Kidung Kehidupan Ummu Kultsum

0 86

Ummu Kultsum, penyanyi lagu-lagu aransemen Arab yang dijuluki Sang Bintang dari Timur itu merupakan putri seorang muazin yang lahir pada 1898 M. Latar belakang keluarganya yang cukup relijius mengondisikan Ummu Kultsum untuk menghabiskan masa kecilnya di sebuah madrasah (kuttab) di salah satu sudut provinsi Daqahlea, Mesir.

 

Sejak kecil, Ummu Kultsum memiliki suara yang merdu. Karir tarik suaranya bermula sejak ia berusia tujuh tahun. Ummu Kultsum kecil sering didandani ‘kecowok-cowokan’, sebab situasi Mesir saat itu kurang menjamin ekspresi seorang perempuan.

 

Upaya Ummu Kultsum dalam menyalurkan bakatnya sebagai penyanyi mengantarkan ia sampai ke Kairo. Berawal dari menyanyi secara sukarela, akhirnya ia mulai dikenal masyarakat luas. Beberapa waktu setelah dikenal, ia mulai mendapat jadwal konser setiap Kamis di Dar Opera Kairo.

 

Sosok Ummu Kultsum yang demikian low profile tak hanya dikenal oleh masyarakat Timur Tengah, ia juga tak asing di telinga mahasiswa. Kedekatan antara Mesir dan Ummu Kultsum inilah yang memotivasi teman-teman Lembaga Seni dan Budaya (LSB) PCINU Mesir untuk mengenang kembali sosoknya dalam sebuah tadarus budaya. Acara yang bertajuk Kidung Kehidupan Ummu Kultsum ini diselenggarakan di Aula Kelompok Studi Walisongo (KSW) pada 5 Maret lalu.

 

Selain membincang biografi sebagaimana di muka, para narasumber juga menarasikan musik-musik yang dibawakan oleh Ummu Kultsum. “. . . bahwa musik-musik yang mengiringi lagu-lagunya Ummu Kultsum memiliki kekhasan tersendiri,” tutur Adi, sang pembawa musik.

 

Salah satu alat musik yang mengiringi lagu-lagu Ummu Kultsum adalah oud. Instrumen oud mampu mengeluarkan nada vibrate yang darinya musik-musik Timur Tengah memiliki khas tersendiri. “Not-not pada alat musik oud, berbeda dengan gitar dan alat musik petik lainnya. Di oud, terkadang angka pada nada naiknya berbeda dengan nada turunnya,” tambah Muhammad,  pembawa musik lainnya. Ia juga menambahkan bahwa oud inilah alat musik khas Mesir yang muncul sebelum gitar.

 

Selain menghadirkan Muhidurrahman, Ketua yang membawahi LSB dan LMI NU sebagai narasumber bagıan biografi, panitia juga menghadirkan Ikhda Habibatur R sebagai pembedah syair pilihan. Syair pilihan tersebut berjudul Amal Hayati dan Enta Umri. Kedua lagu tersebut sempat mengetren pada tahun 60-an.

 

Selain ada coffee break di sela-sela sesi satu dan dua, para hadirin juga dimanjakan dengan grup musik dari LSBNU al-Nahdlah (selawat) dan Khanqah al-Sufiyah (lagu-lagu khas Timur Tengah) yang membawakan Alf Laila wa Laila dan Ghanni li Syuwayya-Syuwayya.

 

Tadarus budaya yang digawangi oleh LSB NU Mesir, di samping sebagai ajang temu sesama lembaga juga menjadi bincang dengan sesama Masisir dengan santai dan mendalam. “Dahulu, NU Mesir pernah punya agenda tadarus budaya membahas Ummu Kultsum, tapi sayangnya yang dibahas cuma syair dan sisi personalnya (Ummu Kultsum). Adapun tadarus budaya kali ini materi pembahasannya luas; bedah syair, musikologi Arab, fikih musik dan feminisme,” kesan Pandu Utama, salah satu narasumber.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.