PCINU Mesir menggelar Malam Puncak Festival Santri 2022 di aula KAHHA pada Ahad sore lalu (30/10).
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rangkaian HSN kali ini dimulai sejak delapan hari sebelum Malam Puncak dan dipungkasi dengan rilisnya forum kajian baru, Thayyibian Academy. Forum yang digawangi oleh GP Ansor dan PCI Fatayat NU Mesir ini dimaksudkan sebagai wadah yang mengkaji pemikiran Grand Syekh Ahmad Thayyib, Syekh al-Azhar yang menjabat sejak 2010 hingga kini.
Setelah dibuka oleh Ketua Tanfiziyah, Nizam Noor Hadi sebagai moderator memulai diskusi tajuk “Syekh Ahmad Thayyib; Visi, Kiprah dan Pengaruhnya bagi Peradaban Dunia”. Sebagai wadah untuk mengenalkan tokoh dan kiprah Grand Syekh, Thayyibian mengundang tokoh Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) yang kapabel untuk berbicara tentang Grand Syekh. Mereka ialah Fardan Satrio, Munawar Ahmad Sodikin dan Zulfah Nur Alimah.
Sebagai pegiat Salon Budaya, Munawar memaparkan perjalanan intelektual Grand Syekh sejak kecil hingga kini. Selain memang tumbuh dari rumah ilmu dan saleh, Grand Syekh berdarah al-Hasani itu merupakan pembelajar cerdas nan gigih. Ketekunannya dalam mencari ilmu mengantarkannya hingga ke Sorbonne, Prancis untuk mendalami filsafat dan teologi Islam. Ketajaman analisis dan bangunan pemikiran kalam dan filsafatnya bisa dilihat di antaranya melalui disertasi di Universitas al-Azhar yang berjudul al-Jânib al-Naqdiy fî Falsafat Abi al-Barakât al-Baghdâdiy. Buku ini terbitkan oleh Dar al-Syuruq pada 2004. Majelis Hukama Muslimin menerbitkan ulang dalam judul yang sama pada 2019.
Grand Syekh, yang hari ini (04/11) sedang berada di Bahrain untuk berdialog dengan Paus Fransiskus tentang Koeksistensi Timur dan Barat merupakan imamussalam. Untuk memahami pentingnya agenda perdamaian Syekh Ahmad Thayyib, kata Zulfah Nur Alimah, “… kita perlu memahami lanskap politik Timteng secara umum dan Mesir secara khusus,” tutur alumnus Takmirul Islam yang baru saja meraih master Balaghah dan Kritik itu.
Selain sebagai imamussalam, Grand Syekh tak pernah absen dari posisi 25 besar tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia. Beberapa hari lalu, Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berpusat di Yordania menyebut Grand Syekh sebagai tokoh paling berpengaruh di urutan ke-14.
Sebagai tambahan, dari 50 besar The World’s 500 Most Influential Muslim 2023, Presiden Joko Widodo menduduki posisi ke-13, dan KH Yahya Cholil Staquf berada di urutan ke-19 dan Habib Luthfi Yahya di urutan ke-30.
Di samping materi, para pemateri juga mengajak Masisir untuk bergabung di kajian yang akan dibuka pada pertengahan bulan November ini.
Malam Puncak diakhiri dengan pengumuman juara lomba Festival Santri. Cendana, angkatan baru PCINU Mesir berhasil memungkasi gawe HSN 2022 dengan senyum sukses.










