Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Aspek Humanis dalam Khotbah Haji Wada’

Hafidz Alwi by Hafidz Alwi
11 August 2019
in Kolom
3
0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Pada tahun kesepuluh Hijriah, Rasulullah telah meraih suatu keberhasilan gemilang dalam mendakwahkan Islam, yaitu pembebasan kota Makkah. Rasul, pada waktu itu telah mengirimkan delegasi ke penjuru Jazirah Arab untuk menyampaikan risalah Islam. Tidak hanya di situ, Rasulullah juga mengirim utusan kepada para penguasa imperium dunia dalam rangka mengajak untuk memeluk Islam. 

Di suatu belahan bumi lainnya, Madinah, kota tersebut telah mencapai puncak kekokohan, masa-masa sulit telah terlewati. Berbagai ancaman dari dalam maupun luar Madinah berhasil dihalau oleh Rasulullah dan para Sahabat. Atas siasat madani yang telah dijalankan beberapa waktu, berbagai suku maupun kabilah Arab mengutus para delegasinya untuk menyatakan ketertundukan ke Madinah. Dalam kondisi misi risalah yang sudah hampir paripurna itu, Rasulullah mengutarakan niatnya untuk melakukan rukun Islam kelima, haji ke Baitullah. 

Mendengar hal itu, umat Islam dari berbagai daerah segera bergegas menuju Madinah. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berhaji dengan Rasulullah. Sungguh kesempatan yang menjadi dambaan bagi tiap insan pengagum sosok manusia sempurna, Rasul Muhammad Saw. Mereka mulai berdatangan hingga jumlah mencapai begitu banyaknya. Dalam Shahîh Muslim, Jabir menggambarkan situasi saat itu: 

“… lantas Rasulullah menaiki unta Qushwa’ dengan sempurna. Aku pun melihat hamparan manusia sejauh pandangan mataku di depan Rasulullah. Mereka ada yang berjalan kaki, ada juga yang berkendara. Lalu aku melihat pemandangan di arah kanan Rasulullah, begitu pula arah kiri dan belakang beliau yang sama banyaknya.”

Pada hari Jumat, tepatnya 9 Dzulhijjah empat belas abad yang lalu, di bawah terik matahari padang Arafah, seratusan ribu manusia dari berbagai suku dan kabilah berkumpul, mengerumun dan saling melebur. Mereka saling membaur satusama lain dalam keadaan yang sama, pakaian yang sama, tempat yang sama, status yang sama. Semua menghadap satu sosok untuk mendengarkan butiran-butiran nilai luhur kehidupan yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. 

Pada puncak ritual haji itu, Rasulullah menyampaikan khotbah yang kemudian dikenal dengan khotbah Haji Wada’. Khotbah tersebut mendeklarasikan inti nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam khotbahnya, Rasulullah merumuskan urusan dunia dan akhirat untuk umat yang terkait manusia dan relasinya dengan Tuhan maupun relasi kesalingan antarmereka. Pada hari Jumat agung itu, puncak risalah Islam purna disampaikan. 

Risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw ada kalanya bersifat lokal-fenomenologis, ada kalanya normatif-interpretatif. Kedua jenis risalah ini saling berkelindan, namun mengetahui detail dan kekhasan masing-masing bukan sesuatu yang sulit ditengarai. Misalnya, watak penduduk arab pra-Islam yang kejam merupakan kondisi lokal-feomenologis; hanya wilayah Arab waktu itu; bagaimana yang kuat menindas yang lemah, mewariskan istri ayah maupun mengubur hidup-hidup anak perempuan. Sebuah fenomena lokal biasanya terbatas di suatu wilayah, namun nilai aplikatif yang universal. Dari contoh di atas misalnya, kita bisa menyintesis nilai-nilai humanisme yang hilang pada masa Arab sebelum Islam. 

Rasulullah datang dengan misi mengangkat harkat martabat manusia. Mengembalikan manusia kepada posisi semula, sebagai makhluk mulia. Rasulullah diutus dengan rumusan nilai-nilai kemanusiaan yang—nantinya—sangat jauh melampaui zamannya. Di antara nilai kemanusiaan yang tidak pernah tercetus oleh tokoh, ataupun organisasi internasional manapun kecuali Rasul ialah sebagai berikut.   

  • • “Dengarkanlah aku, aku hendak menjelaskan pada kalian. Karena aku tidak tahu apakah aku akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini, di tempat ini.” Rasulullah mengawali khotbah terakhirnya. Kelak tiga bulan sesudah itu, beliau kembali keharibaan Ilahi.
  • • “Sesungguhnya (mencederai) darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian haram atas kalian  Sebagaimana haram (mencederai) pada hari kalian ini, di bulan kalian ini, di tempat kalian ini. ”  
  • • “Wahai para manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu. Ingatlah! Tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas non-Arab, tidak juga bagi non-Arab atas bangsa Arab, juga tidak bagi kulit merah atas kulit hitam dan tidak bagi kulit hitam atas kulit merah… melainkan dengan takwa.”
  • • “Bertakwalah kalian kepada Allah perihal para wanita. Karena kalian mengambil mereka hanya dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan mereka dengan kalimat Allah,”
  • • “(Senantiasa berbuat baiklah pada) hamba-hamba kalian. (Senantiasa berbuat baiklah pada) hamba-hamba kalian. Berikan mereka makan dari jenis makanan kalian, berikan pakaian dari jenis yang kalian pakai. Jika mereka melakukan dosa yang kalian tidak (mudah) memaafkannya, maka jual saja para hamba Allah itu dan jangan kalian siksa.”

Sungguh Rasulullah telah meletakkan tatanan baru bagi kondisi sosial saat itu. Sebelumnya (sebagaimana masyhur), penduduk Arab merupakan perumpamaan dari keganasan, perselisihan dan kehidupan yang liar. Hukum rimba yang berlaku, tidak mengenal tatanan sedemikian rupa. Namun, berkat risalah Rasulullah, segala bentuk kebengisan dan kekejaman berubah menjadi hembusan nilai-nilai kemanusiaan unggul yang tak pernah terbersit oleh siapapun. 

Kiranya, di hari yang penuh barakah ini, hendaknya kita mengurai ulang benang-benang kusut kebencian menjadi pintal-pintal kasih sayang. Momen lebaran ialah saat yang pas untuk melebar (b. Jawa: melepas) sifat-sifat yang tidak elok, untuk kembali mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai identitas unggul manusia, di antara makhluk lainnya.[]

ShareTweetSend
Hafidz Alwi

Hafidz Alwi

Wakil ketua PCINU Mesir 2021-2023 bidang Kajian dan Keilmuan. Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Ushuluddin, alumnus Pesantren Lirboyo.

Comments 3

  1. Avatar H.M.Syakirin al Ghozaly says:
    7 years ago

    Alhmdulillah generasi milenial al Azhar sangat inovatif sehingga isue yg aktualpun menjadi topik khotbah idul Adha yg sangat informatif semoga akan menjadi pemicu positif bagi pembacanya Amin

    Reply
  2. Avatar Meesbah sabieluel says:
    7 years ago

    Sae gus😄

    Reply
  3. Hafidz Alwi Hafidz Alwi says:
    7 years ago

    terimakasih apresiasinya 🙂

    Reply

Leave a Reply to H.M.Syakirin al Ghozaly Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah