Ramadan dan Takwa

0 299

Setiap tahun umat Islam menjalani rutinitas kewajiban ibadah puasa bulan Ramadan. Lebih jauh dari kewajiban puasa yang membedakannya dari bulan lain, bulan Ramadan sarat dengan nilai filosofis.

Syariat menegaskan bahwa bulan Ramadan adalah bulan dengan keberkahan nan melimpah. Bulan anugerah. Namun, seberapa jauh keistimewaan tersebut kita rasakan dan seberapa besar anugerah itu membumi dalam kehidupan kita? Mata yang sakit tidak akan dapat melihat terangnya matahari. Demikian juga akal yang tidak berpikir tidak menemukan arti di balik sebulan penuh dengan kewajiban puasa.

***

Puasa, sebagaimana ibadah yang lain, memiliki dua sisi sudut pandang menurut syariat. Dari sudut hukum taklifi; tugas ilahi, perintah melaksanakan puasa berarti sederet prosedur yang harus ditaati orang Islam berupa perintah-larangan teknis seputar puasa yang bisa menghantarkannya pada isqâth al-wujûb; menggugurkan kewajiban. Dari sudut pandang ini, orang muslim memahami bagaimana cara berpuasa dan itu menjadi pedoman sepanjang dia menjalankan puasa.

Sudut pandang kedua adalah tujuan yang seharusnya dicapai oleh seorang muslim di balik ibadahnya. Selalu ada arti di balik setiap ibadah maupun muamalah, tidak begitu saja dititahkan. Baik arti tersebut disebutkan dalam tiap perintah dan larangan, atau disebutkan dalam kesempatan lain. Mereka yang menyelami syariah dengan utuh akan memahami hal itu.

Melalaikan tujuan dari ibadah hanya akan memunculkan sikap formalitas ketika menjalankannya. Orientasi pelakunya hanya melakukan sesuai dengan prosedur yang bisa menggugurkan kewajiban. Maka tidak jarang kita jumpai ibadah yang lepas dari esensi menyembah kepada Sang Pencipta, dan menggantikannya dengan bentuk formal.

Fenomena yang kentara adalah salat tarawih yang seolah berpacu dengan waktu dan masih banyak lagi.
Padahal jika kita sibak sedikit lebih lanjut, betapa banyak titah ibadah yang bergandengan erat dengan tujuan dari ibadah itu sendiri, dimulai dari salat yang menjadi penghalau perilaku buruk, zakat yang menjadi pembersih diri manusia, ibadah haji dengan menahan dari perbuatan jelek dan yang sedang kita jalani; puasa. Di dalam ayat mengenai kewajiban puasa disebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Juga disebutkan dalam hadis:

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan bohong dan melakukan yang diucapkan itu, dan sifat-sifat kebodohan, maka Allah tidak peduli dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Bukhari )

“Banyak orang puasa, mendapat bagian dari puasanya hanya lapar dan haus.” (HR Ahmad)

Sedemikian terangnya, tujuan dari puasalah yang menjadi puncak dari perintah puasa itu sendiri.

Bertakwa kepada Allah dalam ayat di atas, berarti selalu mengingat Allah dalam perihal dosa kecil maupun besar. Serta mengintrospeksi diri dan menahannya dari keburukan, mengarahkannya pada kebaikan. Begitu pula dalam hadis, tergambar bahwa melakukan puasa namun mengabaikan tujuan utama dari puasa tersebut, itu berarti dia hanya mendapat kepayahan saja, meski kewajibannya telah terlaksana.

***

Fenomena yang banyak terjadi di dalam kehidupan sekitar kita, banyaknya pembahasan tentang prosedur puasa tidak jarang membuat seorang muslim berpandangan bahwa puasa adalah formalitas berupa ritual saja. Di mana ketika dia selesai melaksanakan sesuai prosedur yang digariskan, selesai sudah.

Pemahaman timpang seperti ini jika tidak segera disadari, akan melahirkan perilaku-perilaku yang jauh dari esensi agama itu sendiri. Jika misi utama risalah nabi adalah menyempurnakan akhlak, itu artinya poros utama dari sekian banyak ibadah adalah akhlak dan etika. Ibadah yang tidak bisa membawa pelakunya pada poros tersebut, berarti belum memenuhi tujuan utama.

Beragama secara formalitas dengan melupakan esensi, di samping menjauhkan dari tujuan utama, pada saatnya akan memunculkan stigma negatif pada pemeluk agama yang demikian itu. Tidak jarang juga lantas membuat buruk citra agama.

***

Jika dilihat bahwa puasa secara utuh adalah bentuk menahan diri dari segala hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain (bertakwa), maka seharusnya bulan suci ini merupakan momentum menebar kebaikan sekaligus mengurangi dengan drastis terhadap tindakan amoral.

Jika seseorang memahami kalau puasanya akan sia-sia ketika dia melakukan keburukan, bukankah itu harusnya bisa menahannya dari tindakan buruk itu? Sementara semua orang Islam yang melakukan puasa dan memahami esensinya, bisa dibayangkan betapa besar efek positif puasa bagi kehidupan nyata.

Apakah keberkahan bulan Ramadan tercegah masuk ke dinding jiwa kita?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.