Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Mendudukkan Fikih Peradaban

Ikrom Mausuli by Ikrom Mausuli
25 October 2022
in Kolom
0
0
SHARES
198
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Menyambut hari lahir yang ke-1 abad dalam kalender Hijriah, Nahdlatul Ulama (NU) menghadirkan wacana Fikih Peradaban sebagai kelanjutan dari Islam Nusantara. Tak ada yang baru sejatinya dalam wacana Fikih Peradaban. Apa yang baru hanyalah perpaduan diksi antara Fikih dan Peradaban. Sedangkan substansi dan praktiknya tidak jauh berbeda dengan wacana yang dihadirkan oleh NU sebelumnya, yakni Islam Nusantara.

Fikih Peradaban adalah upaya warga Nahdliyyin ikut serta dalam wacana global mengenai peradaban. Ada dua tujuan besar dalam wacana yang digawangi Ulil Absar Abdallah sebagai Ketua Lakpesdam PBNU ini. Pertama, menghidupkan kembali dialog pemikiran keislaman, khususnya di Indonesia yang kian redup. Dalam hal ini, para pengurus NU berkaca pada pendahulunya yang dimotori oleh Gus Dur yang secara masif menghadirkan pemikiran-pemikiran Islam di dunia Arab dan Barat dan mendialogkannya dengan cendekiawan muslim di Indonesia. Usaha Gus Dur mendapat respons positif dan mampu meramaikan jagat diskusi intelektual di kalangan pemikir Islam Indonesia dengan munculnya tokoh cendekiawan muslim seperti Nurcholish Madjid dan Ahmad Syafii Maarif.

Tujuan kedua dari wacana Fikih Peradaban ialah kontekstualisasi khazanah keilmuan Islam yang teramu dalam turas atau kitab klasik keilmuan Islam dengan realitas peradaban baru. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat global memasuki fase baru kehidupan. Modernitas adalah realitas yang tak bisa dihindari. Di samping itu, hegemoni Barat atas konsep ideal modernitas ini mencengkeram nalar keilmuan muslim, sehingga masyarakat muslim terjebak dalam jurang falsifikasi ketika berusaha memahami realitas peradaban baru ini. Pertama, nalar konservatif yang terlalu mensakralisasi turas dan abai terhadap realitas kehidupan manusia yang dinamis. Kemudian kedua, nalar modernis yang terjebak dalam hegemoni Barat di atas dan kehilangan identitas keislaman yang terangkum dalam khazanah klasik.

Berdasarkan dua tujuan di atas, Fikih Peradaban memang wacana yang menarik dan segar untuk didiskusikan dalam dunia pemikiran Islam. Fikih sendiri merupakan diksi yang khas dalam diskursus keilmuan Islam. Terlebih di era kontemporer, para ulama dan cendekiawan sedang gencar-gencarnya mengaktualisasikan kembali fikih sebagai sebuah konstruk pemikiran umat Islam. Habib Abu Bakar al-Adni, menelurkan konsep Fikih Eskatologi, Kiai Ahmad Sahal dengan Fikih Sosialnya, dan Syekh Hamdi Zaqzuq dengan fiqh al-wâqi’ yang digagasnya. Frasa Fikih Peradaban atau fiqh al-Hadharah sendiri sebenarnya pertama kali dikenalkan oleh Dr. Muhammad Imarah. Oleh karena itu, tidak ada yang baru sebenarnya dalam Fikih Peradaban sebagai sebuah gerakan tajdid, akan tetapi hanya mengembalikan esensi fikih sebagaimana dipahami oleh ulama salaf sebagai upaya interpretasi syariat dengan realitas yang sifatnya dinamis dan lentur.

Kontekstualisasi fikih semacam ini diperlukan agar diskursus keilmuan Islam mampu terus berkembang dan tidak berhenti dalam stagnasi. Dengan kesadaran, bahwa umat muslim dengan spirit keagamaan Islam harus mempertahankan identitas dan cita-cita syariat yang disampaikan melalui wahyu. Dalam hal ini, Islam harus terus hadir dan tidak lagi menjadi negara ketiga dalam percaturan peradaban dunia. Terlebih pembahasan peradaban memang menjadi salah satu problematika dunia saat ini yang masih belum menemukan jawabannya.

Bagi Samuel P. Huntington, dunia saat ini tidak lagi dihadapkan dengan pertarungan ideologi ataupun ekonomi. Pertarungan ideologi sudah selesai bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Saat ini, secara tidak sadar dunia berada dalam pertarungan peradaban. Pertarungan peradaban berbeda dengan perang yang sudah ada sebelumnya, yang menghadapkan dua kekuatan besar. Pertarungan peradaban adalah reaksi atas dominasi dan hegemoni peradaban Barat. Dalam pertarungan ini, peradaban dunia bertarung melawan hegemoni dan menciptakan peradaban modern tanpa terjebak dalam westernisasi. Islam sebagai antitesis hegemoni peradaban Barat harus terlibat secara langsung dalam wacana peradaban ini.

Namun sayangnya, dengan adanya konferensi pres dan beberapa halakah peradaban yang dihelat oleh NU, tema dan wacana yang diangkat tereduksi hanya pada persoalan siyasah (politik). Pembahasan yang dihadirkan tidak jauh pada persoalan fiqh al-siyasah dalam berbagai konteks dan perspektif. Padahal peradaban memiliki anasir yang kompleks dalam suatu tatanan masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan Samuel, peradaban merupakan entitas budaya. Kesatuan budaya ini terbentuk dalam lingkup terkecil hingga terbesar; lingkungan, etnis, negara, hingga agama. Kesatuan budaya tertinggi dalam kelompok manusia yang seolah-oleh membedakan manusia dari spesies lain inilah yang pada akhirnya dinamakan sebagai peradaban. Ada delapan peradaban yang eksis pada era modern ini: Barat, Konfusianis, Jepang, Islam, Hindu, Slavik-Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika.

Membicarakan peradaban adalah perkara yang kompleks karena keterkaitannya dengan identitas kelompok besar masyarakat dunia. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah telah lebih lama berbicara mengenai peradaban. Ibnu Khaldun memaknai peradaban lebih gamblang dan kompleks daripada apa yang disampaikan oleh Samuel. Peradaban bukan hanya persoalan identitas, melainkan juga kemandirian ekonomi dan stabilitas sosial yang diejawantahkan dalam aspek yang bersifat materi maupun imateri. Peradaban adalah puncak tertinggi kesatuan tatanan masyarakat. Oleh karenanya, wacana peradaban tidak bisa dilihat dari satu kacamata unsur berdirinya peradaban saja, melainkan keseluruhan aspek yang membentuk identitas tertinggi tersebut. Setidaknya, anasir penopang berdirinya peradaban bisa dilihat dalam aspek ekonomi, sosial, bahasa, dan agama selain aspek politik saja.

Agar wacana Fikih Peradaban benar-benar mampu memberikan sumbangsih besar pada dialog pemikiran dunia, maka pembahasannya harus diperluas. Persoalan peradaban juga bukan lagi sebatas pada persoalan politik dan realitas negara bangsa. Peradaban lebih jauh menyangkut nilai-nilai universal kemanusiaan. Maka diskursus yang dihadirkan dalam Fikih Peradaban juga harus menyentuh persoalan yang benar-benar kurang hadir dalam wacana turas peradaban Islam. Persoalan menyangkut gender, hak asasi manusia, realitas masyarakat ekonomi bebas, dan konstruk pembentukan bangsa mulai dari keluarga juga perlu dikaji ulang dengan konteks zaman sekarang. Dari sana kemudian muncul fikih baru, fikih yang mampu menjawab persoalan baru dengan gaya baru, tetapi hadir membawakan nilai-nilai Islam yang universal dan tetap sama dengan apa yang sejatinya dibawakan Nabi Muhammad.

Penulis: Ikrom Mausuli

Tags: Fikih Peradabanlakpesdam
ShareTweetSend
Ikrom Mausuli

Ikrom Mausuli

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah