Tahun Baru dan Citra Buruk Agama

0 33

Di penghujung tahun seperti ini, biasanya muncul ‘fatwa’ bahwa perayaan tahun baru dilarang oleh agama Islam. Alasannya macam-macam. Di antara yang paling sering diujarkan ialah bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perbuatan orang non-muslim yang tidak diteladani oleh Nabi.

Jika sekadar pendapat untuk diyakini sendiri, mungkin tidak bermasalah. Namun ‘selorohan’ tadi menjadi berbahaya jika mengucapkan selamat tahun baru, natal ataupun valentin dijadikan ukuran bahwa si penutur tidak lagi menjalankan agama dengan benar.

Berdebat panjang lebar tentang hal ini hanya akan mencitrakan bahwa kita, sebagai muslim, antipati terhadap kemajuan zaman. Keyakinan adanya jurang yang sangat lebar antara kebudayaan kita dan kultur liyan, dimana ketika jurang tersebut terlampaui, berarti kita sudah meninggalkan ajaran agama hanyalah fobia maya yang diciptakan kelompok-kelompok berkepentingan. Sehingga, mewajibkan pendapat perkara khilafiah kepada orang lain seperti tahun baru merupakan bahan murahan yang berujung pada bahwa Islam antipati terhadap segala yang beraroma modern, kemajuan, eksklusif dan jaga jarak. Ini adalah kesalahan fatal seorang yang beragama. Ia tidak mengetahui apa itu hakikat agama yang dianutnya. Atas sebab ketidakpahaman inilah, kadang ada di antara kita yang memperjuangkan sesuatu namun secara tak sadar, kita sedang menghancurkan.

Beberapa fobia atas budaya liyan seperti itu sering dialami oleh mereka yang tidak percaya diri dengan peradaban sendiri. Ketakutan akan hegemoni peradaban Barat muncul dari jiwa yang sebenarnya kalah dari persaingan global. Sikap seperti ini akan memicu eksklusivitas dan pada akhirnya akan memunculkan gerakan radikalisme dengan melakukan aksi teror. Mereka menganggap yang berseberangan dengan mereka adalah musuh dan harus dimusnahkan.

Menurut hemat saya, merayakan tahun baru adalah suatu laku yang tidak ada kaitannya dengan agama manapun. Meski ada yang mengatakan bahwa pada mulanya ia berawal dari kalangan Nasrani, namun seiring dengan berjalannya waktu, laku tersebut menjadi budaya global yang tidak mencirikan golongan manapun. Tahun baru sudah menjadi bagian dari budaya modern masyarakat dunia.

Secara mikro, apa yang sedang kita bahas hampir sama dengan fenomena pakaian berdasi. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, dasi merupakan model pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Ini ciri khas mereka. Saat itu, siapa pun yang berpakaian serupa, maka ia akan dianggap sebagai ‘Londo’. Seiring berjalannya waktu, pakaian berdasi merupakan pakaian modern dan tidak merefleksikan kalangan manapun. Ini pertama.

Kedua, tahun baru bukanlah—yang oleh sebagian orang dianggap sebagai—budaya golongan fasik dan kotor. Sekarang, ibukota berbagai negara berikut instansi pemerintahan dan berbagai kalangan mengakui budaya ini. Mereka tidak melakukan sesusatu yang melanggar norma kesopanan, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu kerap terjadi saat tahun baru. Sehingga, pernyataan bahwa tahun baru adalah budaya kotor tidak lagi relevan dalam waktu dewasa ini.

Ketiga, mereka yang antipati terhadap perkembangan dalam aneka rupanya, biasanya mempunyai cara pikir tertutup, bahkan terkait nilai-nilai keagamaan sekalipun.


Islam dan Pencitraan

Suatu ketika, ada seorang badui datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sudah hijrah ke Madinah. Seorang badui tersebut meminta kepada Rasulullah agar diberi sejumlah harta. Lantas Rasulullah memberinya kambing yang sangat banyak (dikatakan bahwa kambingnya memenuhi lembah antara dua gurun). Betapa kaget badui tersebut mendapat hadiah sebanyak itu. Ia bergegas kembali ke kampungnya dan menyerukan kepada kaumnya: “Wahai kaumku, berimanlah kalian semua dengan Muhammad, sesungguhnya ia memberiku hadiah sebanyak pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.”

Perilaku Rasulullah tersebut menjadikan si badui dan kaumnya masuk Islam sebab terpukau dengan akhlak Rasulullah. Itu adalah satu contoh kecil bagaimana Rasulullah membawakan Islam dengan sikap dermawan dan penuh kasih sayang.

Pada masa ketika Islam sedang menapaki kejayaan, orang-orang non-muslim melihat bahwa kalangan muslim adalah mereka yang berkasta lebih tinggi daripada dirinya. Mereka melihat demikian bukan karena golongan maupun keturunan, namun kasta yang terbangun karena indahnya perilaku dan karakter umat Islam waktu itu. Sehingga mereka merasa bahwa jika ingin dirinya hidup mulia sejajar dengan kasta umat Islam, maka mereka haruslah masuk Islam.

Peristiwa senada tidak hanya terjadi satu-dua kali. Kita mengingat bagaimana masyarakat Nusantara terpukau dengan pedagang-pedagang yang datang dari Timur Tengah maupun Gujarat. Mereka muslim dan terkenal dengan perilaku yang jujur dan menyenangkan mitra bisnisnya. Hal inilah yang membawa penduduk Nusantara memeluk Islam. Mereka terpesona dengan perilaku para saudagar negeri seberang tersebut.

Suatu ketika, saya mendengar bagaimana Kiai Marzuqi Mustamar (tokoh di Jawa Timur) memaparkan peran para pendakwah dahulu dalam menawarkan Islam pada masyarakat setempat. Walisongo yang mendakwahkan Islam sampai mencapai keberhasilan yang gemilang dengan tanpa mengobarkan permusuhan dan pertumpahan darah. Para pedakwah masa lalu mengerti bagaimana cara membungkus Islam dengan kemasan yang menarik sehingga masyarakat dengan sendirinya terpukau dan memutuskan untuk memeluknya.

Tentu kita tidak lupa ketika ada seorang Sahabat yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Suatu ketika, salah seorang Sahabat menjadi imam shalat. Kemudian datang Sahabat lain menjadi makmum. Ketika menyadari bahwa ada orang yang bermakmum kepadanya, sang imam memanjangkan bacaaan shalat hingga makmum merasa terlalu lama dan lelah. Selepas shalat, makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang perilaku imam tersebut.

Mendapati hal itu, Rasulullah memberikan wejangan kepada imam tersebut. “Apakah engkau menjadi seorang yang membuat orang lari (dari ajaran Islam)?”

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.