Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kajian

Laporan Kajian Metodologi Lakpesdam Reguler PCINU Mesir

numesir by numesir
3 October 2019
in Kajian
0
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Salah satu kelebihan Ibnu Khaldun dalam menuliskan Muqaddimah adalah pemaparannya yang sangat mirip dengan kerangka karya tulis ilmiah saat ini. Ibnu Khaldun memulai kitabnya dengan pembukaan metodik yang mengisyaratkan perihal metodologi sosial dan sejarah yang ia gunakan. Selain itu, sebelum masuk ke pembahasan inti Muqaddimah, Ibnu Khaldun juga mengawali bab pertama dengan beberapa pengantar-pengantar penting. Hasan al-Sa’ati dalam kitabnya, ‘Ilm al-Ijtima’ al-Khaldûniy; Qawâ’id al-Manhaj menerangkan bahwa setidaknya ada enam metodologi yang digunakan Ibnu Khaldun dalam analisis sejarah dan sosialnya.

Pada Kamis, 26 September 2019 lalu, bertempat di Rumah Lakpesdam HaySabik, Lakpesdam Reguler kembali melanjutkan diskusi metodologi Ibnu Khaldun dengan menggunakan kitab karya Hasan al-Sa’ati di atas. Kajian yang dihadiri delapan personel tersebut dimulai pukul 14.30-21.00 WLK. Dalam diskusi kali ini, setidaknya ada tiga metodologi Ibnu Khaldun yang berhasil dikupas. Pertama, al-qiyas bi al-syâhid wa bi al-ghâib. Metode ini merupakan hasil adopsi Ibnu Khaldun dari ulama ilmu kalam dan usul fikih. Dimana, yang sebelumnya digunakan dalam mencari argumentasi rasional di bidang akidah dan mengistinbatkan hukum syariah, oleh Ibnu Khaldun diterapkan dalam penelitian sosiologi dan verifikasi riwayat-riwayat sejarah. Metodologi ini merupakan salah satu aspek penting dalam kerangka berpikir metodik Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, dimana kata Ibnu Khaldun, salah satu penyebab utama sebagian ahli sejarah jatuh dalam kesalahan periwayatan adalah karena mereka tidak menggunakan kias dalam menganalisis kabar-kabar yang datang dari masa lampau.

Kedua, al-sabr wa al-taqsîm. Al-sabr di sini diartikan sebagai upaya membaca kemungkinan-kemungkinan yang menjadi sebab dari suatu peristiwa, sedangkan al-taqsîm ialah tahap setelah al-sabr, yaitu memilih sebab yang paling benar dan cocok dari beberapa kemungkinan-kemungkinan yang ada. Salah satu permasalahan yang dibaca Ibnu Khaldun menggunakan metodologi ini adalah ketika ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai alasan penetapan seorang pemimpin dari kalangan Quraisy. Pendapat masyhur tentang hal ini ialah untuk bertabaruk (mengambil berkah) dari keturunan baginda Nabi SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa, sebab dipilihnya Quraisy adalah karena pangaruh al-‘ashabiyyah (solidaritas sosial) mereka  yang kuat dibandingkan dengan suku-suku lain. Setelah melakukan ­al-sabr dengan menyebutkan kemungkinan-kemungkinan sebab, Ibnu Khaldun melakukan upaya at-taqsîm berlandaskan maqashidsyariah dengan menguatkan pendapat yang kedua.

Ketiga, al-ta’mîm al-hadzr. Salah satu kekurangan penggunaan metode induksi (istiqra’) ialah kesimpulan yang dihasilkan mempunyai sifat dzanni (dugaan) dan tidak pasti. Induksi sendiri merupakan suatu metode penelitian yang berangkat dari hal-hal yang sifatnya parsial (juz’iy) ke yang universal (kulliy). Kekurangan ini tetap dianggap sebagai sebuah masalah oleh Ibnu Khaldun. Akan tetapi melalui metode al-ta’mîm al-hadzr, Ibnu Khaldun berusaha menutupi permasalahan metode induksi tersebut. Dengan metodologinya ini, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menggunakan istilah-istilah khusus untuk menunjukkan tingkat keyakinan teorinya, misalnya: ghâliban (kebanyakan),  fî al-aktsar (sering kali), dan lain sebagainya. [HH]

ShareTweetSend
numesir

numesir

Akun tim redaksi numesir.net 2022-2024. Dikelola oleh Divisi Website Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PCINU Mesir.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah