Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Warta

Bentuk PCI NU Mesir dalam Menyambut HUT RI ke 79

Rafi Erlangga Kadarusman by Rafi Erlangga Kadarusman
18 August 2024
in Warta
0
0
SHARES
46
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sebagai masyarakat yang cinta tanah air, PCINU Mesir memperingati hari kermedakaan Indonesia ke 79 pada hari Jum’at, 16 Agustus 2024 dengan tema “Malam Tirakatan dan Refleksi Kebudayaan”. Acara yang bertempat di Rumah Budaya Nadi Rubu’ disambut hangat oleh para warga Nahdiyin untuk melepas rasa rindu mereka kepada Indonesia yang telah lama ditinggal merantau. Semarak kemerdekaan ini diawali dengan khataman al-Qur’an bersama mahasiswa JQH NU Mesir sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan umur kemerdekaan yang panjang.

Usai khataman dari mahasiswa JQH, tim hadrah dari Fatayat juga ikut mewarnai malam tirakan dengan membawa lagu-lagu selawat yang syahdu. Banyak dari peserta terkesan gembira karena mayoritas dari mereka merasa suasana kemerdekaan yang diadakan oleh NU Mesir tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini memang tujuan utama para panitia yang ingin mengonsep acara kemerdekaan Indonesia di NU Mesir dengan gaya yang baru, sebagaimana acara yang ditampilkan panitia tidak hanya berisi rebanah, hadroh dan selawatan, mereka juga menampilkan pentas kebudayaan seperti wayang golek, orasi kebudayaan, puisi dan gambus.

Awalnya peserta mengira selawatan di hari kemerdekaan selesai pada penampilan dari tim hadrah Fatayat, ternyata itu hanya sekedar pemanasan bagi mereka. Setelahnya tim hadroh dari PCINU Mesir ikut serta memeriahkan suasana malam kemerdekaan, di mana sebelumnya mereka melanjutkan nyanyian selawat dan bacaan istigasah dengan tujuan untuk mendoakan para pahlawan yang sudah rela berkorban dan bertumpah darah demi kemerdekaan Indonesia. Selama lantunan istigasah, Para peserta dan tamu VIP menyimak dan membacanya dengan khusyuk agar doa-doa dan zikir yang mereka baca tersampaikan kepada para pahlawan terdahulu yang telah meninggalkan kita.

Hal yang lebih menarik bagi seluruh warga Nahdiyin dan tamu undangan ada saat tim hadrah PCINU Mesir membawakan selawat yang berjudul Busyrolana. Mereka semua turut senyum bergembira dalam artian suasana yang mereka rasakan saat itu seakan hadir di tengah-tengah selawatan akbar yang dipimpin oleh Habib Syekh. Keadaan seperti ini memang sangat dirindukan warga Nahdiyin sebab suasana tersebut menggambarkan bentuk kampung halaman tempat mereka lahir. Sepanjang selawat dikumandangkan, seluruh lembaga dan Banom yang hadir di acara turut bersemangat meneriakan suaranya.

Sehabis pembacaan selawat, KH. Faiz Husaini selaku ketua Tanfiziyah PCI NU Mesir menyampaikan pesan perihal kemerdekaan. Ia mengingatkan kepada warga Nahdiyin di Mesir bahwa kemerdekaan Indonesia tidak semata dariĀ  tentara saja, akan tetapi dari para santri dan kiyai juga sebagai pejuang yang perlu diingat tanda jasanya atas kemerdekaan Indonesia. Mereka semua termasuk pahlawan bangsa yang berjuang mengusir para kolonial di masa penjajahan, kemerdekaan ini tidak akan tercapai jika para santri dan kiyai tidak ikut berjuang mempertahankan tanah air. Pun, kemerdekaan yang bisa bersih dari penjajahan hingga bisa bertahan sampai saat ini berkat persatuan yang utuh dari masyarakat Indonesia di semua golongan. Semangat kemerdekaan yang Pak Faiz sampaikan tak sebatas kata, ia juga mengajak seluruh warga Nahdiyin untuk tetap menjaga nilai bhinneka tunggal ika, keislaman dan asas dasar negara pancasila.

Seusai sambutan ketua Tanfiziah PCI NU Mesir, acara dilanjut dengan penampilan budaya yang membuat para serta hadir penasaran sejak munculnya pamflet acara kemerdekaan yang diterbitkan oleh LTN NU Mesir. Penampilan budaya diawali dengan Puisi dari WS Rendra yang berisi tentang esensi kemerdekaan, bunyi puisi Rendra menyadarkan seluruh pembaca dan pendengarnya tentang bagaimana arti kemerdekaan sejati. Di dalam puisinya, Rendra sangat memprihatinkan keadaan Indonesia yang sudah lama merdeka, sebab masih banyak rakyat miskin yang mati kelaparan. Saat itu keadaan penonton sunyi serta menghayati isi puisi dari Rendra, ditambah dengan Azhar Azza Muqofi sebagai pembaca yang sangat emosional ketika membacakan puisi Rendra.

Begitu pun Lalu Azmil Azizul Muttaqien saat membawakan orasi kebudayaan. Dirinya begitu semangat dalam menyampaikan isi teks yang ia buat tentang nila-nilai dari plokamsi dan kemerdekaan. Ketika ia membacakan teks orasi kebudayaan seakan menggambarkan Indonesia yang sudah merdeka ini dengan berbagai konflik berkali-kali terjadi waktu dekat ini, seperti perempuan Paskibraka yang disuruh membuka jilbab ketika pengukuhan.

Tak sampai di situ, Ali Gad sebagai aktor di dalam penampilan monolog ikut menyamai suasana saat Azza membawakan puisi. Ali membawakan cerita tentang si pemuda dengan seorang kakek yang merupakan mantan perjuangan, cerita yang dibawakan Ali ternilai apik dan unik. Di isi ceritanya ia menggambarkan bagaimana situasi dan kondisi yang dirasakan oleh para pejuang dahulu, sehingga membuat penonton terasa sedih karena cerita yang disampaikan Ali sangat memberikan kesan yang mendalam bagi para pemuda di masa kini masih belum memahami makna kemerdekaan seutuhnya. Ditambah dengan peranan Ali dalam menyampaikan sebuah cerita sangat artistik dan bisa menyampaikan isi cerita secara utuh.

Pada saat penampilan monolog telah selesai, tim dari LTN NU Mesir mengumumkan pemenang lomba esai yang diadakan oleh PCINU Mesir. Sekaligus mempromosikan website numesir.net sebagai wadah literasi dan menulis bagi warga Nahdiyin di Mesir yang ingin mengembangkan bakat literasinya di ruang lingkup PCINU Mesir. Tujuan diadakannya lomba esai dan pengumuman website NU Mesir, untuk tetap mempertahankan nila-nilai literasi yang dibawa oleh kiyai NU dan para guru besar di al-Azhar.

Selesai pengumuman lomba, acara dilanjut dengan wayang golek yang didalangi oleh Fajar Hamdani, dengan membawa tiga aktor wayang dan salah satu diantaranya adalah Cepot. Penampilan yang diatur oleh dalang Fajar memiliki cerita yang lucu dan Islamis, ia sempat berkali-kali membuat para penonton tertawa dengan gerakan wayang, suara dan alur cerita yang menggelitik perut. Sedangkan pesan Islamis yang dibawa oleh wayang golek berisi tentang klaim yang menyatakan bahwa wayang itu haram, Fajar menumpas klaim itu melalui wayangnya si Cepot. Saat Itu ia membantahnya dengan beberapa cerita wayang di sebagian daerah yang memiliki arti keislaman seperti rukun Islam, rukun Iman, menjauhkan maksiat dan melaksanakan shalat. Sekaligus mempromosikan bahwa wayang saat ini sudah sampai dan tersebar di negara Arab.

Melihat para peserta telah berhasil dihibur oleh wayang golek, teman-teman Lesbumi NU Mesir menutup penampilan refleksi kebudayaan dengan iringan musik Gambus. Beberapa lantunan musik yang mereka bawa berasal dari penyanyi wanita Mesir yang memiliki suara merdu dan sering dikenal dengan Ummu al-Kultsum. Musik yang dibawakan oleh Lesbumi mengajak para penonton untuk bertepuk tangan dan berdansa. Sampai pada puncaknya, para penonton memaksa penampilan gambus ini terus dilanjutkan untuk memuaskan keinginan penonton. Sehingga, merekapun terpaksa menambahkan satu lagu untuk memenuhi keinginan penonton. Kemudian acara ditutup dengan doa sebagai bentuk rasa syukur suksesnya acara kemerdekaan ini dan permohonan ampun atas kekurangan serta ketidakpuasan dari acara ini.

Tags: 17 agustusIndonesiakemerdekaannu mesir
ShareTweetSend
Rafi Erlangga Kadarusman

Rafi Erlangga Kadarusman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah