Matinya Berfilsafat, Haruskah Imam al-Ghazali Bertanggung Jawab?

2 579

Seperti biasa, ketika Gus Ulil mengadakan Pengajian Ihya’ di facebook secara langsung, saya usahakan untuk menyimak walau beberapa menit saja. Bagi saya, mendengar pengajian Gus Ulil penting. Selalu ada kisah-kisah dan pengalaman segar dari beliau yang patut untuk diikuti dan dipelajari.

Dalam salah satu pengajiannya pada Oktober kemarin, ada pembahasan yang menurut saya menarik. Waktu itu, ia sedikit mengulas perihal hubungan Imam al-Ghazali dengan dunia filsafat Islam. Ia mengatakan, “Apakah benar bahwa Imam al-Ghazali adalah penyebab kemunduran dunia Islam, karena Imam al-Ghazali-lah yang telah membunuh filsafat (tradisi) Islam ?

Entah dari mana pernyataan ini berasal. Namun karena sudah masyhur, kalimat tersebut seolah menjadi sebuah paham yang dipercayai dan diikuti begitu saja, setidaknya oleh kalangan Barat, bahwa dunia Islam sedang mengalami kemunduran dan ada peran al-Ghazali di dalamnya (lihat Syed Hossein Nasr: alHikmah al-Muta’âliyah; Mulla Sadra: Sebuah Terobosan dalam Filsafat Islam, hlm. 3). Al-Ghazali diklaim sebagai pembunuh filsafat karena ia telah mengkritik para filsuf dalam kitabnya, alMunqidz min al-Dlalâl, juga dalam kitabnya yang terkenal, Tahâfut alFalâsifah.

Ringkasnya, Gus Ulil menolak pernyataan bahwa al-Ghazali membunuh tradisi filsafat dalam Islam. Bagi Gus Ulil, hal demikian tak lebih dari sekadar tuduhan. Ia berargumen bahwa sebenarnya tidak ada problem antara al-Ghazali dengan filsafat karena berbagai alasan. Pertama, dalam ilmu mantik misalnya, menurut al-Ghazali tidak ada yang diharamkan sama sekali dalam ilmu tersebut. Gus Ulil mengutip salah satu pernyataan Imam al-Ghazali yang tertuang dalam kitabnya, al-Qisthâsh al-Mustaqîm. Dalam kitab tersebut, dengan tegas al-Ghazali mengatakan: “Barangsiapa yang tidak mempelajari ilmu mantik, maka ilmunya tidak bisa dipercayai”.

Kedua, jika dikaitkan dengan ilmu fisika yang notabene masuk dalam ilmu filsafat, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa antara filsafat dan fisika tidak ada problem sama sekali. Dalam ranah metafisika (tasawuf), ada dua puluh persoalan yang dianggap bermasalah oleh al-Ghazali. Dari semua itu, hanya empat permasalahan yang menurutnya dapat dikategorikan masuk ke ranah takfirisme. Jadi, bagaimana mungkin tindakan al-Ghazali yang mempersoalkan empat masalah saja dari sekian banyak pembahasan filsafat, menjadikannya seorang pembunuh filsafat sekaligus penanggung jawab atas kemunduran dunia Islam? Bagi Gus Ulil, hal tersebut tidak benar dan tuduhan yang tidak berdasar.

Penolakan yang diberikan oleh Gus Ulil di sini sejalan dengan pernyataan Frank Griffel, seorang profesor dalam bidang Studi-studi Islam di Universitas Yale. Frank Griffel secara utuh mengkaji pemikiran al-Ghazali dan menuliskan kajian tersebut dalam bukunya yang berjudul AlGhazali’s Philosophycal Theology. Dalam sebuah interviu yang diselenggarakan oleh pihak universitas, ia diberi sebuah pertanyaan mengapa pandangannya mengenai al-Ghazali tidak seperti pandangan kebanyakan sarjanawan Barat, penyebab kehancuran filsafat dan sains? Frank Griffel menjelaskan bahwa klaim semacam itu tidaklah benar. Imam al-Ghazali memang telah menulis beberapa kitab yang mengkritik keras para filsuf Islam, tapi bukan berarti kritikan tersebut dapat diartikan sebagai sikap penolakan Imam al-Ghazali terhadap filsafat sepenuhnya. Apa yang dilakukan Imam al-Ghazali hanyalah memindah diskursus Aristoteles yang asalnya turats falsafi menjadi turats kalami (teologi Islam).

Ada perbedaan signifikan antara turats falsafi yang dalam hal ini spesifik mengarah pada pembahasan ilahiyat, dan turats kalam. Ilahiyat membahas yang-ada sebatas mana ia berperan sebagai yang-ada, sedangkan ilmu kalam membahas yang-ada dimana ia mengarah pada Yang Mutlak, Sang Khalik, Allah SWT. Kalau filsafat dicirikan dengan dengan nalar rasionalitas, maka ciri tersebut sama sekali tidak hilang dalam perpindahan dari ilahiyat (turats falsafi) menuju ilmu kalam. Coraknya hampir sama, namun dalam ilahiyat, tidak ada keberpihakan netral. Sedangkan dalam ilmu kalam, ada posisi yang jelas, yaitu Tuhan sebagai tujuan.

Tidak hanya dalam ranah metafisika (ilahiyat), Imam al-Ghazali juga menulis seputar kosmologi. Bahkan menurut Frank Griffel, pendekatan yang dipakai al-Ghazali dalam ilmu sains adalah pendekatan yang benar-benar baru. Frank menjelaskan bahwa sebenarnya al-Ghazali menginginkan sebuah kosmologi yang bisa menuntun pada pengetahuan (makrifat) akan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta. Dari sana, maka salah apabila Imam al-Ghazali disebut sebagai penyebab kemunduran Islam dengan alasan telah membunuh ilmu filsafat, namun justru beliau telah mendorong para ulama agar berjalan ke arah sains.

Dari penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa al-Ghazali bukanlah ulama yang anti-filsafat sepenuhnya. Namun masalahnya, mengapa kita tidak mendapat citra filsafat dari sebagian (atau bahkan kebanyakan) pembaca karya-karya Imam al-Ghazali? Di Indonesia misalnya, banyak sekali kitab beliau yang diajarkan di pesantren. Namun, citra yang sampai hari ini populer ialah bahwa Imam al-Ghazali merupa sosok ahli fikih dan ahli tasawuf. Dalam ranah ketuhanan (metafisika), Imam al-Ghazali dipandang sebagai sosok yang menyeramkan sebab Tahâfut al-Falâsifah atau al-Munqidz min al-Dlalâl yang berisi hujatan terhadap filsafat.

2 Komen
  1. Hamid berkata

    Nah, sepertinya pertanyaan di paragraf terakhir cukup memantik buat tulisan berikutnya, Cak. :v

    Sepertinya kita memang perlu tau, mengapa tradisi keilmuan di pesantren kita lebih ke fikih, daripada kalam. Akan lebih jauh lagi kalau Anda bisa mengajukan tawaran pembaharuan metodologi ajar yang baru. Hitung-hitung investasi dua puluh tahun ke depan. Kalau fikihnya bener dan/atau pinter kalam, enggak ada itu ruang buat yang bilang kopar-kapir. Hehehe.

    1. Nay berkata

      Wah… dikode tuh… @farhan fadil

      Ditunggu tulisan selanjutnya, @farhan fadil

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.