa matematika itu memiliki ketersambungan terhadap fikih yaitu melalui karya al-Khawarizmi, al-Jabr wa al-Muqobalah dalam ilmu waris. Pada sisi yang lain, sahabat Alfan menegaskan pentingnya inovasi yang dilakukan oleh Al-Syafii. Sebab begitu jauhnya pemahaman orang terhadap syariah akan menimbulkan pikiran-pikiran yang bias pada pemahaman yang murni itu sendiri, maka diperlunya kodifikasi atau diletakkan pondasi-pondasi yang ada dalam usul fikih yaitu al-Quran, al-Hadis, Ijma’ dan Qiyas. Sekian.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.