Dalam rangka memperingati HUT RI ke-76, Marhalah Aksara mengadakan diskusi kebangsaan pada Jumat (20/8) di Sekretariat PCINU Mesir, Darrasa.
Dikemas dalam sebuah forum bernama ALC (Azhari Lawyers Club), diskusi yang terbatas dihadiri oleh Marhalah Aksara itu mengangkat tajuk Siapakah yang Pancasilais?
Nur Iman, salah satu panelis menjelaskan pandangan Imam Asy’ari dan KH Hasyim Asy’ari tentang Pancasila. Namun, ia tak banyak menjelaskan tentang makna apa itu pancasilais. Menurutnya, istilah tersebut terlalu luas.
Syihabuddin, sebagai panelis kedua mengupas Pancasila serta bagaimana sekiranya masing-masing dari kelima sila tersebut bisa diamalkan sesuai konteks hari ini. “Siapapun yang menanamkan nilai dan moral Pancasila ia disebut Pancasilais,” tegas aktivis LBM itu.
Menurutnya, NU sebagai organisasi yang lahir dan tumbuh dari rakyat cilik telah dan terus berupaya menegakkan nilai-nilai universal yang ada di kelima sila termaksud.
Tak pantas, menurutnya, bila ada seorang Nahdliyin yang abai terhadap ejawantah sila-sila yang telah disepakati oleh ulama dan para tokoh pendiri bangsa dalam kehidupan sehari-hari. “Apabila ada orang NU yang tak menanamkan Pancasila maka tak patut disebut NU,” tambahnya.
Panelis ketiga, Fanani memaparkan politik kelas, identitas dan sejarah Indonesia. Kapan dibentuk Pancasila, bagaimana proses pembentukannya dijelaskan oleh Fanani dengan mengutip dari Kompas. “… rakyat Indonesia tak bertindak dan beretika karena agama, melainkan mereka beragama karena beretika,” ungkapnya.
Di sela-sela pemaparannya, Fanani menambahkan bahwa contoh tokoh yang patut dilabeli Pancasilais adalah Gus Dur, Habibie dan Amin Rais.
Reporter: Tim Marhalah Aksara
Editor: Hamidah










